in

Ketua Dewan Pendidikan Garut: “Kalau Murid Terus Belajar, Mengapa Gurunya Berhenti?

GARUTEXPO – Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, H. Nanang, menyampaikan pesan inspiratif yang menggugah dalam momentum Hari Belajar Guru. Dalam refleksi pribadinya setelah diundang oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut untuk memberikan materi di hadapan 84 guru hebat dari seluruh penjuru Garut, ia mengangkat sebuah pertanyaan mendalam: “Kalau murid terus belajar, mengapa gurunya berhenti?”

Menurut H. Nanang, pertanyaan ini menjadi dasar lahirnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5684/MDM.BI/HK.04.00/2025 tentang Hari Belajar Guru.

“Ini bukan sekadar kebijakan administratif, tapi ajakan revolusioner untuk menjadikan guru sebagai pembelajar sejati,” ujar H. Nanang.

Ia menegaskan bahwa guru yang berhenti belajar sesungguhnya sedang mempercepat tanggal kedaluwarsanya.

“Metode yang sama, materi yang tidak diperbarui, dan pola pikir yang stagnan hanya akan menghasilkan murid yang tak lagi terinspirasi. Sekolah pun mandek, tak mampu bergerak mengikuti zaman,” sambungnya.

Sebaliknya, guru yang terus belajar akan menjadi agen perubahan. Mereka membaca buku, berdiskusi, mengikuti pelatihan, bahkan belajar dari murid.

“Menjadi guru bukan berarti tahu segalanya, tapi terus ingin tahu. Di sinilah letak kemuliaannya,” ujarnya.

Sekolah Berubah Karena Gurunya Mau Belajar

H. Nanang menekankan bahwa tidak akan ada perubahan pada sekolah jika gurunya tidak ikut berubah. “Fasilitas boleh canggih, kurikulum bisa berganti, tapi jika guru tidak belajar, semua akan sia-sia. Justru sekolah sederhana pun bisa tumbuh jika guru di dalamnya terus belajar.”

Menurutnya, Hari Belajar Guru merupakan momentum penting untuk mendorong transformasi pembelajaran. Sekolah harus menyediakan ruang kolaborasi antar guru, bukan sekadar ruang instruksi.

“Hari ini bukan tentang menggurui, tapi merenungi, memperbaiki, dan melompat ke masa depan,” katanya.

Belajar di Tengah Kesibukan

Kesibukan guru bukan alasan untuk berhenti belajar. H. Nanang menyarankan agar guru memanfaatkan waktu dengan bijak. “Sambil mengerjakan administrasi, bisa mendengarkan podcast edukasi. Istirahat bisa jadi momen diskusi singkat antar guru. Kuncinya adalah kemauan untuk membuka diri.”

Ia juga mendorong agar KKG dan MGMP kembali dihidupkan. “Jangan hanya jadi forum formalitas. Jadikan sebagai ruang inspiratif, tempat menyusun pembelajaran, berbagi tantangan, hingga menertawakan kegagalan bersama sambil mencari solusi,” tuturnya.

Membaca Zaman, Mengajar Masa Depan

Dalam dunia yang kian cepat berubah dan didominasi kecerdasan buatan, H. Nanang menyampaikan bahwa guru harus mengikuti perkembangan zaman. “Jika cara mengajarnya masih seperti dua dekade lalu, maka kita sedang menyiapkan generasi yang gagal menyesuaikan diri.”

Ia menekankan pentingnya kompetensi masa depan seperti project-based learning, literasi digital, kecerdasan emosional, dan critical thinking. “Guru harus menjadi pelatih keterampilan hidup, bukan sekadar penyampai isi buku,” tegasnya.

Dari Mengajar ke Menginspirasi

Menurut H. Nanang, peran guru kini telah bergeser dari pusat informasi menjadi fasilitator dan inspirator.

“Kita butuh lebih banyak guru yang membuka jalan, bukan memberi jalan pintas. Guru yang membiarkan murid bertanya tanpa takut salah, mencoba meski gagal, dan berpikir tanpa batas,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa peran guru saat ini tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga mentor, pendengar, penyembuh emosi, dan navigator digital.

“Dalam Hari Belajar Guru, mari kita refleksikan kembali siapa diri kita, untuk siapa kita mengajar, dan apa yang masih harus kita pelajari dan ubah,” katanya.

Warisan Guru Pembelajar

Mengakhiri pesannya, H. Nanang mengatakan bahwa Hari Belajar Guru bukan milik segelintir guru hebat, tapi milik semua guru yang mau tumbuh dan belajar. “Bukan karena kewajiban, tapi karena cinta. Hari ini bukan hanya ajakan mengenang masa lalu, tetapi komitmen membaca masa depan.”

“Bukan PPT, bukan LKS, tapi energi, semangat, dan kasih yang kita hadirkan setiap hari. Sudah saatnya kita meninggalkan metode ceramah dan beralih pada pembelajaran yang membuat murid berpikir, berdiskusi, dan mencipta. Inilah model pembelajaran yang bikin murid aktif,” tutupnya.

Ditulis oleh Kang Zey

Meriahkan Tahun Baru Islam 1447 H, Ratusan Warga Desa Haruman Gelar Pawai Obor

Belasan Geng Motor Moonraker Kadungora Dibekuk, 1 Diringkus, 2 Masih Diburu