in

Hanya Rp6 Juta Bisa Bangun TPT 120 Meter di Desa Sukabakti? Kok Bisa?

GARUTEXPO – Warga Desa Sukabakti, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, dibuat penasaran sekaligus kagum oleh pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) jalan tani yang konon menelan anggaran hanya Rp6.000.000. Aneh tapi nyata, TPT tersebut dibangun dengan panjang total sekitar 120 meter di Blok Sempur Desa Sukabakti.

Proyek ini tercatat menggunakan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 dan dikerjakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dari unsur Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan Ketua Dusun setempat.

Volume fisik yang tercantum di papan informasi adalah panjang 8 meter, lebar 0,4 meter, dan tinggi 1,5 meter. Yang menarik, meski nilai anggaran hanya Rp6 juta—sudah termasuk PPN dan PPh—TPT disebut-sebut berhasil dibangun hingga 120 meter panjangnya.

Kepala Desa Sukabakti, Wawan, angkat bicara mengenai keanehan sekaligus pujian atas pembangunan ini.

“Pembangunan TPT ini memang sebagian besar dilakukan secara gotong royong. Selain dana desa, ada juga swadaya masyarakat yang ikut membantu, baik tenaga maupun material,” ujar Wawan kepada wartawan, Selasa, 3 Juni 2025.

Lebih lanjut menerangkan bahwa semangat kebersamaan menjadi kunci utama. “Dengan anggaran minim, hasilnya bisa maksimal karena masyarakat terlibat langsung. Ini harus jadi inspirasi bagi desa-desa lain,” lanjutnya.

Namun, sejumlah pihak mempertanyakan rasionalitas angka tersebut. Pasalnya, secara perhitungan teknis, biaya pembangunan TPT sepanjang 120 meter dengan spesifikasi tersebut diperkirakan membutuhkan dana jauh lebih besar.

Kecurigaan ini muncul bukan sebagai tuduhan, tetapi sebagai dorongan agar pengelolaan dana desa tetap dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Terlepas dari kontroversi nominal, TPT ini dinilai penting untuk menunjang kelancaran akses pertanian juga untuk akses jalan warga menuju ke pemakaman sempur. Tembok penahan tanah berfungsi mencegah longsor dan menjaga struktur jalan tani agar tetap stabil, terutama di musim hujan.

Proyek TPT Desa Sukabakti menjadi sorotan, bukan hanya karena panjang dananya yang dianggap “tidak masuk akal”, tetapi juga karena menunjukkan bagaimana gotong royong masyarakat masih bisa menjadi kekuatan utama dalam pembangunan desa.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Bupati Garut Ingatkan Sumpah PNS Bukan Basa-Basi, Ada Pesan Khusus soal Direktur RSUD dr. Slamet

Tingkatkan Layanan Air Bersih, Perumda Tirta Intan Garut Jalin Kolaborasi Strategis dengan PT Pupuk Indonesia Utilitas