in

Ketika Sekolah Negeri Kembali Berkasta

Foto: H. Nanang.,SH., Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Garut.

Garutexpo.com – Di tengah semangat perubahan yang terus digelorakan Dedi Mulyadi di Jawa Barat, lahirlah sebuah gagasan yang langsung menyedot perhatian publik: Sekolah Maung. Nama itu terdengar gagah. Maung harimau dalam khazanah Sunda adalah lambang keberanian, kewibawaan, dan kekuatan. Sebuah simbol yang ingin menegaskan bahwa sekolah ini akan melahirkan generasi tangguh, cerdas, dan siap memimpin masa depan.

Banyak orang menyambutnya dengan antusias. Wajar. Di tengah keluhan mutu pendidikan,
hadirnya sekolah unggulan terdengar seperti oase. Masyarakat selalu punya harapan besar pada
sekolah yang menjanjikan kualitas lebih baik. Siapa yang tak ingin anaknya masuk sekolah terbaik? Namun di balik nama yang gagah itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi namun penting: janganjangan ini bukan sekadar sekolah unggulan, tetapi pintu masuk bagi lahirnya kasta baru di sekolah negeri.

Luka Lama yang Kembali Mengintip
Bangsa ini pernah mengalami masa ketika sekolah negeri terbagi menjadi kelas-kelas sosial yang
tidak tertulis. Ada sekolah favorit, dan ada sekolah pelengkap. Ada sekolah yang diperebutkan,
ada sekolah yang hanya menjadi tempat menampung sisa.

Orang tua memahami betul arti nama sekolah. Satu nama sekolah bisa mengubah cara pandang
masyarakat terhadap masa depan seorang anak. Karena itu banyak keluarga rela melakukan apa
saja: pindah domisili, meminjam kartu keluarga, mencari jalur belakang, bahkan menunggu belas
kasihan sistem.

Sekolah bukan lagi ruang belajar. Ia berubah menjadi penentu status sosial. Ketika pemerintah memperkenalkan zonasi, banyak yang menolak.

Namun kebijakan itu lahir
dengan satu semangat besar: menghapus kasta sekolah. Anak-anak cerdas tidak boleh
menumpuk di satu sekolah. Sekolah negeri tidak boleh hanya menjadi milik kelompok tertentu.

Kini, ketika Sekolah Maung digagas sebagai sekolah unggulan yang menampung siswa pilihan,
memori lama itu seperti kembali mengetuk pintu. Jangan-jangan kita sedang mundur ke masa
lalu, hanya dengan nama yang lebih gagah.

Ketika Niat Baik Bertemu Kenyataan
Tidak ada yang salah dengan niat membangun sekolah unggul. Bahkan itu penting. Setiap daerah
perlu pusat keunggulan sebagai model. Tetapi dalam pendidikan, niat baik tidak selalu cukup.
Masalah pendidikan bukan hanya soal membangun satu sekolah hebat. Masalahnya adalah bagaimana memastikan ribuan sekolah lain tidak tertinggal.

Sekolah negeri dibiayai uang rakyat. Ia dibangun dengan pajak masyarakat. Maka prinsip dasarnya
sederhana: ia harus melayani semua, bukan sebagian. Ketika sekolah negeri diberi status
istimewa dan hanya menerima kelompok tertentu melalui seleksi khusus, maka pertanyaan
keadilan tak bisa dihindari.

Apakah sekolah yang dibiayai negara boleh menjadi ruang eksklusif? Apakah anak-anak yang tidak lolos kategori unggulan harus puas dengan sekolah yang dianggap biasa?
Pertanyaan ini bukan soal iri pada prestasi. Ini soal hak.

Karena dalam pendidikan, keunggulan yang dibangun dengan menyingkirkan yang lain sering kali hanya menciptakan ketimpangan yang baru.
Sekolah Unggulan, Sekolah Lain Tertinggal
Setiap kebijakan memiliki wajah yang terlihat dan wajah yang tersembunyi. Sekolah Maung
mungkin akan melahirkan sekolah-sekolah hebat. Tetapi di sisi lain, sekolah lain bisa perlahan
kehilangan daya hidup.

Ketika siswa terbaik berkumpul di satu sekolah, sekolah lain kehilangan denyut. Atmosfer
akademik menurun. Kompetisi melemah. Sekolah yang sebelumnya hidup menjadi biasa-biasa
saja.

Lebih jauh, ini juga berdampak pada guru. Guru terbaik cenderung ingin mengajar di sekolah
unggulan. Orang tua pun berbondong-bondong menuju sekolah yang dianggap prestisius. Maka
sekolah lain perlahan kehilangan kepercayaan masyarakat.

Akhirnya, yang tercipta bukan sekadar sekolah unggulan, tetapi stratifikasi. Sekolah negeri
kembali bertingkat. Ada yang dianggap elite, ada yang dianggap alternatif. Inilah bibit kasta baru.

Prestasi Tidak Selalu Adil
Sekolah Maung digadang-gadang untuk menampung siswa berprestasi. Terdengar objektif. Tapi ada satu hal yang sering luput: prestasi lahir dari kesempatan.

Anak yang tumbuh di kota, punya akses internet, kursus, bimbingan belajar, dan lomba tentu lebih
mudah mengumpulkan prestasi. Sementara anak desa yang harus membantu orang tua, belajar
dengan fasilitas seadanya, sering kali tak punya ruang menunjukkan kecerdasannya.

