Garutexpo.com – Warga Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, dibuat geger setelah puluhan orang dari berbagai kelompok usia mendadak mengalami mual dan diare secara bersamaan, Senin (8/6/2026). Sedikitnya 59 warga terpaksa menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Peundeuy, memunculkan dugaan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) akibat keracunan.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat karena para pasien yang datang untuk berobat terdiri dari balita, anak-anak, orang dewasa hingga ibu hamil. Mereka mengeluhkan gejala yang hampir serupa, yakni mual, sakit perut, dan diare.
Informasi yang beredar menyebutkan sekitar 50 warga lebih mendatangi fasilitas kesehatan setelah mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi. Namun hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui.
Tokoh pemuda Kecamatan Peundeuy, Ucu Turun Bahtiar, membenarkan adanya lonjakan jumlah pasien yang datang ke Puskesmas Peundeuy.
“Betul, tadi saya juga sempat datang ke puskesmas. Ada sekitar 50 orang lebih yang memeriksakan kesehatannya. Saya juga menengok beberapa warga dan tetangga yang sedang mendapatkan penanganan medis,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin malam.
Sementara itu, Camat Peundeuy, H. Dani Ramdhani, S.Ag., M.Si., mengatakan berdasarkan data sementara hingga selepas Magrib tercatat sebanyak 59 warga telah menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Data sementara ada 59 warga yang datang ke puskesmas, mulai dari balita, anak-anak hingga ibu hamil. Mereka datang secara bertahap sejak siang hari sampai setelah Magrib,” kata Dani.
Menurutnya, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), mulai dari pihak kecamatan, Polsek, Koramil, pemerintah desa hingga tenaga kesehatan, langsung bergerak melakukan pemantauan dan koordinasi untuk menangani situasi tersebut.
“Kami bersama Kapolsek, Danramil dan para kepala desa masih terus memantau perkembangan kondisi warga serta berkoordinasi dengan pihak kesehatan,” ungkapnya.
Terkait sumber penyebab gangguan kesehatan yang dialami warga, Dani menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kesimpulan resmi. Tim kesehatan dari Kabupaten Garut telah mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
“Penyebab pastinya masih didalami. Petugas kesehatan dari kabupaten juga sudah mengambil sejumlah sampel untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Dari total 59 warga yang menjalani pemeriksaan, sebagian besar telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Namun sekitar 16 orang masih berada dalam observasi tenaga medis guna memastikan kondisi mereka tetap stabil.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, Pemerintah Kecamatan Peundeuy meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi mengenai penyebab kejadian tersebut sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Jika ada warga yang mengalami keluhan kesehatan seperti mual, muntah, atau diare, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat,” tegas Dani.
Ia juga mengungkapkan bahwa di wilayah Kecamatan Peundeuy saat ini terdapat tiga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG), masing-masing untuk sekitar 1.200 penerima manfaat.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah kecamatan telah menginstruksikan para kepala desa untuk menyampaikan imbauan kepada masyarakat hingga tingkat RT dan RW agar lebih teliti sebelum mengonsumsi makanan yang diterima.
“Kami sudah mengimbau para kepala desa agar meneruskan informasi ini sampai ke tingkat bawah. Warga yang menerima makanan MBG diminta memeriksa kondisi makanan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi dan mengikuti petunjuk konsumsi yang telah ditetapkan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti puluhan warga mengalami mual dan diare masih menjadi misteri. Tim kesehatan bersama instansi terkait terus melakukan investigasi guna memastikan sumber kejadian dan mencegah kemungkinan bertambahnya korban.(*)

