in

Ribuan Jamaah At-Tijaniyyah Padati Bongkor Garut, Haul KH Ade Ma’ruf Jadi Momentum Perkuat Ukhuwah dan Dakwah

Garutexpo.com — Sedikitnya lebih dari seribu jamaah Thoriqoh At-Tijaniyyah dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut memadati kawasan Masjid Jami Nurul Falah, Kampung Bongkor RW 08, Desa Cintarakyat, Kecamatan Samarang, Jumat (2/10/2026). Berdasarkan pantauan awak media, kehadiran para jamaah tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta mengenang satu tahun wafatnya KH Ade Ma’ruf bin H. Uleh Soleh, tokoh agama sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Nurul Falah.

Ribuan jamaah berkumpul untuk mengikuti Ijtima’ Tarbiyah Thoriqoh At-Tijaniyyah ke-Walyan Syaikhuna Badruzzaman, yang dirangkaikan dengan Ijtima Wadzifah, Hailalah, tasyakur Maulid Nabi Muhammad SAW, serta haul satu tahun KH Ade Ma’ruf.

Sejak siang hari, jamaah dari berbagai daerah mulai berdatangan ke lokasi kegiatan. Kawasan Masjid Jami Nurul Falah dan lingkungan sekitarnya pun dipadati jamaah yang ingin mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi pertemuan rutin bagi para pengikut Thoriqoh At-Tijaniyyah. Lebih dari itu, ijtima menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menjaga kebersamaan, serta melanjutkan tradisi keagamaan dan dakwah di tengah masyarakat.

Ijtima’ Tarbiyah Perkuat Ukhuwah dan Amalan Keagamaan

Bagi para jamaah, Ijtima’ Tarbiyah memiliki makna penting dalam menjaga hubungan persaudaraan sekaligus memperdalam penghayatan terhadap ajaran dan amalan Thoriqoh At-Tijaniyyah.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, jamaah mengikuti dzikir Hailalah Thoriqoh At-Tijaniyyah yang dipimpin oleh Sesepuh Thoriqoh At-Tijaniyyah Kabupaten Garut, Dr. KH. Ikyan Sibaweh Badruzzaman.

Suasana kegiatan diwarnai kekhusyukan jamaah dalam mengikuti rangkaian amalan keagamaan. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi jamaah dari berbagai wilayah untuk saling bersilaturahmi dan mempererat hubungan yang telah terjalin.

Selain itu, tasyakur Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta meneladani nilai-nilai akhlak dan perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Falah dan masyarakat Kampung Bongkor, kegiatan ini juga memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan rangkaian peringatan satu tahun wafatnya KH Ade Ma’ruf, sosok yang dikenang sebagai guru dan pembimbing keagamaan.

Setahun KH Ade Ma’ruf Berpulang, Doa dan Keteladanan Terus Dikenang

Sebelum pelaksanaan Ijtima’ Tarbiyah pada Jumat (2/10/2026), keluarga KH Ade Ma’ruf bersama para alumni dan jamaah telah menggelar haul, tahlil, doa bersama, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Rabu malam (30/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Jami Nurul Falah tersebut berjalan khidmat. Para jamaah dari sejumlah kampung hadir untuk mendoakan almarhum sekaligus mengenang ilmu, nasihat, perjuangan, dan keteladanan yang telah diwariskannya.

Rangkaian doa dipimpin oleh para sesepuh Pondok Pesantren Al Hidayah, Kampung Pasirmuncang, Desa Cintarakyat, Kecamatan Samarang. Hadir pula para alumni Pondok Pesantren Nurul Falah serta jamaah yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan pengajian dan perjuangan dakwah almarhum.

Jamaah yang hadir dalam kegiatan sebelumnya berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Kampung Bongkor RW 08, Bongkor RW 09, Munjul RW 10, Cisanca RW 07, hingga Pasirmuncang RW 06, Desa Cintarakyat.

Bagi keluarga, alumni, dan jamaah, KH Ade Ma’ruf bukan sekadar sosok yang telah berpulang. Ia dikenang sebagai guru yang meninggalkan warisan ilmu, nasihat, dan keteladanan bagi orang-orang yang pernah belajar serta mendapatkan bimbingan darinya.

Melalui lantunan tahlil dan doa bersama, keluarga serta jamaah memohon agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Haul Bukan Sekadar Mengenang, tetapi Merawat Silaturahmi

Peringatan satu tahun wafatnya KH Ade Ma’ruf tidak hanya menjadi momen mengenang kepergian seorang tokoh agama. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kembali keluarga, alumni, jamaah, dan masyarakat yang selama ini memiliki ikatan dengan almarhum.

Keteladanan KH Ade Ma’ruf sebagai suami, ayah, kakek, sekaligus guru diharapkan terus hidup melalui nilai-nilai keagamaan yang diwariskan kepada keluarga dan para jamaah.

Perpaduan kegiatan haul, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Ijtima’ Tarbiyah Thoriqoh At-Tijaniyyah menghadirkan momentum untuk mengenang jasa seorang guru sekaligus memperkuat persaudaraan umat.

Nilai kebersamaan yang terbangun diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan seremonial. Sebaliknya, hubungan silaturahmi tersebut diharapkan terus terpelihara dalam kehidupan bermasyarakat, kegiatan keagamaan, serta upaya meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan almarhum.

Masjid dan Pesantren Jadi Pusat Penguatan Dakwah

Pelaksanaan Ijtima’ Tarbiyah di Kampung Bongkor turut memperlihatkan peran masjid dan lingkungan pesantren sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, serta penguatan hubungan sosial masyarakat.

Berkumpulnya lebih dari seribu jamaah dari berbagai wilayah Kabupaten Garut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarsesama jamaah sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keagamaan.

Melalui rangkaian haul dan ijtima tersebut, keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Falah berharap silaturahmi antara keluarga, alumni, jamaah, dan masyarakat dapat terus terjaga. Momentum ini juga diharapkan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW serta mendorong semangat berdakwah melalui nilai-nilai keislaman yang menekankan persaudaraan dan kebaikan.

Doa pun terus dipanjatkan agar Allah SWT melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepada KH Ade Ma’ruf, menerima seluruh amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Setahun telah berlalu sejak KH Ade Ma’ruf berpulang ke rahmatullah. Namun, kenangan dan keteladanan yang ditinggalkannya masih hidup di tengah keluarga, alumni, dan jamaah.

Melalui doa, silaturahmi, serta kegiatan keagamaan yang terus berlanjut, warisan ilmu dan nilai-nilai kebaikan almarhum diharapkan tetap terjaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Sebab, kepergian seorang guru tidak menghapus ilmu dan keteladanan yang telah ditanamkan kepada para muridnya.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

FPPG ‘Sentil’ Satgas MBG dan DLH Garut: Sidak IPAL SPPG, Yang Melanggar Harus Ditindak!