GARUTEXPO – Dalam rangka Hari Jadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet Garut ke-102 dan Hari Jadi Garut, RSUD dr. Slamet Garut mengadakan kegiatan Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing bekerja sama dengan RSU Hasan Sadikin Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD dr. Slamet Garut, Kecamatan Tarogong Kidul, Sabtu (15/6/2024).
Direktur Utama UOBK RSUD dr. Slamet, dr. H. Husodo Dewo Adi, SpOT (K) Spine, FICS, menyatakan bahwa kegiatan bakti sosial operasi bibir sumbing dan operasi celah pada langit-langit ini dilakukan sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Garut dan Hari Jadi RSUD dr. Slamet.
“Jumlah pasien yang mengikuti bakti sosial pada hari ini adalah sebanyak 26 orang dari 28 pasien yang mendaftar,” ujarnya.
Menurut Husodo, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat yang tidak mampu, khususnya pasien-pasien yang memiliki bibir sumbing dan celah pada langit-langit.
“Masyarakat yang tidak mampu tidak perlu jauh-jauh ke Bandung karena di sini sudah ada dokter bedah plastik yang kompeten untuk melakukan operasi bibir sumbing ini,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan bakti sosial celah bibir dan langit-langit sudah dilakukan dua kali dalam setahun guna mengatasi masalah ini di Kabupaten Garut. “Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, rumah sakit dapat membantu memberantas masalah-masalah kesehatan di Kabupaten Garut,” imbuhnya.
Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Garut, Bambang Hafidz, menyatakan bahwa pemerintah daerah sangat mengapresiasi kegiatan ini, terutama karena menyasar para penderita celah bibir dan langit-langit di Kabupaten Garut.
“Kami dari pemerintahan daerah mengucapkan terima kasih kepada tim dokter bedah plastik. Operasi ini gratis, tidak dipungut biaya. Mengingat biaya yang cukup besar dan akses ke Bandung yang sulit bagi masyarakat kecil, ini sangat membantu,” tuturya.
Bambang juga menekankan bahwa kegiatan ini sangat membantu masyarakat di Kabupaten Garut, terutama mereka yang tidak mampu.
“Untuk pasien yang ke Bandung cukup banyak, artinya kita harus mengantisipasi pencegahannya. Selain faktor genetik, ada juga faktor lain yang perlu diperhatikan agar tidak ada lagi bayi lahir dengan bibir sumbing,” pungkasnya.(*)






























