GARUTEXPO – Aktivis Hak Asasi Manusia, Haris Azhar, menyampaikan pesan penting kepada mahasiswa Kabupaten Garut dalam acara bertajuk “Quo Vadis Mahasiswa di Era Disrupsi” yang berlangsung di Coffee Toffee Garut, Kamis (6/6). Haris menekankan agar mahasiswa tidak terjebak dalam janji-janji besar dari pihak-pihak yang memiliki banyak program.
“Supaya semangat tidak terjebak kepada janji-janji yang bersifat narasi-narasi besar dari orang yang punya banyak program, anak muda harus ini, anak muda harus itu, akhirnya anak muda terjebak di acara tersebut,” ujar Haris Azhar.
Menurutnya, anak muda harus diberikan ruang kebebasan untuk mempertanyakan dan menemukan jawaban atas masalah yang ada di masyarakat. “Satu membantu untuk memberikan masukan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, kebijakan publik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Haris menjelaskan bahwa peran orang tua, kampus, dan para senior adalah memberikan dukungan tanpa memaksa mahasiswa untuk mengikuti berbagai kegiatan. “Jadi jangan dipaksa mereka untuk hadir ke sana ikut ini, ikut itu,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai alasan mahasiswa saat ini dianggap tidak lagi kritis, Haris membantah hal tersebut. Menurutnya, mahasiswa sekarang tetap kritis, namun mereka diliputi kecemasan akibat represi dan tekanan dari kebijakan pemerintah.
“Karena represi, ditangkap, dilarang, dibubarin acaranya. Mahasiswa sekarang cemas pada tekanan-tekanan kebijakan pemerintah. Bahwa mereka nanti harus bayar ini, harus bisa ini, bisa itu, jadi mereka kaya robot sekarang,” ujarnya.
Haris juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kecemasan yang dialami mahasiswa sering kali disebabkan oleh orang tua dan pihak lain yang ingin mempertahankan kekuasaan dan memperkaya diri.
“Saya khawatir banyak orang yang membuat kecemasan itu sebenarnya sedang memelihara kekuasaan dan kesempatan untuk memperkaya diri. Jadi anak muda ini dijadikan sasaran kesempatan memelihara kekayaan dan kekuasaan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Kabupaten Garut, Rifki Fauzi, menjelaskan tujuan acara ini adalah agar mahasiswa berpikir kritis dan membangun, tidak hanya aktif melakukan kegiatan viral di media sosial.
“Kadang kan di era disrupsi anak muda sekarang yang dikatakan tadi sama Bang Haris, foto terus diupload dan jadi trending, nah kita ingin merubah mindset itu,” ujarnya.
Rifki menambahkan, mahasiswa saat ini tampaknya kurang kritis dibandingkan dengan mahasiswa dulu. “Mahasiswa sekarang bisa dikatakan tidak berpikir kritis, dulu ada aktivis jalanan, sekarang kan jarang. Itulah kita sedang membangun itu lagi,” katanya.
Lebih lanjut, Rifki menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menghadapi Pilkada. Mahasiswa diharapkan tidak hanya jadi tim hore saja.
“Makanya kedatangan Bang Haris bertepatan dengan Pilkada bisa mengedukasi mahasiswa di Garut bagaimana bisa memilih pemimpin Garut yang baik dan benar,” ujarnya.(*)






























