GARUTEXPO – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, menegaskan pentingnya peran kepala desa dan kepala kelurahan dalam implementasi Program Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) dalam acara koordinasi sosialisasi pokjanal Posyandu di era integrasi layanan primer. Program ILP merupakan inisiatif penting dalam transformasi pelayanan kesehatan primer yang bertujuan untuk mengintegrasikan layanan kesehatan di tingkat desa dan kelurahan.
“Program ini bertujuan untuk memperkuat kepala desa dalam pelaksanaan ILP, yang mencakup integrasi berbagai layanan kesehatan di tingkat desa, termasuk rumah sehat, pos kesehatan desa (Posyandu), puskesmas, dan pustu,” jelas dr. Leli Yuliani kepada sejumlah awak media di hotel harmoni, Garut, Senin, 30 Juli 2024.
Lebih lanjut, Leli mengatakan bahwa tujuan dari ILP adalah menjadikan pelayanan kesehatan lebih terintegrasi dan efektif di tingkat desa.
“Kami telah memberikan bantuan berupa reagen dan alat kesehatan (alkes) untuk pustu-pustu agar program ini dapat dijalankan dengan baik,” ujarnya.
ILP merupakan perluasan dari proyek percontohan yang sebelumnya dilaksanakan di Banjar Wangi. “Kami memperluas dari dua pustu menjadi 68 pustu. Harapannya, semakin banyak desa yang dapat menerapkan sistem ini ke depan. Penyesuaian ini dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan ketersediaan anggaran,” terang Leli.
Dengan dukungan dan pemahaman yang baik dari kepala desa, diharapkan program ILP dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat di Kabupaten Garut.
Sementara itu, Kepala Desa Sukawangi, H. Emay Sumarna, menyampaikan pencapaian dan tantangan dalam pelayanan Posyandu (Pustu) di desanya. Dalam wawancara, H. Emay menyebutkan bahwa desa mereka mendukung penuh keberadaan bidan desa dan tenaga medis yang aktif di masyarakat.
“Alhamdulillah, bidan desa dan petugas kesehatan kami selalu eksis dan rutin melakukan kunjungan ke masyarakat, terutama dalam program penanganan ibu hamil dan stunting,” kata H. Emay.
Namun, H. Emay juga mengakui adanya kekurangan fasilitas di Pustu, termasuk pengadaan alat dan obat-obatan. “Banyak fasilitas yang masih kurang memadai. Kami berharap masalah ini dapat segera diperhatikan dan ditangani dengan baik,” sambungnya.
Meski menghadapi kekurangan, antusiasme masyarakat terhadap Pustu cukup tinggi. “Warga sangat antusias datang ke Pust

u, meski fasilitas saat ini belum memadai,” ungkap H. Emay.
H. Emay berharap agar pemerintah desa dan pihak terkait terus memperhatikan serta meningkatkan fasilitas dan layanan di Pustu. Ia juga mengapresiasi penurunan kasus stunting di desanya dari 14 kasus menjadi beberapa orang.
“Alhamdulillah, ada penurunan kasus stunting. Kami akan terus berupaya menjaga dan meningkatkan pelayanan kesehatan di desa kami,” tutur H. Emay.(*)






























