in

DELAPAN HARI AIR ZAMZAM TAK KUNJUNG TIBA! Jemaah Umrah Asal Garut Kecewa, Pelayanan Bandara Soekarno-Hatta Dipertanyakan

Garutexpo.com – Kekecewaan mendalam dirasakan Ali, seorang jemaah umrah mandiri asal Kabupaten Garut, Jawa Barat. Delapan hari setelah tiba di Tanah Air, air zamzam yang dinantikannya dari perjalanan ibadah ke Tanah Suci tak kunjung diterima. Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar terkait kejelasan pelayanan dan mekanisme distribusi air zamzam di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Ali diketahui tiba kembali di Indonesia pada 4 Oktober 2026. Namun, hingga Senin (12/10/2026), air zamzam miliknya masih belum sampai ke tangan pemiliknya. Penantian panjang tersebut bukan hanya membuat Ali kecewa, tetapi juga menyisakan pertanyaan bagi keluarga dan kerabat yang telah menantikan oleh-oleh istimewa dari Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.

Bagi Ali dan keluarganya, air zamzam bukan sekadar barang bawaan. Ada nilai spiritual, kerinduan, dan keberkahan yang ingin dibagikan kepada orang-orang terdekat setelah menunaikan ibadah di Tanah Suci.

Namun, harapan itu justru dibayangi ketidakpastian.

Delapan Hari Menunggu, Kepastian Tak Kunjung Datang

Saat diwawancarai awak media, Senin (12/10/2026), Ali mengungkapkan kekecewaannya terhadap keterlambatan penyerahan air zamzam tersebut. Ia menilai, lamanya waktu tunggu tanpa kepastian yang jelas telah menimbulkan keresahan bagi jemaah.

“Kami sangat kecewa, apalagi barang yang kami nantikan ini sangat bernilai. Bukan dari nominalnya, tetapi dari segi nilai keberkahannya yang sangat dinantikan oleh keluarga dan juga para sanak keluarga yang menantikan oleh-oleh tersebut,” ujar Ali.

Menurut informasi yang diterimanya, persoalan serupa juga dialami sejumlah jemaah lain dalam rombongannya. Dari tujuh orang yang disebut mengalami keterlambatan, baru satu orang yang air zamzamnya dikabarkan telah tiba di bandara, sedangkan enam lainnya masih menunggu kepastian.

Situasi tersebut membuat Ali mempertanyakan bagaimana proses pendataan, pengiriman, dan penyerahan air zamzam kepada para jemaah sebenarnya dilakukan.

Baginya, keterlambatan masih perlu dijelaskan secara terbuka, terlebih ketika para pemilik barang tidak memperoleh kepastian mengenai keberadaan maupun waktu penyerahannya.

Informasi Distribusi Memunculkan Tanda Tanya

Kekecewaan Ali semakin bertambah setelah menerima penjelasan bahwa sebagian air zamzam yang sebelumnya tertunda telah tiba dan diserahkan kepada jemaah yang lebih dahulu datang untuk mengambilnya.

Informasi tersebut justru menimbulkan pertanyaan. Ali menilai, apabila air zamzam telah memiliki identitas kepemilikan masing-masing, mekanisme penyerahannya semestinya dapat dijelaskan secara transparan dan tidak menimbulkan kebingungan di kalangan jemaah.

“Kami juga mempertanyakan, apakah ada permainan di Bandara Soekarno-Hatta ini. Karena dari gelagat pihak bandara ada yang tidak beres. Pihak bandara mengatakan, air zamzam yang tertunda itu datang sebagian dan sudah diberikan kepada jemaah yang datang mengambil duluan. Ini sangat tidak mungkin, karena kepemilikan air zamzam itu kan sudah ada nama dan nomor masing-masing. Kenapa ada istilah diberikan kepada yang mengambil duluan,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Ali pun menduga terdapat persoalan dalam mekanisme distribusi yang perlu ditelusuri. Ia mempertanyakan bagaimana barang yang memiliki identitas pemilik dapat mengalami keterlambatan penyerahan, sementara sebagian lainnya disebut sudah dapat diambil.

