in

Jerit Penjaga Pusaka Limbangan Menggema: Nyai Tangulun Soroti ‘Gebyar’ Budaya yang Dinilai Abaikan Ruh Sejarah

Foto: Perhelatan Gebyar Pesona Budaya Garut di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Sabtu (25/4/2026).

Garutexpo.com – Sebuah surat terbuka penuh keprihatinan dan emosi mendalam datang dari Nyai Tangulun – Ani Suhartini, seorang perempuan yang selama ini dikenal sebagai penjaga manuskrif pusaka keramat Limbangan. Surat tersebut ditujukan kepada Bupati Garut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, panitia Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG) 2026, serta masyarakat luas.

Dalam suratnya, Nyai Tangulun mengungkapkan rasa kecewa karena lembaga yang ia pimpin, yakni KB Tangulun dan Museum Bumi Nyai Tangulun, tidak dilibatkan dalam perhelatan budaya yang mengangkat nama besar Limbangan sebagai bagian dari pesona budaya Garut.

Ia menegaskan, dirinya menulis bukan sebagai pejabat atau tamu undangan, melainkan sebagai perempuan yang memegang amanah besar untuk menjaga dan mewariskan manuskrif kuno Limbangan kepada generasi berikutnya.

“Saya menulis sebagai perempuan yang dititipi mandat menurunkan pusaka manuskrif keramat Limbangan ke anak cucu,” tulisnya, Selasa, 28 April 2026.

Nyai Tangulun menggambarkan perasaannya seperti “disembunyikan dari rumah sendiri”, karena menurutnya manuskrif asli Limbangan beserta berbagai pusaka seperti Genta Lembu Nandini, Bajra Ghanta, Kujang, hingga Siwur Kabuyutan selama ini dirawat di museum yang ia kelola, namun tidak dilibatkan dalam agenda budaya tersebut.

Selain itu, ia juga menyoroti minimnya pengakuan terhadap peran perempuan dalam menjaga warisan budaya. Ia mengungkapkan bahwa manuskrif penting Limbangan diselamatkan oleh ibunya, dan kini ia melanjutkan perjuangan tersebut dengan segala keterbatasan.

“Kami militan bukan karena ingin dikenal, tapi karena takut satu lembar naskah hilang, maka hilang satu peradaban,” ungkapnya.

Dalam bagian lain, Nyai Tangulun menyinggung luka sejarah tahun 1813, saat pusat Limbangan dibubarkan dan dipindahkan. Ia menilai kondisi saat ini seolah mengulang peristiwa tersebut, di mana penjaga pusaka kembali dipinggirkan dari narasi besar budaya.

“Limbangan digebyarkan, tapi penjaga pusakanya dipinggirkan. Rasanya seperti luka lama yang kembali terbuka,” tulisnya.

Melalui surat terbuka ini, ia meminta pemerintah untuk lebih peka, bijak, dan adil dalam memandang peran para penjaga budaya. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal acara seremonial, tetapi juga tentang menjaga sumber asli sejarah.

Nyai Tangulun juga menyoroti ketimpangan antara besarnya anggaran kegiatan budaya dengan kondisi museum yang harus bertahan secara mandiri.

“Jangan sampai anggaran miliaran untuk gebyar, tapi museum yang menyelamatkan sejarah harus berjuang sendiri,” tegasnya.

Di akhir suratnya, ia mengajak para pemangku kebijakan dan masyarakat untuk datang langsung ke Museum Bumi Nyai Tangulun guna melihat kondisi manuskrif yang ia rawat, sekaligus memahami bahwa pesona budaya Garut sejatinya lahir dari sejarah panjang Limbangan.

“Limbangan boleh kalah perang, tapi jangan sampai kalah ingatan,” tulisnya, menutup surat dengan pesan yang kuat.

Surat terbuka ini kini menjadi perhatian publik dan memantik diskusi luas terkait pentingnya pelibatan pelaku budaya asli dalam setiap agenda pelestarian budaya di Kabupaten Garut.***

Ditulis oleh Kang Zey

Jangan Kaget! 100 Surat Tilang Dikirim Setiap Hari, Polisi Garut Sasar Pelanggar Sepele