GARUTEXPO – Sebuah video yang menampilkan aksi seorang guru honorer menangis saat melakukan demonstrasi di depan Gedung DPRD Garut, menjadi viral di media sosial. Namun, sorotan utama dalam video tersebut bukan hanya tangisan sang guru, melainkan respons dari Ketua DPRD Garut, Euis Ida Wartiah, yang mengatakan, “Mangga Nangisna Sing Sae” atau “Menangislah dengan baik,” saat menemui para guru honorer.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Garut, Nanan Nugraha, sangat menyayangkan pernyataan yang diucapkan oleh Euis Ida Wartiah kepada sekelompok guru yang tengah melakukan aksi. Nanan menilai bahwa ucapan tersebut menunjukkan rendahnya moral dan empati seorang wakil rakyat terhadap demonstran yang sedang menuntut kejelasan terkait pengangkatan guru ASN dan formasi PPPK.
“Pernyataan Euis Ida ‘Mangga Nangisna Sing Sae’ di hadapan rakyatnya yang sedang menangis jelas tidak menunjukkan sikap seorang wakil rakyat yang betapa jauhnya dari empati dan kesadaran akan penderitaan rakyat,” ujar Nanan Nugraha, Sabtu (15/6/2024).
Nanan berpendapat bahwa dalam kondisi tersebut, perkataan “Mangga Nangisna Sing Sae” tidak pantas diucapkan oleh siapapun, apalagi oleh seorang Ketua DPRD atau wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan nasib rakyatnya. Ia juga sangat menyayangkan mengapa wakil rakyat seperti Euis Ida bisa kembali terpilih menjadi wakil rakyat periode selanjutnya.
“Selama menjabat sebagai Ketua DPRD Garut, Euis Ida ini kurang terlihat kepeduliannya terhadap rakyat, apalagi ucapan-ucapannya sangat jauh dari sikap seorang wakil rakyat. Namun, anehnya lagi, kenapa seorang wakil rakyat yang seperti ini malah terpilih kembali. Entah terpilihnya karena apa, apalagi periode selanjutnya dia akan menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang cakupannya lebih luas. Sekarang saja tidak bisa bekerja, apalagi nanti,” jelasnya.
Sekretaris DPC GMNI Garut sangat mengecam pernyataan Euis Ida tersebut dan menuntut adanya tindakan tegas.
“Hanya ada dua pilihan untuk Ibu Euis Ida: meminta maaf lalu memperjuangkan nasib guru honorer atau mundur dari jabatannya,” pungkas Nanan Nugraha.(*)






























