in

Kang Oos Supyadin Tegaskan Filosofi “Panyeundak”: Budaya Sunda Harus Menjadi Pilar Utama Kebudayaan Nusantara

Kang Oos Supyadin., S.E,.M.M., Ketua Dewan Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut sekaligus pemerhati kesejarahan dan budaya.

Garutexpo.com — Budaya Sunda bukan sekadar warisan leluhur yang hidup dalam tradisi, kesenian, dan bahasa, melainkan juga mengandung nilai-nilai filosofis yang dapat menjadi fondasi dalam membangun peradaban bangsa. Melalui konsep “Panyeundak Budaya Nusantara”, Kang Oos Supyadin, S.E., M.M., mengajak masyarakat untuk menempatkan kearifan lokal Sunda sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat identitas dan kebudayaan Indonesia.

Ketua Dewan Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut sekaligus pemerhati kesejarahan dan budaya tersebut memandang bahwa kebudayaan Sunda memiliki kekayaan nilai yang relevan untuk menjawab tantangan kehidupan masyarakat modern, mulai dari persoalan etika, hubungan antarmanusia, hingga pelestarian lingkungan.

Gagasan “Panyeundak Budaya Nusantara” mengandung pesan filosofis tentang pentingnya budaya Sunda dalam menopang dan memperkuat kebudayaan nasional. Istilah panyeundak berakar dari kata Sunda seundak, yang berkaitan dengan gerakan menahan, menopang, atau mendorong menggunakan pundak.

Dalam pemaknaan filosofis, panyeundak menjadi simbol peran penting budaya Sunda sebagai salah satu penopang kebudayaan Nusantara. Artinya, budaya daerah bukan sekadar identitas kelompok masyarakat tertentu, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Budaya Sunda dan Identitas Bangsa

Budaya Sunda tumbuh melalui perjalanan panjang sejarah masyarakatnya. Nilai kesopanan, keramahan, religiusitas, penghormatan terhadap sesama, serta kedekatan dengan alam menjadi bagian dari kearifan yang diwariskan lintas generasi.

Sementara itu, kebudayaan Nusantara merupakan kekayaan kolektif bangsa yang terbentuk dari keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, kesenian, kepercayaan, dan tradisi di berbagai wilayah Indonesia.

Keduanya memiliki hubungan erat. Budaya Sunda menjadi salah satu unsur pembentuk identitas nasional, sebagaimana kebudayaan daerah lainnya yang turut memperkaya wajah Indonesia.

Dalam perspektif tersebut, pelestarian budaya Sunda tidak harus dimaknai sebagai upaya mengunggulkan satu kebudayaan di atas kebudayaan lain. Sebaliknya, nilai-nilai luhur Sunda dapat menjadi kontribusi nyata dalam membangun kebudayaan nasional yang berakar pada keberagaman, persaudaraan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Tiga Fondasi Utama Panyeundak Budaya Nusantara

Menurut pemikiran yang disampaikan Kang Oos Supyadin, terdapat tiga landasan penting untuk memahami hubungan budaya Sunda dengan kebudayaan Nusantara, yakni nilai dan filosofi kehidupan, kearifan ekologis, serta kekayaan kesenian tradisional.

1. Nilai dan Filosofi Kehidupan: Dari Soméah hingga Silih Asih

Budaya Sunda memiliki sejumlah prinsip kehidupan yang menekankan keseimbangan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Pertama, Soméah Hade ka Sémah, yakni sikap ramah, santun, dan menghormati tamu. Nilai ini menggambarkan keterbukaan masyarakat Sunda dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.

Kedua, konsep Tritangtu, yang dalam sejumlah pemaknaan budaya Sunda berkaitan dengan prinsip keseimbangan dan keteraturan kehidupan. Nilai tersebut dapat menjadi landasan untuk memahami hubungan manusia dengan sesama, alam, dan dimensi spiritual.

Ketiga, prinsip Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Filosofi ini mengajarkan masyarakat untuk saling mengasihi, saling meningkatkan pengetahuan dan kualitas diri, serta saling membimbing dan melindungi.

Keempat, karakter Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter, yang mencerminkan harapan terbentuknya manusia sehat, berperilaku baik, menjunjung kebenaran, cekatan dan mawas diri, serta memiliki kecerdasan.

