Garutexpo.com – Warisan sejarah seringkali membentuk identitas sebuah budaya, dalam hal ini adalah sebuah penanggalan kalender tahunan yang menggabungkan akar-akar budaya dari tradisi berbeda yakni kalender Tahun Saka, Tahun Masehi, Tahun Hijriyah, Tahun Jawa bahkan ada juga Tahun Kala Sunda.
Disamping jenis penanggalan kalender yang disebutkan diatas, kita pun perlu mengenal jenis kalender tertua di dunia. Kalender tertua di dunia yang diketahui saat ini adalah Kalender Göbekli Tepe di Turki selatan, berupa pilar batu berukir yang berusia sekitar 12.000 tahun (dibuat sekitar 10.000 SM). Ukiran ini berfungsi sebagai kalender surya (matahari) untuk mencatat pergerakan benda langit.
Selain itu, terdapat beberapa penanggalan kuno terkenal lainnya di dunia:
1. Kalender Warren Field (Skotlandia): Berusia 10.000 tahun. Ditemukan pada tahun 2013 berupa formasi 12 lubang di tanah yang berfungsi meniru fase siklus perputaran bulan (kalender lunar).
2. Kalender Babilonia (Mesopotamia): Berusia 5.000 tahun (sekitar 3000 SM). Ini adalah kalender terstruktur pertama yang membagi tahun menjadi 12 bulan lunar dengan 30 hari.
3. Nebra Sky Disc (Jerman): Berusia 3.600 tahun (sekitar 1600 SM). Piringan perunggu kuno ini memetakan bulan dan bintang yang digunakan sebagai kalender untuk mengatur siklus tanam.
4. Kalender Imlek (Tiongkok): Sistem kalender lunisolar tertua yang masih digunakan secara tradisional hingga hari ini, berakar sejak ribuan tahun lalu (sekitar abad ke-14 SM).
Kalender Tahun Saka
Kalender Tahun Saka ini tidak bisa dilepaskan dengan legenda tokoh besar bernama Aji Saka, karena dari tokoh ini pula nama Kalender Tahun Saka diambil.
Dalam praktiknya, Kalender Hindu-Budha yang sejalan dengan masuknya ajaran Hindu-Budha telah mengalami proses adaptasi dengan sistem penentuan waktu yang sudah digunakan dan khas Nusantara yang disebut dengan sistem Pawukon. Meski demikian, hingga saat ini belum ada keterangan valid terkait kapan Kalender Saka mulai digunakan di Nusantara.
Penggunaan Tahun Saka yang dianggap tertua ada pada Prasasti Kedukan Bukit dari Kerajaan Sriwijaya yang berangka tahun 605 Saka atau 683 Masehi. Sistem Kalender Saka sendiri terdiri dari 12 bulan, yang merujuk pada sistem luni-solar. Perbedaan tahun Saka dan Masehi terpaut 78 tahun.
Adapun ke-12 nama bulan pada kalender Tahun Saka sesuai urutannya adalah Cetramasa (Chaitra), Wesakhamasa (Vaisakha), Jyesthamasa (Jyeshtha), Asadhamasa (Ashadha), Srawanamasa (Shravana), Bhadrawadamasa (Bhadrapada), Asujimasa (Ashvina), Kartikamasa (Kartika), Margasiramasa (Margashirsha), Paushamasa (Pausha), Maghamasa (Magha), dan Phalgunamasa (Phalguna).
Tahun baru Saka disebut Hari Raya Nyepi, yang secara khusus hanya dijalankan oleh umat Hindu dalam merayakannya setiap pergantian tahun berdasarkan kalender Saka dengan melakukan penyucian diri dan pantangan melalui tradisi Catur Brata Penyepian (tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak bersenang-senang).
Kalender Tahun Jawa
Peradaban Jawa tergolong peradaban yang maju, selain memiliki aksara, Jawa juga memiliki sistem penanggalan yang hingga kini secara konsisten masih digunakan, bahkan imbas dari penguasaan kerajaan Mataram (Jawa) atas daerah Tatar Sunda maka oleh sebahagian masyarakat Sunda pun kalender Jawa tersebut masih digunakan.
Sistem penanggalan Jawa yang ada sekarang merupakan perpaduan dari sistem penanggalan masa lalu yang berdasarkan perputaran matahari, dengan sistem baru yang berdasarkan perputaran bulan. Adapun sistem penanggalan masa lalu disebut dengan Kalender Saka-Hindu, yang mana sistem penanggalan menjadikan putaran matahari sebagai patokan.
Masuknya pengaruh Islam ke Nusantara turut mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, salah satunya adalah sistem penanggalan Jawa yang dikenal dengan Kalender Tahun Jawa atau Kalender Jawa Islam. Kalender Jawa Islam ditetapkannya pada masa Mataram Islam, tepatnya saat Sultan Agung Hanyakrakusuma berkuasa (1613-1645). Sultan Agung adalah raja ketiga dari Kerajaan Mataram Islam.
