Garutexpo.com – Aksi unjuk rasa besar-besaran yang berlangsung di Kabupaten Garut, Selasa (2/9/2025), mendadak menjadi viral di media sosial. Bukan hanya karena jumlah massa yang membludak, tetapi karena momen tak terduga saat Bupati Garut, Syakur Amin, salah mengucapkan sila keempat Pancasila di hadapan ribuan demonstran.
Ratusan mahasiswa dan warga yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersama Masyarakat Garut Menggugat turun ke jalan, menyuarakan berbagai tuntutan terhadap pemerintah daerah. Mereka berkumpul sejak pukul 10.00 WIB di Bunderan Simpang Lima, lalu bergerak menuju Kantor Bupati dan DPRD Garut. Suara orasi, teriakan tuntutan, dan dentuman pengeras suara mewarnai langit Garut hari itu.
Sembilan Tuntutan Menggema di Jalanan
Dalam aksinya, massa membawa sembilan tuntutan utama yang dianggap mewakili keresahan masyarakat:
1. Batalkan kenaikan pajak yang membebani rakyat kecil.
2. Hentikan tunjangan DPRD yang dianggap tidak layak.
3. Sahkan UU Perampasan Aset agar harta koruptor bisa disita negara.
4. Pecat wakil rakyat yang merendahkan konstituennya.
5. Lakukan reformasi menyeluruh di tubuh Polri.
6. Bebaskan tahanan politik tanpa syarat.
7. Wujudkan transparansi anggaran dan kinerja DPRD Garut.
8. Sahkan kode etik DPRD dan pastikan integritas anggota.
9. Pastikan kebebasan berpendapat tanpa intimidasi atau kekerasan.
Di tengah panasnya suasana, Bupati Garut Syakur Amin akhirnya keluar menemui massa. Ia berusaha meredakan ketegangan dengan mengajak mahasiswa dan warga membacakan Pancasila bersama. Sayangnya, momen yang semula dimaksudkan sebagai bentuk simbolis persatuan itu justru menjadi bumerang.
Saat tiba di sila keempat, Bupati terlihat gugup dan keliru menyebutkan bunyinya. Alih-alih mengatakan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,” ia menyebut, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat… musyawarah… perwakilan… eh…”
Sontak massa meneriaki kekeliruan tersebut. Beberapa bahkan langsung merekam momen itu dan menyebarkannya di media sosial. Video itu pun viral hanya dalam hitungan jam, menjadi bahan perbincangan publik dan media lokal.
Reaksi Warganet: Dari Meme hingga Kritik Pedas
Respons publik tak terbendung. Di media sosial, netizen meramaikan tagar BupatiGugup dan SalahSila. Beberapa membuat meme lucu dari cuplikan video tersebut, namun tak sedikit pula yang melayangkan kritik pedas terhadap kelalaian Bupati.
“Gimana mau pimpin daerah kalau ngucap Pancasila aja salah?” tulis salah satu pengguna X (dulu Twitter).
“Gugup sih wajar, tapi masa Pancasila aja gak hafal?” komentar lainnya.
Meski sejumlah pihak membela bahwa situasi tekanan bisa membuat siapa pun keliru, kesalahan ini tetap menjadi catatan penting dalam kepemimpinan Syakur Amin yang belum genap setahun menjabat.
Lebih dari Sekadar Salah Ucap
Bagi mahasiswa, insiden salah ucap hanyalah lapisan terluar dari masalah yang lebih besar. Mereka menilai aksi ini sebagai bentuk kegelisahan terhadap kebijakan daerah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.
“Ini bukan cuma soal salah ucap. Ini soal pemimpin yang gagap menghadapi rakyatnya,” ujar salah satu orator aksi.
“Kalau pemimpin bisa salah di hal paling dasar seperti Pancasila, bagaimana kita bisa yakin mereka benar dalam menyusun kebijakan?” tambahnya.
Aksi ini menjadi ujian serius bagi pemerintah daerah. Selain menghadapi gelombang tuntutan dari masyarakat, kini Bupati Garut juga harus memulihkan citranya yang tercoreng akibat kesalahan publik yang fatal.
Apakah tuntutan masyarakat akan dijawab dengan langkah nyata? Atau justru berakhir sebagai catatan kelam kepemimpinan yang tak mampu menangkap aspirasi rakyat?
Yang jelas, suara dari jalanan Garut hari itu bukan sekadar jeritan marah—tetapi peringatan keras bahwa kepercayaan publik sedang berada di titik kritis(*)













