GARUTEXPO – Dunia pendidikan di Kabupaten Garut kembali tercoreng akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang oknum guru terhadap rekan sesama tenaga pendidik di SDN 1 Karyamukti, Kecamatan Banyuresmi. Ironisnya, insiden memalukan tersebut dipicu oleh persoalan sepele, yakni murid yang bermain bola.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 14 April 2025 sekitar pukul 09.45, (jam istirahat). Saat guru kelas 3 berinisial I (Perempuan) menegur murid kelas 6 yang bermain bola karena bola tersebut masuk ke ruang kelas 3. Guru I kemudian mendatangi ruang kelas 6 guna untuk menegur gurunya yang merupakan wali kelasnya berinisial J. Namun, secara tiba-tiba, ia mendapat perlakuan kasar dari oknum guru laki-laki berinisial J.
Menurut keterangan yang dihimpun, J menarik baju guru I, mendorongnya keluar ruang kelas, dan melakukan tindakan kekerasan fisik menyerupai aksi “smackdown” hingga guru perempuan tersebut terjatuh di hadapan para siswa.
Akibat tindakan tersebut, korban mengalami luka fisik serius, termasuk patah tulang pada jari tangan. Tidak terima atas perlakuan tersebut, korban kemudian melaporkan insiden itu ke pihak kepolisian.
Insiden ini mendapat perhatian serius dari aktivis Gerakan Masyarakat Bersatu (GMB) Ary Nurjaly, SH, yang menyesalkan terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah oleh seorang guru. Ary menilai tindakan tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan dan moralitas di lingkungan pendidikan.
“Lemahnya akhlak dan moral seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan, justru mencoreng wajah dunia pendidikan. Sistem pengawasan Dinas Pendidikan tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tegas Ary kepada garutexpo.com, Minggu 20 April 2025.
Ia menambahkan bahwa moralitas pendidik harus menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan.
“Jika seorang guru bisa bertindak kasar di depan murid, maka ini adalah rapor merah dunia pendidikan. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan di lingkungan sekolah,” imbuhnya.
Kejadian tersebut juga menimbulkan keresahan di kalangan orang tua murid. Beberapa di antaranya bahkan mempertimbangkan untuk memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain karena khawatir dengan kondisi keamanan dan kenyamanan di sekolah.
“Kami khawatir keselamatan anak-anak kami terganggu. Bagaimana bisa guru bertindak seperti itu di hadapan murid?” ungkap salah satu orang tua murid yang enggan disebutkan namanya.(*)






























