GARUTEXPO-Lima tahun lalu, kisah Erwin Utama, seorang bocah tujuh tahun dari Garut, Jawa Barat, menginspirasi banyak orang setelah aksinya menjual bakso tahu demi uang jajan viral di media sosial. Dengan mengenakan seragam sekolah dan tas di punggung, Erwin memikul gerobak bakso tahu milik tetangganya sambil berjalan menyusuri kampung.
Erwin, siswa kelas dua di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Muttaqien, Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug, memulai rutinitasnya sejak pukul tujuh pagi. Dalam perjalanan menuju sekolah yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya, ia menjajakan bakso tahu kepada warga sekitar. Dari pekerjaannya, Erwin hanya mendapat upah Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per hari.
“Enggak malu,” ujar Erwin saat ditanya tentang ejekan teman-temannya. Meski kerap ditertawakan, Erwin tetap bersemangat berjualan karena tak ingin merepotkan bibinya, Kokom, yang merawatnya setelah kedua orang tuanya bekerja di luar kota.

Kisah ini memunculkan perasaan haru sekaligus keprihatinan. Di satu sisi, semangat Erwin menunjukkan kedewasaan yang luar biasa untuk anak seusianya. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga mengingatkan kita pada masalah pekerja anak. Menurut data UNICEF, ILO, dan Bank Dunia, sekitar 168 juta anak di dunia, termasuk Indonesia, menjadi pekerja di usia dini.
Pekerjaan di usia anak dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental mereka. Penelitian di Yordania menunjukkan bahwa anak yang bekerja sambil bersekolah lebih rentan mengalami masalah psikososial dibandingkan mereka yang hanya fokus belajar. Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 menegaskan pentingnya hak anak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan mendapatkan perlindungan.
Sebagai orang tua, kita bisa belajar dari kisah ini untuk lebih menghargai waktu bersama anak. Kegiatan sederhana seperti bermain bersama tanpa gangguan gadget bisa menjadi momen berharga yang memperkuat hubungan keluarga. Psikolog anak Anastasia Satriyo menyarankan agar orang tua meluangkan waktu berkualitas dengan fokus penuh pada anak.

Kini, lima tahun telah berlalu. Mari kita doakan agar Erwin mendapatkan masa depan yang lebih cerah dan kehidupan yang lebih baik. Kisah ini juga mengajak kita untuk lebih peduli terhadap anak-anak di sekitar kita, memastikan mereka mendapatkan hak untuk tumbuh, berkembang, dan merasakan kasih sayang keluarga yang utuh.
Semoga pengalaman Erwin terus menginspirasi dan menjadi motivasi bagi banyak pihak untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi muda.(*)






























