GARUTEXPO– Kata Maenpo dalam bahasa Kirata Sunda berarti “Maen Poho,” yang berasal dari gabungan kata “maen” (gerakan) dan “poho” (lupa), yang dapat diartikan sebagai “menipu gerakan.” Seiring waktu, istilah ini disingkat menjadi Maenpo. Asal usul Maenpo diyakini berasal dari Tatar Sunda bagian selatan, seperti Garut, Tasikmalaya, atau Cianjur.
Sejarah Maenpo erat kaitannya dengan pencipta aliran Cimande, yaitu Abah Kahir. Beberapa sumber menyebutnya sebagai Abah Sakir, Abah Khaer, atau nama lain. Pencak silat aliran Cimande sering disebut juga Maenpo Cimande, mengaitkan langsung dengan tradisi ini.
Abah Kahir belajar bela diri dari istrinya yang juga ahli dalam beladiri. Istrinya pernah menyaksikan pertarungan antara seekor harimau dan dua monyet, satu membawa ranting dan yang lainnya bertangan kosong. Dari peristiwa tersebut, Sang Istri menciptakan jurus pamacan, pamonyet, dan pepedangan, yang kini merupakan bagian dari aliran ini.
Kemampuan Abah Kahir dalam bela diri membuatnya diangkat sebagai pamuk (guru bela diri) di lingkungan kabupaten oleh Bupati Cianjur, Rd. Aria Wiratanudatar VI (1776-1813), yang dikenal dengan nama Dalem Enoh. Bupati Aria Wiratanudatar VI memiliki empat anak: Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong), Rd. Aria Natanagara (Rd. Haji Muhammad Tobri), Nyi Rd. Meumeut, dan Rd. Aom Abas (kemudian menjadi Bupati Limbangan-Garut dengan gelar Aria Wiratanudatar VII).
Salah satu nama penting dalam sejarah ini adalah Aria Wiranagara (Aria Cikalong), murid terbaik Abah Kahir, yang cucunya kemudian menciptakan aliran baru setelah Bupati Aria Wiratanudatar VI meninggal dunia pada tahun 1813.
Pada tahun 1815, Abah Kahir pindah ke Bogor mengikuti anak Bupati Cianjur, Rd. Aria Natanagara, yang menjadi Bupati di Bogor. Abah Kahir tinggal di Kampung Tarik Kolot – Cimande hingga wafat pada tahun 1825. Ia memiliki lima anak: Endut, Ocod, Otang, Komar, dan Oyot, serta murid-murid yang menyebarkan Maenpo Cimande ke seluruh Tatar Sunda. Salah satu muridnya, Ace, meninggal di Tarikolot Cimande, dan keturunannya masih dikenal sebagai sesepuh pencak silat Cimande Tarikolot Kebon Jeruk Hilir.
Abah Kahir juga pernah mengunjungi Sumedang di era Pangeran Kornel. Berdasarkan buku oleh Rd. Memed Sastradiprawira, Abah Kahir digambarkan sebagai sosok yang selalu berpakaian kampret dan celana pangsi hitam, serta ikat kepala merah. Penampilannya di atas panggung sangat ekspresif, dengan tubuh yang berisi dan terlatih, menunjukkan semangat dan kewaspadaan yang tinggi dalam setiap gerakan.
Demikianlah sejarah Maenpo, sebuah warisan budaya leluhur Sunda yang patut kita lestarikan.
Ditulis Oleh: Kang Oos Supyadin, Pemerhati Kesejarahan & Budaya






