Nilai-nilai tersebut tidak hanya relevan bagi masyarakat Sunda, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam membangun karakter bangsa yang beretika, berintegritas, dan saling menghargai di tengah keberagaman.

2. Kearifan Ekologis: Menjaga Alam sebagai Warisan Leluhur

Kebudayaan Sunda juga menyimpan pengetahuan lokal mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Kearifan ini tercermin dalam pengelolaan kawasan hutan, sistem pertanian tradisional, serta praktik menjaga ketahanan pangan.

Pembagian kawasan seperti leuweung larangan, leuweung tutupan, dan leuweung baladahan menunjukkan adanya pengenalan terhadap fungsi ruang dan pemanfaatan alam sesuai kebutuhan masyarakat serta ketentuan adat setempat.

Dalam bidang pertanian, tradisi huma, penggunaan leuit atau lumbung padi, dan sistem kebun talun menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang berkaitan dengan penyimpanan hasil panen, pemanfaatan lahan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Tradisi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar juga menjadi contoh penting bagaimana pengetahuan pertanian leluhur, pelestarian varietas padi lokal, dan tata cara penyimpanan hasil panen terus dipertahankan.

Di tengah tantangan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan persoalan ketahanan pangan, kearifan tersebut memiliki nilai penting untuk dipelajari dan dikembangkan secara bijaksana.

Dengan demikian, budaya Sunda tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menyimpan pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

3. Kesenian Tradisional: Kekayaan Lokal yang Memperkaya Nusantara

Panyeundak Budaya Nusantara juga tercermin melalui kekayaan kesenian Sunda yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia.

Dalam seni musik dan suara, masyarakat mengenal angklung, degung, suling, serta rampak kendang. Berbagai kesenian tersebut memperlihatkan kreativitas, keterampilan, dan kekayaan ekspresi artistik masyarakat Sunda.

Sementara dalam seni pertunjukan, terdapat wayang golek dengan tokoh ikonik seperti Si Cepot, tari jaipongan, ketuk tilu, dan sisingaan.

Kesenian-kesenian tersebut bukan hanya berfungsi sebagai hiburan. Di dalamnya terkandung cerita, pesan moral, nilai sosial, humor, dan pandangan hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pelestarian seni tradisional perlu dilakukan melalui pendidikan, regenerasi seniman, ruang pertunjukan, dokumentasi, serta pemanfaatan teknologi digital agar tetap dikenal dan diminati generasi muda.

Dengan cara tersebut, kesenian Sunda dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarah dan identitasnya.

Bukan Sekadar Slogan, Melainkan Tanggung Jawab Bersama

Gagasan “Panyeundak Budaya Nusantara” pada akhirnya menempatkan kebudayaan sebagai kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan. Setiap tradisi daerah memiliki ruang untuk tumbuh dan memberikan kontribusi bagi kebudayaan nasional.

Bagi masyarakat Sunda, menjaga budaya berarti merawat bahasa, menghormati sejarah, melestarikan kesenian, menjalankan nilai-nilai luhur, serta meneruskan kearifan lokal kepada generasi penerus.

Namun, pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial atau penggunaan simbol-simbol tradisional. Nilai budaya perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, pendidikan keluarga, kehidupan bermasyarakat, serta kebijakan yang memberikan ruang bagi keberlanjutan tradisi.

Dalam konteks Kabupaten Garut, pemikiran tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan kesejarahan dan kebudayaan Sunda di tengah perkembangan zaman. Generasi muda perlu mengenal akar budayanya agar mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.

Melalui peran Dewan Adat Sunda Kabupaten Garut, gagasan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran bahwa kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya milik tokoh adat, seniman, atau kelompok tertentu.

Budaya Sunda menjadi panyeundak bukan dengan berdiri di atas kebudayaan lain, melainkan dengan ikut menopang keberagaman, memperkuat persatuan, dan menghadirkan nilai-nilai luhur bagi kehidupan bangsa.

Rahayu.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Rakornas V FDPI di Garut Himpun Aspirasi Pendidikan Nasional, Mulyatno Berharap Rekomendasi Segera Direalisasikan

Bupati Garut Siapkan Kompetisi Pelajar Berbasis Kecamatan, Prestasi Tak Boleh Hanya Milik Sekolah Unggulan