GARUTEXPO– Pada abad ke-7 Masehi, tepatnya pada masa Kekhalifahan Utsman bin Affan RA, sekelompok dai sekaligus pedagang Arab yang dalam perjalanan menuju Cina singgah di pelabuhan Champa. Sejak saat itu, penduduk Champa mulai mengenal agama Islam.
Namun, komunitas-komunitas Muslim baru mulai terbentuk pada abad ke-11 Masehi. Hal ini sejalan dengan semakin intensnya arus dakwah yang diinisiasi oleh Khilafah. Apalagi ketika pasukan Mongol di bawah pimpinan Kubilai Khan mencoba untuk menguasai wilayah Vietnam dan Asia Tenggara sekitar tahun 1280 dan 1287 Masehi, pengaruh Islam semakin terasa.
Champa, yang sejak lama sudah dikenal hingga mancanegara, memiliki kondisi geografis yang strategis dan ekonomis. Selain sebagai jalur penting dalam rute rempah antara Teluk Persia dan selatan Cina, Kerajaan Champa pada masa itu dikenal sebagai salah satu negara adikuasa ekonomi di Asia Tenggara. Kerajaan ini rajin menjalin hubungan diplomatik dan persekutuan dengan kerajaan-kerajaan besar lainnya seperti Sriwijaya di Sumatra dan Singasari, Pajajaran, serta Majapahit di Pulau Jawa. Bahkan, anak Raja Champa, Jaya Simhawarman III yang berkuasa dari 1288 hingga 1307, menikahi putri Tapasi dari Raja Singasari, Kertaranagara (1268-1292), yang dikirim bersama pasukan Singasari untuk membantu Champa menghadapi serbuan Mongol.
Pada abad ke-14, seorang dai sekaligus politisi bernama Sayyid Hussein Jamaludin Akbar Jumadil Kubro (1310—1394), anak dari Ahmad Syah Jalaluddin, melakukan misi dakwah ke Asia Tenggara, termasuk Kelantan dan Champa. Sayyid Jumadil Kubro, yang merupakan amir ke-4 Kesultanan Nasarabad India Lama di bawah Kesultanan Delhi, berhasil mengislamkan Raja Champa bernama Che Bo Nga (1360—1390). Raja Champa kemudian berganti nama menjadi Sultan Zainal Abidin, menjadikan Kerajaan Champa sebagai kesultanan Islam.
Syekh Ibrahim Zainuddin al-Akbar as-Samarqandiy atau Ibrahim Asmoro (lahir 1297), putra dari Sayyid Jumadil Kubro, menikahi Chandra Wulan, putri Sultan Champa. Dari pernikahan ini lahir Sunan Ampel (Syekh Ali Rahmatillah), yang kemudian ditugasi sebagai wali di Jawa menggantikan Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim (1356—1419 Masehi). Sunan Gresik sendiri adalah pemimpin Walisongo generasi pertama yang menyebarkan Islam di Jawa dan merupakan cucu dari Sayyid Jumadil Kubro.
Selain itu, Sultan Champa periode 1471—1478, Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Umdatuddin atau Wan Bo Tri Tri, menikah dengan Nyi Mas Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Mereka memiliki seorang putra yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (1448—1568), pendiri Kesultanan Cirebon. Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati adalah dua anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa, khususnya Majapahit dan Pajajaran.
Anak perempuan Sunan Ampel, Dewi Murthasimah, kemudian menikah dengan Raden Fatah (Jin Bun), pendiri dan sultan pertama Demak yang memerintah dari 1478 hingga 1518. Dengan demikian, Sayyid Jumadil Kubro dikenal sebagai moyang para Wali Songo, dan Champa sebagai tanah leluhur Wali Songo.
Kesultanan Champa memiliki pengaruh besar sebagai pintu masuk perkembangan politik Islam di Asia Tenggara, khususnya di Nusantara. Spirit dakwah politik mengalir deras dari negeri ini, berkontribusi dalam mengakhiri kekuasaan Majapahit yang Hindu pada 1518 serta Sriwijaya yang Buddha yang pengaruhnya sudah melemah akibat konflik internal dan serangan luar.
Ditulis: Oleh Kang Oos Supyadin, Pemerhati Kesejarahan & Budaya.






