Menurut Ghoffar Ismail bahwa Kalender Tahun Jawa adalah buah dari percampuran antara penanggalan Saka dari India dengan Kalender Hijriah. Keunikan inilah yang menjadikan Kalender Jawa memiliki nilai dan makna yang mendalam. Sebelumnya, Mataram Islam telah mengadopsi kalender Saka dalam penghitungan waktu mereka. Namun, perubahan penting datang dengan tangan bijak Sultan Agung. Pada hari Jumat Legi, di saat pergantian tahun baru Saka 1555, yang tak terpisahkan dari tahun baru Hijriah 1 Muharam 1043 H dan 8 Juli 1633 M, Kalender Tahun Jawa mengalami perubahan mendasar, hingga sekarang angka tahun Jawa telah mencapai 1960.
Perubahan dari Kalender Saka kepada Kalender Jawa Islam berangkat dari fakta Kalender Saka yang bersistem putaran matahari (solar) berbeda dengan penanggalan Hijriyah yang menggunakan putaran bulan atau lunar.
Penggunaan Kalender Saka pada tatanan kehidupan masyarakat yang mulai memeluk Islam sangat besar. Misalnya, perayaan adat keraton yang bernapas Islam tidak bisa selaras dengan perayaan hari besar Islam karena perbedaan sistem penanggalan. Sementara, sebagai seorang raja yang memeluk Islam, Sultan Agung menghendaki agar perayaan adat keraton bisa selaras dengan perayaan hari besar Islam. Dari sini muncul gagasan untuk membuat sistem penanggalan baru yang memadukan kalender Saka dengan Hijriyah. Sistem penanggalan baru ini yang kemudian dikenal dengan Kalender Tahun Jawa Islam atau Kalender Sultan Agungan.
Sistem penanggalan Jawa yang baru ini secara angka tahun tetap meneruskan tahun Saka. Namun sistem perhitungannya diubah dari yang berpatokan pada putaran matahari kepada perhitungan berdasarkan putaran bulan. Pada praktiknya, perubahan ini tidak mengakibatkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Sebab, perubahan tidak dilakukan dengan memutus perhitungan dari tatanan lama yang sudah digunakan masyarakat.
Sebagaimana layaknya sistem penanggalan, Kalender Jawa Islam atau Kalender Sultan Agungan juga memiliki siklus hari dan bulan. Siklus hari pada Kalender Jawa Islam terdiri dari tujuh hari (saptawara) dan lima hari pasaran (pancawara). Saptawara terdiri dari Ngahad (Dite), Senen (Soma), Selasa (Anggara), Rebo (Buda), Kemis (Respati), Jemuwah (Sukra), dan Setu (Tumpak). Sementara pancawara atau hari pasaran Jawa terdiri dari Kliwon (Kasih), Legi (Manis), Pahing (Jenar), Pon (Palguna), dan Wage (Cemengan). Siklus pancawara menawarkan perspektif yang lebih dalam terhadap alur waktu. Seperti aliran sungai yang tak henti mengalir, setiap hari pasaran membawa karakteristik dan energi tersendiri, menciptakan ritme kehidupan yang khas.
Sedangkan siklus bulan pada sistem penanggalan Jawa Islam terdiri dari 12 bulan. Berbeda dengan Kalender Saka, pada sistem yang baru ini nama-nama bulan diserap dari bahasa Arab. 12 bulan dalam kalender Jawa Islam yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar. Umur tiap bulan antara 29 atau 30 hari.
Satu tahun dalam Kalender Jawa Islam ini berumur 354 3/8 hari. Terdapat siklus delapan tahunan yang disebut dengan windu, dan masing-masing memiliki nama yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir. Jimakir memiliki umur 355 hari, dan dikenal sebagai tahun panjang atau Taun Wuntu. Sementara tahun yang lain berumur 354 hari yang disebut tahun pendek atau Taun Wastu.
Namun, di balik harmoni ini, terdapat jejak sejarah yang menggugah. Penanggalan ini merupakan hasil kreasi bijak Sultan Agung, yang pada suatu hari Jumat Legi mengubah sistem penanggalan sekaligus menggambarkan semangat penyatuan dalam perbedaan. Kalender Jawa ini memiliki wilayah keberlakuan yang meliputi Pulau Jawa dan Madura, mempererat ikatan budaya di antara penduduknya.
Dalam narasi sejarah tentang Kalender Jawa ini terdapat catatan khusus. Banten, sebuah daerah dengan ciri khasnya sendiri, terpencil dari implementasi sistem penanggalan ini. Meskipun mungkin terasa seperti sekadar catatan kaki dalam sejarah, hal ini mengingatkan kita akan kompleksitas dan dinamika dalam penyebaran budaya dan tradisi.
Dalam penentuan 1 Sura Tahun 2026, maka berdasarkan kalender Jawa yang dikeluarkan resmi dari Kementerian Agama RI bahwa 1 Sura 1960 bertepatan dengan hari Rabu tanggal 17 Juni 2026.
Namun secara tradisi Jawa dapat berlangsung pada malam Selasa 16 Juni 2026, penanggalan Jawa yang dimulai sejak Magrib membuat malam tersebut sudah masuk tanggal 1 Suro 1960 Jawa, sehingga wetonnya mengikuti hari berikutnya, yakni Rabu Kliwon dengan Weton Tulang Wangi.
WILUJENG TEPUNG TAUN ANYAR 1 SURO 1960 JAWA
Rahayu.
Di tulis oleh: Oleh : Kang Oos Supyadin SE MM, Pemerhati Kesejarahan & Budaya.

