in

Setahun Menanti Uluran Tangan Pemerintah, Rumah Janda Lansia di Garut Terpaksa Dihancurkan Karena Tak Kunjung Diperbaiki

Foto: Rumah milik Atih, seorang Janda lanjut usia yang di hancurkan, di Kampung Ganea, Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

Garutexpo.com – Harapan Atih (60) untuk kembali tinggal dengan aman di rumahnya sendiri akhirnya pupus. Janda lanjut usia yang tinggal seorang diri di Kampung Ganea, Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut itu terpaksa menyaksikan rumahnya dihancurkan setelah lebih dari setahun menunggu bantuan yang tak kunjung datang.

Rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Atih mengalami kerusakan akibat hujan deras disertai angin kencang yang terjadi pada malam hari di penghujung tahun 2025. Saat peristiwa itu terjadi, Atih beruntung tidak berada di dalam rumah. Karena khawatir bangunan roboh, ia memilih menginap di rumah saudaranya.

Namun, meski laporan telah disampaikan dan survei lapangan sudah dilakukan, hingga pertengahan tahun 2026 bantuan renovasi yang diharapkan belum juga terealisasi.

Kondisi bangunan yang semakin rapuh dan membahayakan akhirnya membuat keluarga serta warga sekitar mengambil keputusan berat. Demi mencegah terjadinya korban jiwa akibat kemungkinan roboh susulan, rumah tersebut terpaksa dirobohkan.

Salah seorang tetangga korban, Nunuy, mengatakan bahwa rumah Atih sudah lama dilaporkan kepada pemerintah desa dan pihak terkait bahkan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.

“Rumah Bu Atih roboh saat terjadi hujan deras disertai angin pada akhir tahun 2025. Sudah ada survei dari pihak desa, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Karena kondisinya sangat membahayakan dan pemilik rumah juga sudah lanjut usia serta tidak mampu memperbaiki sendiri, akhirnya rumah tersebut dibongkar,” ujar Nunuy kepada Garutexpo.com, Senin, 15 Juni 2026.

Menurutnya, langkah pembongkaran dilakukan semata-mata demi keselamatan. Sebab, sisa bangunan yang masih berdiri dikhawatirkan sewaktu-waktu ambruk dan membahayakan warga sekitar.

“Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena ada bagian rumah yang bisa roboh susulan, akhirnya warga dan keluarga sepakat membongkar sisa bangunan yang ada,” katanya.

Kini Atih tidak lagi memiliki rumah untuk ditempati. Sejak bangunannya dihancurkan, ia terpaksa menumpang tinggal di rumah kerabatnya sambil menunggu adanya bantuan yang diharapkan dapat membantunya kembali memiliki tempat tinggal yang layak.

Nunuy juga mengungkapkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya dilaporkan kepada pemerintah desa, tetapi juga telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim).

“Sudah pernah dilaporkan ke pemerintah desa dan juga ke pemerintah kabupaten melalui Disperkim. Namun sampai sekarang belum ada bantuan yang turun. Padahal pemilik rumah benar-benar membutuhkan bantuan karena tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumahnya sendiri,” ungkapnya.

Peristiwa yang dialami Atih menjadi potret masih adanya warga korban bencana yang harus menunggu lama untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah. Di tengah keterbatasan ekonomi dan usia yang tidak lagi muda, ia kini hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak huni.

Warga sekitar pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan solusi. Mereka menilai penanganan rumah warga terdampak bencana perlu dipercepat agar masyarakat yang membutuhkan tidak harus menunggu berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun untuk mendapatkan bantuan.***

Ditulis oleh Kang Zey

Korwil Pendidikan Garut Disorot, GIPS Desak Bersih-Bersih Jabatan: Jangan Jadi Tempat Titipan Pejabat!

Lautan Obor Terangi Samarang, Warga Cintarasa dan Cintarakyat Sambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah dengan Penuh Khidmat