GARUTEXPO – Upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Garut harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Pengurus Dewan Adat Kabupaten Garut sekaligus Pemerhati Kebijakan Publik, Kang Oos Supyadin SE MM.
Menurutnya, Garut yang terdiri dari 42 kecamatan dan 442 desa/kelurahan memiliki struktur masyarakat yang sangat besar, yakni sebanyak 16.164 Ketua RT, 4.372 Ketua RW, dan 1.349 Kepala Dusun. Dengan jumlah tersebut, lebih dari 21.000 orang memegang posisi strategis di tingkat akar rumput.
“Namun besar kemungkinan, dari ribuan orang itu ada yang belum menamatkan pendidikan SD, SLTP, apalagi SLTA,” kata Kang Oos, Minggu (5/5/2024).
Menanggapi usulan Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Dedi Kurniawan, agar Bupati menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) yang mensyaratkan lulusan minimal SLTA bagi RT, RW, dan Kadus, Kang Oos menyebut hal itu menarik namun harus dikaji mendalam.
Dedi sebelumnya juga mengusulkan agar Pendidikan Kesetaraan melalui PKBM diterapkan di tiap desa dengan sistem pembelajaran yang disesuaikan aktivitas masyarakat desa. Ia bahkan menyarankan pembiayaan bisa bersumber dari Dana Desa atau APBD.
Kang Oos menilai ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan dalam implementasi usulan tersebut:
- Efektivitas Sasaran: “Perlu dikaji seberapa riil kebutuhan pendidikan bagi kelompok RT, RW dan Kadus, termasuk analisis usia produktif dan data pendidikan aktual agar kebijakan ini tepat sasaran,” ujarnya.
- Kemanfaatan Jangka Panjang: Menurutnya, kebijakan peningkatan IPM seharusnya difokuskan pada kelompok usia produktif dan anak-anak putus sekolah, agar berdampak pada peningkatan kualitas SDM secara menyeluruh.
- Evaluasi Menyeluruh Dunia Pendidikan: Kang Oos mengingatkan bahwa banyak persoalan pendidikan yang belum tuntas di Garut, seperti data siswa fiktif pada PKBM dan sekolah formal yang kerap berkaitan dengan penyaluran bantuan dana pendidikan.
“Oleh karena itu, semua unsur pendidikan mulai dari Dinas Pendidikan, penyelenggara sekolah, dewan pendidikan, komite, LSM hingga media harus bersinergi mengawasi pelaksanaan program berbasis data riil di lapangan,” tegasnya.
Sebagai tambahan, Kang Oos juga mendorong refocusing pembangunan infrastruktur pendidikan. “Akses jalan yang layak menuju sekolah, pemerataan guru terutama di sekolah terpencil, hingga pembangunan sekolah yang sesuai kebutuhan menjadi fondasi penting kemajuan pendidikan di Garut,” tandasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan semangat membangun Garut yang lebih baik, “Garut HEBAT, Garut Gagah Rucita Rahayu Mangun Raharja.”(*)






























