in

Isu Perselingkuhan Pengawas dan Kepsek di Mekarmukti Jadi Buah Bibir, Korwil Pendidikan: Saya Baru Denger dari Guru

GARUTEXPO — Isu dugaan perselingkuhan antara seorang pengawas sekolah dasar berinisial JL dan Kepala Sekolah HW di Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan tenaga pendidik.

Kepala Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Mekarmukti, Jumeli, mengaku sebelumnya tidak mengetahui kabar tersebut. Ia baru mendengar isu tersebut dari para guru.

“Saya hanya tahu dari guru-guru. Ketika saya tanyakan langsung ke yang bersangkutan, mereka tidak mengakuinya. Saya juga bingung karena tidak punya bukti. Jika seandainya hal tersebut terbukti, saya akan berkoordinasi dulu dengan Ketua PGRI Kecamatan Mekarmukti,” ujar Jumeli saat dikonfirmasi garutexpo.com Via WhatsApp, Sabtu (28/6/2025).

Isu ini mencuat sejak Agustus 2024 lalu, bermula dari sejumlah kecurigaan yang berkembang di lingkungan sekolah. Salah satu kepala sekolah, yang enggan disebutkan namanya, menyebut kecurigaan timbul lantaran kedekatan JL dan HW dinilai tidak wajar.

“Mereka sering terlihat berduaan di kantor sekolah, kantor Korwil, bahkan di mobil di luar jam kerja, termasuk menjelang malam dan dini hari. Bahkan sempat beredar foto mereka saat berduaan,” ungkap sumber tersebut, Selasa (24/6/2025).

Menanggapi kabar miring tersebut, HW membantah adanya hubungan pribadi di luar profesionalitas kerja. Ia menegaskan bahwa intensitas komunikasi dengan pengawas JL semata-mata berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah.

“Saya dekat seperti dengan pengawas sebelumnya. Memang ada kepercayaan dari pengawas untuk membantu kepala sekolah lain. Dari 15 kepala sekolah, yang mampu IT hanya beberapa. Saya bantu semuanya, ikhlas dan ridha. Tapi seolah-olah karena ada hubungan intens, jadi dianggap hubungan lain. Padahal ini hubungan atasan dan bawahan, dia pejabat penilai, saya pegawai,” jelas HW seperti dikutip dari pewirasatu.

HW juga menuturkan bahwa hal serupa pernah terjadi dengan pengawas sebelumnya. “Bahkan sama Bu Amah Neneng (pengawas sebelumnya) lebih dari ini. Sering sampai jam 2 atau jam 3 ditelepon,” imbuhnya.

Ia menambahkan, banyak kepala sekolah di wilayahnya sudah berusia lanjut dan masih kesulitan dengan sistem penilaian digital. Hal ini membuat komunikasi dengan pengawas kerap berlangsung intens.

“Pada intinya kepala sekolah banyak yang sepuh, jadi banyak kedodoran soal penilaian yang serba digital, serba online. Jadi terlihat ada komunikasi intensnya,” pungkas HW.**

Ditulis oleh Kang Zey

Pentas PAI SD Jabar 2025 Resmi Ditutup, Kabupaten Cirebon Sabet Juara Umum

Dua Rumah Warga di Kampung Pameungpeuk Tertimpa Longsor