Garutexpo.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, kini menjadi sorotan tajam publik. Hal ini menyusul pengunduran diri dua petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang disertai berbagai catatan persoalan internal.
Dua petugas tersebut, Rivaldo B. Moat Raja (ahli gizi) dan Eva Pebi Sukmawati (pengawas keuangan), resmi mengundurkan diri terhitung sejak 11 Maret 2026. Surat pengunduran diri keduanya bahkan beredar luas di masyarakat dan ditujukan kepada Satuan Kerja Badan Gizi Nasional.
Dalam keterangannya, Rivaldo mengungkap sejumlah kendala selama menjalankan tugas. Ia menyebut adanya intervensi dari pihak tertentu, keterbatasan fasilitas, hingga beban kerja yang melebihi porsi akibat kurangnya koordinasi.
“Dapat intervensi dari pihak koperasi, kuantitas menu saya terus dikritik oleh pihak PM, fasilitas kurang mendukung, serta pekerjaan melebihi porsi karena kurangnya kerja sama dengan pihak terkait,” tulisnya.

Sementara itu, Eva Pebi Sukmawati mengungkap persoalan yang lebih luas, khususnya terkait pengelolaan operasional dan keuangan. Ia menyoroti dugaan mark up harga oleh pihak koperasi, kualitas barang yang dinilai buruk, serta ketidaksesuaian antara barang yang diterima dengan dokumen pengadaan.
Eva juga menyebut adanya dugaan intervensi dan intimidasi dari pihak yayasan, mitra, hingga oknum tertentu. Selain itu, ia menyoroti praktik pemotongan gaji karyawan tanpa sepengetahuan pengawas keuangan, penggunaan inventaris untuk kepentingan pribadi, hingga operasional dapur yang disebut berjalan tanpa pengawasan ahli gizi pada waktu tertentu.
Ia menegaskan bahwa dirinya bersama ahli gizi telah menyelesaikan penyusunan menu dan dokumen pemesanan bahan baku hingga 12 Maret 2026. Setelah itu, ia menyatakan tidak lagi bertanggung jawab atas pengelolaan menu maupun pengadaan bahan.
“Apabila setelah itu terjadi ketidaksesuaian atau masalah, maka bukan menjadi tanggung jawab kami,” tegasnya.
Persoalan ini semakin mencuat setelah muncul keluhan dari para siswa terkait kualitas makanan MBG. Senin (6/4/2026), sejumlah siswa SDN Bojong Banjarwangi mengeluhkan nasi yang berbau serta lauk sayur atau tumisan yang diduga basi. Keluhan tersebut terekam dalam video yang beredar di media sosial, bahkan banyak makanan yang tidak dikonsumsi oleh siswa.
Menanggapi hal tersebut, Aka Sudrajat, seorang aktivis di Banjarwangi, mengungkap bahwa SPPG tersebut sebelumnya pernah mengalami penutupan sementara yang diduga berkaitan dengan persoalan internal.
Ia juga menyoroti distribusi MBG yang dinilai tidak tepat waktu. “Dulu pengiriman makanan sampai jam 3 sore, sehingga siswa harus menunggu lama. Padahal biasanya MBG dibagikan sekitar jam setengah 10 atau jam 11 siang,” ujar Aka saat di konfirmasi garutexpo.com, melalui sambungan WhatsApp, Senin (6/4/2026)
Sementara itu, saat dikonfirmasi Senin (6/4/2026) melalui sambungan WhatsApp, pihak SPPG Bojong, Kecamatan Banjarwangi, melalui Elis, belum memberikan keterangan resmi terkait beredarnya surat pengunduran diri maupun berbagai persoalan yang mencuat.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan serius mengenai tata kelola, transparansi, serta pengawasan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di daerah.****