Maka ketika seleksi hanya berbasis prestasi formal, yang sering lolos bukan yang paling berbakat, melainkan yang paling terfasilitasi.
Di sinilah pendidikan bisa tanpa sadar memperkuat jurang sosial.Sistem terlihat adil, tetapi titik start setiap anak berbeda. Sekolah yang seharusnya menjadi jembatan mobilitas sosial, justru berubah menjadi cermin ketidaksetaraan.

Regulasi Tak Boleh Dilewati

Sebagus apa pun sebuah program, pendidikan tetap harus berjalan dalam aturan.
Penerimaan siswa saat ini diatur dalam sistem nasional. Jalurnya jelas: domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi. Kuota dan mekanismenya sudah ditetapkan pemerintah pusat.

Provinsi memang berwenang mengelola SMA/SMK, tetapi tidak bebas menciptakan jalur baru sesuka hati. Jika Sekolah Maung menerapkan mekanisme di luar sistem nasional tanpa
sinkronisasi, maka berpotensi menabrak regulasi.
Masalahnya bukan semata hukum. Masalahnya adalah kepercayaan.

Masyarakat perlu kepastian. Orang tua perlu kejelasan. Satu perubahan mendadak bisa membuat ribuan keluarga gelisah.
Dalam pendidikan, keputusan yang terburu-buru bukan sekadar administrasi. Ia menyangkut
masa depan anak-anak.

Dari Sudut Pandang Lapangan
Bagi mereka yang pernah terlibat dalam pengawasan pendidikan, persoalan ini sangat nyata. Satu kebijakan di tingkat provinsi bisa mengubah peta sekolah di kabupaten. Satu label
“unggulan” bisa membuat sekolah lain kehilangan murid. Satu keputusan bisa mengguncang
kepercayaan publik.

Masalah pendidikan tidak berhenti di surat keputusan. Ia masuk ke ruang guru, ruang kelas, ruang keluarga. Begitu sebuah sekolah diberi cap istimewa, persepsi masyarakat berubah. Dan persepsi itu sering lebih kuat daripada aturan.
Orang tua akan mengejar sekolah itu. Siswa terbaik akan menumpuk di sana. Guru akan berebut pindah. Sekolah lain perlahan kehilangan aura. Tanpa sadar, kasta tercipta bukan oleh undang-undang, tetapi oleh arus sosial.

Harimau dan Hutan

Ada satu pelajaran dari alam. Harimau tidak pernah kuat sendirian. Ia kuat karena hutan
menopangnya. Sekolah Maung mungkin akan melahirkan anak-anak unggul. Tetapi masa depan pendidikan Jawa Barat tidak ditentukan oleh puluhan sekolah unggulan. Ia ditentukan oleh ribuan sekolah lain yang menampung mayoritas anak bangsa.

Jika hanya membangun segelintir sekolah hebat, sementara sekolah lain dibiarkan tertinggal, itu
seperti memelihara harimau sambil merusak hutannya. Pada akhirnya, harimau pun akan kehilangan tempat hidup.

Keunggulan sejati bukan lahir dari pemusatan, tetapi pemerataan. Bukan dari mengumpulkan
semua yang terbaik di satu tempat, tetapi membuat semua tempat menjadi lebih baik.
Jalan yang Lebih Bijak
Sekolah Maung tidak harus ditolak. Gagasan besar tetap bisa menjadi baik jika dirancang dengan
adil.

Program ini akan lebih bermakna jika menjadi pusat inovasi, bukan sekolah eksklusif. Jika menjadi laboratorium pembelajaran yang menularkan praktik baik ke sekolah lain. Jika guru-gurunya membina sekolah sekitar. Jika keunggulan tidak berhenti di pagar sekolah, tetapi mengalir ke seluruh sistem.

Karena pendidikan bukan soal membuat satu mercusuar terang di tengah gelap. Pendidikan
adalah memastikan seluruh wilayah mendapat cahaya.

Jangan Ulangi Luka Lama

Sejarah sering berulang karena manusia terlalu cepat lupa. Sekolah favorit dulu pernah menjadi
kebanggaan. Tetapi ia juga meninggalkan luka: persaingan tidak sehat, diskriminasi, dan
ketimpangan. Kini, Sekolah Maung hadir dengan semangat baru. Ia bisa menjadi terobosan. Tetapi ia juga bisa menjadi pengulangan masa lalu jika hanya mengejar simbol keunggulan.

Pendidikan bukan panggung untuk menobatkan siapa yang terbaik. Pendidikan adalah ladang
untuk menumbuhkan semua anak, baik yang lahir di kota maupun di kampung, yang kaya maupun
sederhana. Jawa Barat tidak hanya membutuhkan harimau. Jawa Barat membutuhkan hutan pendidikan yang sehat tempat setiap anak bisa tumbuh sesuai potensinya.

Sebab bangsa besar tidak dibangun oleh beberapa sekolah yang dipuja, tetapi oleh keberhasilan
memastikan setiap sekolah menjadi rumah yang bermartabat bagi masa depan anak-anak.
Maka pertanyaan sebenarnya bukan tentang Sekolah Maung. Pertanyaannya lebih dalam: apakah kita sedang membangun keadilan, atau hanya menghidupkan kembali kasta lama dengan nama yang lebih perkasa?

Dan ketika sekolah negeri kembali berkasta, yang kalah bukan hanya sekolah tertentu. Yang kalah
adalah cita-cita pendidikan itu sendiri..

Ditulis oleh: H.Nanang., SH., Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Garut.

Ditulis oleh Kang Zey

Heboh di Garut! Oknum Guru Ngaji Diduga Cabuli Siswi SD kelas 6, Warga Nyaris Amuk Pelaku