in

Refleksi Kritis Hari Jadi Garut di Tengah Krisis

Garutexpo.com – Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 pada tahun 2026 ini seharusnya bukan sekadar seremoni tabur bunga atau kemeriahan parade semata. Di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan lokal yang kian nyata, perayaan ini menuntut sebuah refleksi kritis: Apakah Garut sedang bertumbuh, atau sekadar bertahan hidup?. Dua abad lebih usia Garut bukanlah waktu yang singkat. Namun, merayakan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 di tahun 2026 ini dengan pesta pora di tengah himpitan ekonomi masyarakat adalah sebuah ironi yang menyakitkan. Kita tidak butuh sekadar parade; kita butuh komitmen nyata.

Seringkali, anggaran besar dikucurkan untuk mempercantik pusat kota demi menyambut hari jadi. Ini tak ubahnya semacam gemerlap estetika yang berkontrakdiksi dengan realitas sosial. Di balik itu, secara kritis kita harus bertanya sejauh mana kemeriahan di Alun-alun Garut dan titik lainnya dirasakan oleh petani di Cikajang atau nelayan di Rancabuaya yang sedang berjuang dengan kenaikan biaya produksi?. Ingat, Garut masih memiliki rapor merah terkait angka kemiskinan di Jawa Barat. Perayaan tanpa kebijakan transformatif hanya akan menjadi kosmetik di atas luka sosial.

Di lain sisi, Garut yang menyandang julukan indah Swiss Van Java, namun secara ekologis sedang mengalami krisis. ​Bencana tahunan seperti banjir bandang dan longsor seolah menjadi tamu tak diundang yang rutin datang. Refleksi HJG harus menyentuh tata kelola hulu sungai dan alih fungsi lahan hutan yang ugal-ugalan. ​Pertanyaan besarnya adalah apakah perayaan tahun ini sudah mencerminkan komitmen terhadap pemulihan lingkungan sebagai bagian dari prinsip pembangunan berkelanjutan, atau hanya fokus pada eksploitasi lahan tanpa limit?. Kita menuntut kebijakan tata ruang yang tegas, bukan sekadar penanaman pohon simbolis di depan kamera.

Pada sisi ekonomi, Garut sebenarnya memiliki potensi UMKM yang luar biasa (kuliner, kulit, tenun dan lainnya). Namun, di tengah krisis, masih sangat banyak perajin lokal yang tergilas oleh produk impor di platform e-commerce. Lebih jauh lagi jika kita melihat potensi Garut sebagai daerah agraris, sangat ironis jika masyarakatnya masih bergulat dengan harga pangan yang fluktuatif. HJG harusnya menjadi momentum evaluasi kedaulatan pangan lokal dan jawaban atas pertanyaan besar mengenai kemandirian ekonomi di tengah resiliensi.

Krisis menuntut gerak cepat (agile). Hari Jadi adalah waktu yang tepat untuk mengaudit kinerja pelayanan publik. Pintu masuknya adalah dengan menuntut hadirnya birokrasi transformatif. Apakah birokrasi kita sudah mempermudah investasi yang menyerap tenaga kerja lokal?, ataukah prosedur masih berbelit sementara angka pengangguran muda terus meningkat?

Catatan Kritis:

Menjadi “Tata Tentrem Kerta Raharja” bukan sekadar slogan di atas spanduk. Ia adalah mandat bagi setiap pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa kemajuan diukur dari isi piring masyarakat paling bawah, bukan dari megahnya panggung hiburan tahunan. ​Hari Jadi Garut di tengah krisis adalah pengingat bahwa resiliensi (daya tahan) warga Garut itu hebat, namun tidak boleh terus-menerus “diuji” oleh kebijakan yang tidak berpihak. Perayaan terbaik adalah lahirnya kebijakan yang mampu menurunkan angka stunting, memperbaiki jalan rusak di pelosok, dan menjaga hutan tetap hijau. Mari jadikan HJG 213 sebagai titik balik: berhenti memuja seremonial, mulai bekerja untuk substansi.

Ditulis oleh: ​Abah Muda 212.

Ditulis oleh Kang Zey

Dari Media Sosial ke Jeruji Besi! Satresnarkoba Polres Garut Bongkar Peredaran Tembakau Sintetis, 14 Paket Diamankan

Keluar Rumah Pagi Buta, Onih Kurniawati Belum Kembali; Keluarga Mohon Bantuan Warga