Garutexpo.com — Slogan “Garut Hebat” yang digemakan oleh Pemerintah Kabupaten Garut di bawah kepemimpinan Bupati Prof. Dr. H. Abdusy Syakur Amin dan Wakil Bupati Hj. Luthfianisa Putri Karlina, mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA), Holil Aksan Umarzen, menyampaikan kritik terbuka terhadap realita sosial yang dinilai jauh dari semangat slogan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan tertulisnya, Holil mempertanyakan makna dari “Garut Hebat” jika tidak disertai dengan perbaikan nyata terhadap nasib rakyat. “Hebat itu bukan sekadar slogan di baliho atau desain digital. Hebat itu ketika rakyat merasakan perubahan nyata, bukan hanya melihat janji-janji di layar ponsel,” tegasnya, Selasa (29/7/2025).
Aspirasi Rakyat Diabaikan
Salah satu hal yang disoroti adalah minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap aspirasi pemekaran wilayah, khususnya pemekaran Kabupaten Garut Utara dan Garut Selatan. Holil menyayangkan tidak adanya dukungan konkret dari Pemerintah Kabupaten Garut saat Anggota DPD RI, Anya Dewi, melakukan kunjungan kerja resmi ke Garut untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait pemekaran tersebut.
“Kunjungan Bu Anya adalah momen strategis yang seharusnya dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk menunjukkan keberpihakan pada suara rakyat. Tapi tidak ada forum, tidak ada pernyataan sikap, tidak ada sinyal dukungan. Lalu, bagian mana yang disebut hebat?” ujar Holil.
Program Hebat, Realisasi Masih Dipertanyakan
PM GATRA juga mempertanyakan realisasi sejumlah janji kampanye dan program unggulan Pemkab Garut, seperti:
Bantuan modal usaha sebesar Rp1–50 juta untuk UMKM
Bantuan sosial Rp2 juta bagi keluarga miskin
Penciptaan 100.000 lapangan kerja
Pelayanan publik yang cepat, digital, dan transparan
Holil menantang pemerintah untuk menunjukkan data konkret penerima manfaat di wilayah-wilayah pinggiran seperti Cilawu, Bungbulang, Leuwigoong, dan Cibatu. Ia juga mempertanyakan apakah bantuan tersebut benar-benar sampai ke rakyat tanpa muatan politik, serta apakah pelayanan birokrasi sudah bersih dari pungutan liar.
“Jika rakyat masih harus mengemis bantuan, jika perangkat desa masih dikelilingi calo dan birokrasi lamban, lalu di mana hebatnya Garut ini?” tandasnya.
Antara Branding dan Bukti
Holil mengakui niat baik pemerintah patut diapresiasi. Namun, menurutnya, niat saja tidak cukup tanpa langkah nyata yang transparan dan bisa dievaluasi secara terbuka oleh publik.
“Hebat itu bukan tentang popularitas branding, tapi soal hasil yang bisa dirasakan langsung oleh rakyat kecil. Dibutuhkan peta jalan, laporan capaian, dan ruang evaluasi bersama masyarakat,” ujarnya.
Harapan: Pemerintah Hadir dengan Nurani
Sebagai penutup, Holil menegaskan bahwa Garut akan benar-benar hebat jika para pemimpinnya bekerja dengan nurani, membela yang lemah, dan menghadirkan keadilan di setiap sudut desa hingga kota.
“Hebat itu ketika rakyat tidak perlu lagi mengemis haknya, karena pemerintah sudah hadir dengan hati dan akal sehat. Jika itu terjadi, baru layak kita sebut: Garut Hebat,” tuturnya.(*)






























