Garutexpo.com – Polemik tidak masuknya Kabupaten Garut dalam rangkaian kirab budaya Napak Tilas Pajajaran akhirnya menemukan titik terang. Setelah menuai sorotan dari para pemerhati sejarah dan budaya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dipastikan akan berkunjung ke Garut sekaligus memasukkan daerah tersebut ke dalam rute kegiatan budaya tersebut.
Keputusan tersebut disambut hangat oleh tokoh adat dan budayawan di Garut. Salah satunya datang dari Kang Oos Supyadin yang sebelumnya secara terbuka mempertanyakan keputusan panitia terkait tidak dilibatkannya Garut.
“Alhamdulillah, Kang Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat telah merespons. InsyaAllah besok, Selasa kirab Binokasih akan dimulai dari Korem Garut menuju Pendopo Garut,” ujar Kang Oos, Senin (5/5/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi atas respons cepat yang diberikan oleh gubernur.
“Hatur nuhun Pak Gubernur atas respon dan koreksinya, semata-mata untuk meluruskan sejarah agar benar-benar napak,” tambahnya.
Sebelumnya, rangkaian peringatan Milangkala Tatar Sunda bertema “Nyuhun Buhun Nata Nagara” yang digelar sepanjang Mei 2026 sempat menuai kritik. Pasalnya, Garut tidak tercantum dalam agenda utama kirab budaya Napak Tilas Pajajaran, yang menjadi salah satu kegiatan unggulan dalam peringatan tersebut.
Kirab tersebut awalnya dijadwalkan dimulai dari Keraton Sumedang Larang pada 2 Mei 2026, kemudian melintasi sejumlah daerah seperti Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Karawang, hingga Kota Cirebon, sebelum berakhir di Kota Bandung pada 16–17 Mei 2026.
Tidak masuknya Garut dalam daftar tersebut sempat menimbulkan tanda tanya besar, mengingat daerah ini memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan perjalanan Kerajaan Pajajaran, khususnya terkait penyelamatan Mahkota Binokasih.
Kang Oos menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah, setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran pada 1579 Masehi, Mahkota Binokasih sempat diamankan di wilayah Limbangan, Garut.
“Jalur penyelamatan saat itu melalui pantai selatan untuk menghindari kejaran pasukan Banten, sebelum akhirnya diserahkan ke Sumedang Larang. Ini fakta sejarah yang sangat penting,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan Garut dalam rangkaian Napak Tilas Pajajaran menjadi bagian penting dalam merepresentasikan sejarah secara utuh.
“Dengan masuknya kembali Garut dalam rangkaian ini, tentu menjadi pelengkap yang selama ini dirasa kurang,” katanya.
Dimasukkannya Garut dalam agenda kirab budaya ini diharapkan tidak hanya menjadi koreksi terhadap rute kegiatan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah serta peran penting wilayah Garut dalam perjalanan peradaban Sunda.
Rahayu.


