GARUTEXPO – Pemerhati anak Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto melontarkan kritik keras terhadap fenomena viral di media sosial yang memperlihatkan anak-anak merasa takut akan dijemput oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, jika mereka tidak patuh kepada orang tua.
Fenomena tersebut muncul setelah beredarnya video Dedi Mulyadi yang memperingatkan bahwa anak-anak nakal akan dibawa ke barak militer. Video ini lantas digunakan oleh sejumlah orang tua sebagai alat ancaman agar anak menurut dan tidak berbuat nakal.
Menanggapi hal itu, Kak Seto menegaskan bahwa pendekatan seperti itu tidak patut digunakan dalam dunia pendidikan anak. Ia menyebut, pendidikan semestinya dilakukan dengan pendekatan yang lembut, bukan dengan cara menakut-nakuti.
“Menurut saya tidak benar. Karena bagaimana juga kan mendidik itu bukan membidik, mengajar bukan menghajar. Jadi tidak dengan cara kekerasan, tidak dengan ancaman. Dan pendidikan itu maknanya menumbuhkan potensi anak. Menumbuhkan potensi anak yang saling berbeda,” tegas Kak Seto, Jumat (10/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa pendekatan berbasis ancaman justru berbahaya bagi perkembangan psikologis anak. Anak yang sering diancam atau ditakut-takuti berisiko mengalami trauma, bahkan bisa menarik diri dari lingkungan sosialnya.
“Jangan sampai pendidikan itu ada unsur paksaan, ancaman, seolah anak hanya robot saja. Anak adalah subyek yang mempunyai potensi yang akan berkembang,” ujarnya.
Kak Seto juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam memberikan pendidikan yang positif di lingkungan keluarga. Menurutnya, rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orang tua adalah guru yang paling utama.
“Pendidikan yang utama itu di rumah, bukan hanya di sekolah. Kalau orang tua bisa menjadi sahabat anak, maka akan tercipta suasana yang aman dan penuh kasih. Di sanalah anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan sehat secara emosional,” tuturnya.
Ia menambahkan, pendekatan kekerasan dan ancaman hanya akan membuat anak bereaksi dengan cara yang tidak sehat.
“Tidak dengan cara kekerasan. Dengan cara kekerasan anak justru akan lari antara fight atau flight,” tandasnya.(*)













