GARUTEXPO – Pemuda Akhir Jaman melakukan audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut untuk membahas penanganan sampah dan limbah kulit yang ada di Kabupaten Garut. Pertemuan tersebut berlangsung di aula kantor DLH, Jalan Pahlawan, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu, 26 Juni 2024 pukul 15.00 WIB.
Audiensi ini dihadiri oleh sejumlah anggota Pemuda Akhir Jaman, pejabat dari DLH, serta aparat kepolisian dan TNI. Dalam kesempatan tersebut, Jajang Badrujaman, yang akrab disapa Abah Muda 212, menyampaikan beberapa masalah yang dihadapi oleh masyarakat terkait dengan pengelolaan sampah dan limbah kulit yang masih kurang optimal. Mereka berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi yang efektif untuk menangani permasalahan tersebut.
“Kami berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini, karena dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Abah Muda 212.
Kepala DLH Kabupaten Garut, Jujun Juansyah, menyampaikan bahwa banyak masukan diterima, mulai dari isu persampahan, limbah, hingga tata kelola sampah di jalan agar tidak berantakan. “Kami mendapat banyak masukan yang akan menjadi acuan bagi kami di Lingkungan Hidup, mulai dari isu persampahan, limbah, hingga tata kelola sampah di jalan agar tidak berantakan. Kami juga berharap limbah padat di Sukaregang bisa segera terselesaikan,” ujar Jujun kepada sejumlah awak media usai melakukan audensi tersebut.
Jujun juga menyoroti kekurangan alat seperti mobil pengangkut sampah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi DLH. “Kami melihat kekurangan armada pengangkut sampah menjadi PR yang harus segera diremajakan. Ini penting untuk meningkatkan kinerja kami dalam pengangkutan sampah ke TPA dan menjadi prioritas utama, walaupun dilakukan secara bertahap,” jelasnya.
Saat ini, DLH Kabupaten Garut mengoperasikan 37 armada truk dan 3 armada pick-up untuk pengangkutan sampah. Mengenai anggaran, Jujun menyatakan bahwa kendala klasik seperti anggaran yang terbatas menjadi tantangan tersendiri. “Kami harus sadar akan kemampuan fiskal kita dan berupaya untuk bekerja seoptimal dan seefektif mungkin tanpa terganggu oleh keterbatasan anggaran,” sambungnya.
Ketika di tanya soal masalah tumpukan sampah yang terus-menerus menjadi sorotan di Garut. DLH Garut telah mengajak pegiat-pegiat atau komunitas lingkungan untuk membantu dalam edukasi dan memberikan contoh kepada masyarakat. “Kami sudah beberapa kali bekerja sama dengan komunitas lingkungan untuk membantu dalam edukasi dan memberikan contoh kepada masyarakat. Bantuan dari komunitas ini sangat dibutuhkan,” kata Jujun.
Abah Muda 212 juga menyampaikan keluhan dari masyarakat mengenai tumpukan sampah di pinggir jalan yang merusak pemandangan dan menimbulkan penyakit.
“Tumpukan sampah di Kecamatan Samarang, di atas jembatan, sering kali berhamburan ke sungai dan mencemari air,” ujarnya.
DLH Kabupaten Garut diharapkan dapat mengambil tindakan segera untuk menyelesaikan masalah ini. Jika tidak? Kami akan mengajukan aspirasi ke Komisi DPRD dan Pemerintah Kabupaten Garut, serta akan mengadakan aksi besar-besaran jika aspirasi meraka tidak didengar.
“Kami berharap aspirasi kami didengar oleh DLH dan Pemerintah Kabupaten Garut. Jika tidak, kami akan mengadakan aksi besar-besaran. Namun, kami tetap berharap bahwa komunikasi dengan DLH yang hari ini sangat komunikatif akan menghasilkan solusi yang baik,” kata Abah Muda 212.(*)
























