Garutexpo.com — Semangat merawat kerukunan, memperkuat persaudaraan, dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan mewarnai penyelenggaraan Dialog Multikultural dan Simposium Lintas Iman di Gedung Pendopo Garut, Selasa (13/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, Balai Khitan Baseban turut mengambil bagian sebagai bentuk dukungan terhadap upaya membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, inklusif, dan saling menghormati.
Kegiatan yang mengusung semangat “Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman” ini menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan untuk memperkuat toleransi, memperluas pemahaman lintas agama, serta meneguhkan pentingnya nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Keterlibatan Balai Khitan Baseban menjadi bagian dari semangat kolaborasi antarelemen masyarakat dalam mendukung kegiatan yang mengedepankan persaudaraan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Dialog tersebut juga mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Adat Sunda Kabupaten Garut, Kang Oos Supyadin, SE., MM. Ia menilai, pertemuan lintas iman memiliki arti penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat Garut yang kaya akan keberagaman agama, tradisi, dan budaya.
Menurutnya, merawat kerukunan tidak cukup hanya dengan saling menghormati, tetapi harus diwujudkan melalui komunikasi yang terbuka, kerja sama yang nyata, serta komitmen bersama untuk menjaga martabat setiap manusia.
“Nilai kemanusiaan harus menjadi titik temu di tengah perbedaan. Kita bisa memiliki keyakinan dan latar belakang budaya yang berbeda, tetapi tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persaudaraan, menghormati sesama, dan menciptakan kehidupan yang damai,” demikian pesan yang sejalan dengan apresiasi Dewan Adat Sunda Kabupaten Garut terhadap kegiatan tersebut.
Kearifan Sunda Menjadi Landasan Merawat Persaudaraan
Dalam perspektif budaya Sunda, nilai silih asah, silih asih, silih asuh menjadi landasan penting untuk membangun kehidupan sosial yang rukun dan bermartabat.
Filosofi tersebut mengajarkan masyarakat untuk saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling membimbing tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun latar belakang sosial.
Kang Oos memandang bahwa kearifan lokal tersebut tetap relevan di tengah tantangan zaman. Nilai-nilai budaya tidak hanya perlu dilestarikan sebagai warisan leluhur, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun komunikasi yang sehat antarkelompok masyarakat.
Melalui dialog lintas iman, perbedaan diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk memperkokoh persatuan dan memperluas kerja sama dalam berbagai bidang kehidupan.
Mempertemukan Agama, Filsafat, dan Budaya
Simposium ini menghadirkan pembahasan mengenai titik temu nilai-nilai Islam, Konfusianisme, Buddhisme, Katolik, serta kearifan budaya Sunda dalam membangun harmoni kemanusiaan.
Sejumlah narasumber yang dijadwalkan mengisi forum tersebut antara lain Prof. Dr. H. Bambang Q. Anees, Ketua Lakpesdam NU Jawa Barat; Erwindy Fayan Leonardus Liu, perwakilan Konghucu; Drs. Ahmad Gibson Al-Bustomi, M.Ag., akademisi dan peneliti senior filsafat agama serta budaya Sunda; KH. Rd. Abdul Qohar Al-Qodsy, Lc., mantan Ketua Umum DTN Persada; perwakilan ahli filsafat Buddhisme; serta Romo Wilfred HaripahIwan Angkasa, S.S., M.Hum., JCL, Pastor Paroki Bunda Maria Garut.
Pertemuan berbagai perspektif tersebut diharapkan membuka ruang pertukaran gagasan yang konstruktif mengenai peran agama, filsafat, dan budaya dalam menjawab tantangan sosial, memperkuat solidaritas, serta membangun masyarakat yang lebih terbuka dan beradab.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Tanfidzi Kabupaten (DTK) Persada 212 Garut bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Garut.
Perlindungan Anak dan Kepedulian Sosial Jadi Perhatian
Selain membahas toleransi dan kerukunan antarumat beragama, dialog ini juga mengangkat isu perlindungan anak sebagai bagian penting dari upaya menegakkan nilai kemanusiaan.
Terwujudnya lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, mulai dari keluarga, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, pendidik, akademisi, hingga komunitas sosial.
Perlindungan terhadap anak bukan hanya persoalan satu lembaga atau kelompok tertentu. Hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama demi memastikan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, memperoleh penghormatan terhadap hak-haknya, serta terhindar dari berbagai bentuk kekerasan.
Semangat kepedulian sosial ini sejalan dengan pentingnya peran berbagai komunitas dan lembaga pelayanan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih manusiawi.
Dalam konteks tersebut, partisipasi berbagai unsur masyarakat, termasuk Balai Khitan Baseban, menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan dan mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap sesama.
Seni Budaya Menjadi Jembatan Antarperbedaan
Suasana multikultural dalam kegiatan tersebut turut diperkaya dengan kolaborasi seni budaya yang menampilkan debus, pencak silat, dan barongsai dari Vihara Dharma Loka.
Perpaduan kesenian tersebut menjadi gambaran bahwa kebudayaan dapat menjadi bahasa universal yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Seni dan tradisi bukan sekadar pertunjukan, melainkan juga sarana untuk membangun saling pengertian, menghargai identitas masing-masing, serta memperkuat hubungan antarkomunitas.
Melalui ruang kebudayaan yang terbuka, masyarakat diajak memahami bahwa keberagaman merupakan kekayaan yang patut dirawat bersama.
Deklarasi Harmoni Kemanusiaan Diharapkan Berlanjut dalam Aksi Nyata
Salah satu agenda yang direncanakan dalam kegiatan ini adalah penandatanganan deklarasi bersama untuk harmoni kemanusiaan. Deklarasi tersebut diharapkan menjadi penegasan komitmen moral berbagai pihak dalam menjaga toleransi, memperkuat persaudaraan, dan melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak.
Bagi Dewan Adat Sunda Kabupaten Garut, menjaga keharmonisan lintas iman merupakan bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai luhur budaya yang menempatkan kemanusiaan, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama sebagai fondasi kehidupan bersama.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat dalam forum tersebut, termasuk Balai Khitan Baseban, memperlihatkan pentingnya membangun kolaborasi lintas komunitas agar semangat persaudaraan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Lebih dari sekadar pertemuan, dialog lintas iman diharapkan menjadi awal dari gerakan bersama melalui pendidikan, pelayanan sosial, kegiatan kebudayaan, dan berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan ini jelas: perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami dan bekerja sama demi kemanusiaan.
Dengan semangat tersebut, Kabupaten Garut diharapkan terus menjadi ruang tumbuhnya toleransi, persaudaraan, dan kepedulian sosial, tempat agama, budaya, serta berbagai elemen masyarakat berjalan beriringan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, adil, dan bermartabat.(*)

