GARUTEXPO – Satu per satu kesenian khas Jawa Barat nyaris lenyap ditelan zaman. Di tengah gempuran teknologi dan dominasi musik modern, alat kesenian tradisional seperti Calung kini hanya tinggal kenangan bagi sebagian generasi tua.
Calung, yang dahulu menjadi ikon dalam setiap helaran warga, kini perlahan menghilang dari pentas masyarakat. Hal itu diungkapkan oleh Iyan Lupus, pecinta seni yang juga pemilik organ tunggal, saat ditemui di kediamannya di Kampung Cidahon, Desa Jatimulya, Minggu (11/5/2025).
“Ketika saya remaja, setiap acara di wilayah selatan pasti diisi kesenian Sunda seperti Calung, Reog, Debus, Gembrung, Terbang, Celempungan, dan lainnya. Sekarang, semuanya seperti hilang. Hajatan pun sekarang isinya hanya organ tunggal atau dangdut live,” ungkap Iyan dengan nada prihatin.
Menurutnya, pada masa silam, hampir setiap desa di Kecamatan Cisompet, Cibalong, Pameungpeuk, dan Cikelet memiliki grup kesenian Sunda yang aktif. Baik pria maupun wanita, semua terlibat dalam pelestarian budaya. Kini, panggung-panggung tradisional itu sepi tanpa suara bambu dan irama khas Sunda.
Namun Iyan tak tinggal diam. Ia memilih melawan arus zaman dengan membangkitkan kembali Calung dari tidur panjangnya.
“Saya mulai galakkan lagi Calung. Pemainnya campur, ada laki-laki, perempuan, bahkan ada anak SD yang jadi pemegang kecrek,” ujarnya penuh semangat.
Perjuangan Iyan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Jatimulya, Zaenal Muttaqin, yang telah membelikan seperangkat alat Calung untuk mendukung kebangkitan kesenian tersebut.
“Terima kasih juga saya sampaikan kepada para sesepuh dan tokoh masyarakat Kampung Cidahon yang telah memberi dukungan penuh,” pungkas Iyan.
Di tengah gempuran budaya luar dan minimnya perhatian generasi muda, suara Calung yang kembali menggema di Jatimulya menjadi tanda bahwa perlawanan terhadap kepunahan budaya belum selesai.(Iwan Setiawan)






























