in

Ketua PM GATRA Tolak Club Malam, Serukan Penjagaan Warisan Budaya dan Moral

Foto: Holil Aksan Umarzen, Ketua PM GATRA.

GARUTEXPO – Ketua Umum PM GATRA, Holil Aksan Umarzen, dengan tegas menolak keberadaan Club malam di Limbangan Kabupaten Garut. Menurutnya, keputusan untuk mengizinkan tempat hiburan malam di wilayah yang dikenal dengan nilai-nilai keislaman ini merupakan bentuk pengabaian terhadap warisan budaya dan moral yang telah dijaga turun-temurun.

“Limbangan adalah daerah yang memiliki sejarah panjang dalam penyebaran ajaran Islam. Keberadaan Club malam jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur kami,” ujar Holil Aksan Umarzen kepada garutexpo.com, Selasa, 11 Maret 2025.

Penolakan ini bukan tanpa alasan. Limbangan memiliki banyak pesantren yang menjadi pusat pendidikan moral dan spiritual bagi generasi muda. Kehadiran klub malam dikhawatirkan dapat merusak tatanan sosial yang telah terjalin dan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.

“Kami tidak ingin generasi mendatang kehilangan identitasnya. Club malam bukan hanya masalah hiburan, tetapi juga memiliki konsekuensi sosial yang bisa merusak karakter dan moral masyarakat,” sambungnya.

Holil juga mendesak pemerintah daerah untuk lebih mendengarkan aspirasi masyarakat dan mempertimbangkan kembali kebijakan yang dapat berdampak buruk terhadap lingkungan sosial dan budaya di Limbangan.

“Kami berharap pemerintah tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan moral yang ditimbulkan,” tegasnya.

Masyarakat Limbangan berkomitmen untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian dari identitas mereka. Mereka menyerukan persatuan dalam menolak segala bentuk aktivitas yang dapat mengancam moralitas dan warisan budaya di daerah tersebut.

Sajak:
*Limbangan yang Malang oleh Club Malam*

Oleh : Rd H Holil Aksan Umarzen

Di lembah yang sunyi, Limbangan terhampar,
Sejarah terukir, kisah yang tak pudar.
Tokoh-tokoh besar, penyebar ajaran,
Sekarang terancam, dalam kebisingan.

Di balik pesantren, santri menuntut ilmu,
Mencari cahaya, dalam gelap yang kelabu.
Namun kini hadir, suara yang memecah,
Klub malam bergetar, merusak tatanan yang ada.

Oh Limbangan, tanah yang penuh harapan,
Kini terhimpit, oleh keputusan yang kelam.
Martabat dan budaya, terancam tergerus,
Kehormatan leluhur, seolah tak berarti.

Di tengah riuh, kami bersatu,
Menolak kehadiran yang tak kami butuh.
Kami inginkan damai, kami inginkan terang,
Menyongsong masa depan, bukan kegelapan.

Limbangan yang malang, jangan kau terluka,
Kami akan berjuang, menjaga cita-cita.
Agar nilai luhur, tetap terjaga,
Sebagai cahaya, bagi generasi yang ada.

Mari kita jaga, tanah yang kita cintai,
Dengan semangat bersama, kita takkan tergoyahi.
Dalam setiap langkah, kita kan bersatu,
Membangun Limbangan, yang lebih bermartabat untuk kita dan anak anak kita.

Semoga Tulisan dan sajak ini dapat mengungkapkan perasaan dan harapan masyarakat Limbangan!

Ditulis oleh Kang Zey

Abah Muda Sesalkan Sikap Wakil Bupati Garut Terkait Aksi Swiping Aliansi Umat Islam

Dugaan Jual-Beli Tanah Wakaf di Garut, Kapolda Jabar Diminta Bertindak