“Kami menduga ada hal yang tidak beres. Ada permainan di Bandara Soekarno-Hatta,” tegas Ali.

Meski demikian, dugaan tersebut merupakan pernyataan dan kecurigaan Ali yang masih memerlukan verifikasi. Belum ada bukti yang dapat memastikan adanya permainan atau penyimpangan dalam proses distribusi air zamzam tersebut.

Pengelola Bandara Diminta Buka Suara

Persoalan ini menjadi alasan bagi Ali untuk meminta penjelasan yang konkret dari pihak terkait. Ia berharap pengelola bandara maupun pihak yang bertanggung jawab atas pengiriman dan distribusi air zamzam segera memberikan informasi mengenai penyebab keterlambatan.

Menurutnya, ada sejumlah hal mendasar yang perlu dijelaskan kepada para jemaah, mulai dari posisi terkini air zamzam yang belum diterima, penyebab keterlambatan, mekanisme pendataan dan penyerahan, hingga kepastian waktu distribusi kepada pemiliknya.

Kejelasan tersebut dinilai penting agar jemaah tidak terus-menerus berada dalam ketidakpastian dan tidak muncul dugaan-dugaan yang dapat merugikan pihak tertentu.

Pelayanan terhadap penumpang, termasuk penanganan barang yang memiliki identitas kepemilikan, semestinya dilaksanakan dengan prosedur yang jelas, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila memang terdapat kendala teknis atau operasional, informasi mengenai kendala tersebut perlu disampaikan secara terbuka agar para jemaah memahami situasi yang sebenarnya.

Sebaliknya, apabila ditemukan kekeliruan dalam pendataan maupun penyerahan, persoalan itu perlu ditelusuri dan diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bukan Sekadar Oleh-Oleh, tetapi Amanah bagi Keluarga

Bagi umat Islam, air zamzam memiliki makna khusus karena berasal dari Tanah Suci. Tak sedikit jemaah yang membawanya pulang untuk dibagikan kepada keluarga, saudara, dan kerabat sebagai bagian dari kebahagiaan setelah menunaikan ibadah umrah.

Karena itu, persoalan yang dialami Ali bukan semata-mata menyangkut keterlambatan barang bawaan. Ada harapan keluarga yang ikut menunggu, ada nilai emosional yang melekat, serta ada kebutuhan akan kepastian dari pihak yang menangani distribusinya.

Delapan hari tanpa kejelasan menjadi pengalaman yang mengecewakan bagi Ali. Ia berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut dan tidak kembali dialami jemaah lainnya.

Hingga berita ini disusun pada Senin (12/10/2026), penyebab pasti keterlambatan, mekanisme distribusi yang diterapkan, serta jadwal penyerahan air zamzam milik Ali dan sejumlah jemaah lainnya masih memerlukan konfirmasi dari pihak pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta maupun pihak terkait.

Publik kini menanti penjelasan resmi: mengapa air zamzam milik jemaah masih belum diterima setelah delapan hari, bagaimana sistem distribusinya dijalankan, dan kapan hak para jemaah untuk menerima barang miliknya dapat dipastikan?

Ali berharap air zamzam tersebut segera diterima oleh pemiliknya. Lebih dari itu, ia menginginkan pelayanan yang transparan, profesional, dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

Sebab, ketika jemaah telah kembali dari perjalanan ibadah dengan membawa harapan untuk keluarga, yang seharusnya mereka terima bukanlah penantian tanpa ujung, melainkan pelayanan yang jelas dan dapat dipercaya.***

Ditulis oleh Kang Zey

Todongkan Golok ke Leher Korban, Begal di Leuwidaun Garut Dibekuk Polisi