in

Antara Hikmah dan Bid’ah Isra’ Mi’raj

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.* *Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera

Isr'a Mi'raj

GARUTEXPO– Perbedaan pandangan berupa sikap berani mengambil langkah dalam perkara agama dan usaha mempertahankan yang disebut dengan kemurnian ajaran menjadi dinamika tersendiri dalam perkembangan dan kebudayaan Islam. Dialektika keduanya senantiasa mewarnai dan menjadi khazanah yang mengandung kekayaan tersendiri.

Ibu-ibu, anak-anak, dan lansia wanita dan semua bersuka cita pada setiap hari-hari yang diperingati umat Islam tersebut sepanjang masa menjadi peringatan yang senantiasa dirindukan. Termasuk di antaranya adalah perayaan Isra’ Mi’raj, meski terdapat perbedaan baik sikap terlebih pandangan Ulama’ terkait hal tersebut, pada kenyataannya umat banyak patuh mengikuti sebagaimana yang diinstruksikan.

Kesempatan kali ini penulis mengulas dualisme yang sebenarnya satu kesatuan tersebut, tidak dalam pengujian dalil-dalil, menimbang kegiatan tersebut pada sisi manfaat berupa hikmah serta kemungkinan akibat yang melekat dan tidak terpisahkan antara pengadaan perayaan dan usaha mewujudkan originalitas dari resiko penambahan-penambahan.

Peringatan hari-hari Islam, selain mengingatkan juga dapat menjadi momen untuk menyampaikan pesan keislaman atau syi’ar. Perayaan dengan kegiatan yang dilakukan banyak orang, berupa lantunan bait atau sya’ir berisi sejarah dan salawat, Hadits sampai ayat suci al-Qur’an terdapat di sana. Pada saat yang sama terdapat orang yang berusaha memahami ajaran yang diyakini, dipelajari, dan diamalkan meski tidak terlibat dan menginginkan kebaikan.

Argumentasi lainnya adalah tradisi salaf ash-shalih zaman dulu yang gemar menyembunyikan amalan dan menghindari untuk menampakkan secara terbuka dan berlebih-lebih satu sisi, namun di sisi lain dikisahkan terdapat di kalangan di zaman salaf ash-sholih yang berusaha menutupi amalan tersebut dengan hal yang bertentangan dengannya. Lawan dari sembunyi adalah menerangkan atau menyakan amalan.

Ibnu Sirrin yang dikenal dengan sosoknya yang Zuhud dalam menjalani kehidupan dan menjalankan syari’ah. Sosoknya yang sederhana dikatakan bahwa pada siang harinya, beliau terlihat senang, bahagia dan gemar tertawa namun, kondisi ini kontras pada malam harinya ia ibadah secara khusyu’ dan menangis linangan air mata.

Demikian ulasan singkat untuk diambil manfaatnya dan berharap dijauhkan dari segala bentuk mudharat, terkhusus berkaitan dengan Hari Isra’ Mi’raj. Merayakan atau sekedar bersabar akan mendapat balasan dari yang bersama-sama dituju dan diharapkan balasanNya di sisiNyalah segala kebaikan yang kepadanya kembali segala urusan.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Masa Tenang Pemilu di Garut Kota Dimulai Penertiban APK

Jelang HJG, Disdamkar Garut Terjunkan Dua Unit Kendaraan Power Supply ke Alun- alun