Garutexpo.com – Dugaan pencemaran limbah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cicatur, tepatnya di Kampung Citeureup, Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, menuai sorotan dari warga setempat. Peristiwa ini memicu keresahan setelah ribuan ikan milik warga dilaporkan mati secara mendadak akibat diduga terkontaminasi limbah, Sabtu (14/03/2026).
Sejumlah warga yang memiliki kolam ikan di wilayah tersebut mengaku mengalami kerugian besar. Pasalnya, berbagai jenis ikan seperti bawal, nila, dan lele tiba-tiba mati secara serentak tanpa diketahui penyebab pastinya.
Salah seorang pengelola kolam ikan, IW (45), mengatakan kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi. Ia menyebut peristiwa kematian massal ikan sudah beberapa kali dialami para petani ikan di wilayah tersebut.
“Peristiwa kematian ikan secara serentak ini terjadi pada Jumat, 3 Maret 2026. Ribuan ikan berbagai jenis mati mendadak di kolam. Kami menduga ada limbah yang masuk ke aliran Sungai Cicatur,” ujar IW saat ditemui awak media di lokasi kolam miliknya, Sabtu (14/03/2026).
IW menambahkan, kejadian serupa sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 2024 lalu. Saat itu, sejumlah kolam ikan milik warga di Kampung Citeureup, Bulud, dan beberapa kampung lainnya mengalami kematian massal ikan secara bersamaan.
Menurutnya, warga bahkan sempat mendatangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut dan melakukan audiensi di aula kantor DLH untuk menyampaikan keluhan. Namun hingga kini, warga mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait penyebab pasti pencemaran tersebut.
“Kami sudah pernah datang dan mengadukan persoalan ini ke DLH, tapi sampai sekarang belum ada titik terang. Warga masih menunggu solusi yang jelas dari pemerintah,” katanya.
IW juga menyayangkan adanya anggapan dari sejumlah pihak yang justru menyalahkan petani ikan, khususnya terkait keberadaan kandang ayam di atas kolam yang dianggap menjadi penyebab kematian ikan.
“Iya memang ada kandang ayam di atas kolam, tapi kejadian kematian ikan ini sudah terjadi sampai tiga kali dalam setahun, bahkan sering terjadi menjelang masa panen. Jadi kami juga bingung apa sebenarnya penyebabnya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pada bulan ini saja beberapa kolam ikan milik warga lainnya juga mengalami kejadian serupa, di mana seluruh ikan di kolam mati secara bersamaan.
Namun hingga kini warga belum dapat memastikan dari mana asal limbah yang diduga mencemari aliran Sungai Cicatur tersebut.
“Kami belum tahu apakah limbah itu berasal dari perusahaan yang sengaja membuang limbah ke sungai atau dari sumber lain. Sampai sekarang masih menjadi misteri,” tambah IW.
Sementara itu, Ketua LSM DPP GAPERMAS Kabupaten Garut, Asep Mulyana, S.Pd.I, menegaskan bahwa dugaan pencemaran lingkungan tersebut tidak boleh dianggap sepele dan harus segera ditangani secara serius oleh pemerintah daerah.
“Isu pembuangan limbah ke aliran Sungai Cicatur ini harus segera ditindaklanjuti. Jika benar terjadi pencemaran, tentu sangat berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” tegas Asep.
Ia menyatakan pihaknya akan melayangkan surat audiensi kepada Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Komisi II yang membidangi lingkungan untuk meminta penanganan serius terhadap permasalahan tersebut.
“Kami akan melayangkan surat audiensi kepada Komisi II DPRD Garut agar persoalan ini segera ditangani. Pemerintah daerah harus turun tangan menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Asep juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti mengawal kasus dugaan pencemaran tersebut. Bahkan jika tidak ada respons serius dari pemerintah daerah, pihaknya siap membawa persoalan ini hingga ke tingkat kementerian.
“Jika di tingkat kabupaten tidak ada langkah nyata, kami siap mengawal persoalan ini sampai ke Kementerian Lingkungan Hidup di pusat. Masalah pencemaran lingkungan tidak bisa dianggap remeh,” ujarnya.
Para petani ikan di wilayah Kadungora pun berharap Pemerintah Kabupaten Garut, khususnya Dinas Lingkungan Hidup serta anggota DPRD Komisi II, segera turun ke lapangan untuk melakukan investigasi dan memberikan solusi atas permasalahan yang mereka alami.
“Kami sangat berharap pemerintah dan wakil rakyat bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Kami hanya ingin tahu penyebabnya dan ada solusi agar kejadian seperti ini tidak terus terulang,” tandas IW.
(Tim Redaksi)

