GARUTEXPO – Di tengah geliat industri kreatif di Kabupaten Garut, Rumah Tenun Sutra dan Batik Tulis Garut RPG (Ralisha Puta Garut) yang berlokasi di Jalan Otista No. 10B, Pasawah Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, hadir sebagai salah satu ikon pelestarian budaya lokal yang terus bertumbuh. Usaha ini digagas oleh Rajib Nashrudin sejak tahun 2005 dan kini menjadi representasi nyata bagaimana tradisi dan inovasi dapat berjalan seiring.
Rajib menceritakan perjalanan panjang usahanya. Ia mengawali karier sebagai penjual batik milik orang lain, namun ketertarikan terhadap batik dan tenun telah tumbuh sejak tahun 1997.
“Dari 2005 sampai 2011 kami jatuh bangun lebih dari 10 kali. Tapi Alhamdulillah sejak 2012 usaha mulai lancar hingga sekarang,” ungkap Rajib saat di temui garutexpo.com, Sabtu 17 Mei 2025.
Kini, RPG tak hanya menjual, melainkan juga memproduksi batik dan tenun sutra Garut sendiri dengan motif dan desain khas yang memiliki nilai sejarah dan filosofi. Tercatat ada sekitar 350 motif batik Garut yang telah terdokumentasi, beberapa di antaranya bahkan menjadi nama jalan di Kota Bandung seperti Jalan Suliga, Jalan Pecah Kopi dan Jalan Merak ngibing. Ini menandakan pentingnya batik Garut sebagai icon budaya Jawa Barat.
Tiga Proses Tradisional dalam Satu Lembar Kain
Keunikan produk RPG terletak pada proses produksinya yang menggabungkan tiga teknik tradisional dalam satu kain, yaitu tenun ATBM (alat tenun bukan mesin), ragamhias (sulam benang pada ribuan bentangan benang), dan batik tulis menggunakan canting kecil. Proses ini menciptakan batik yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna budaya.
Rajib menjelaskan bahwa produk batik RPG memiliki variasi harga yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Untuk pasar menengah ke bawah, harga batik berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp500 ribu dan sering digunakan untuk seragam sekolah atau perusahaan. Sedangkan untuk pasar menengah ke atas, tersedia batik seharga Rp750 ribu hingga Rp2 juta, cocok untuk keperluan pesta dan pernikahan.
“Kami juga memproduksi batik premium yang dikerjakan selama tujuh bulan dengan tiga proses tradisional. Harganya mulai dari Rp2,5 juta hingga Rp25 juta per lembar,” ujar Rajib.

Produk premium ini hanya dipasarkan secara terbatas kepada komunitas pecinta batik, para penggagas batik, hingga pejabat, menteri dan artis.
Misi Menggarutkan Batik, Membatikan Garut
Rajib kini mengusung misi besar untuk “menggarutkan batik” dan “membatikan Garut”, dengan harapan masyarakat lokal semakin bangga dan mencintai produk batik khas daerahnya.
“Di Garut sekarang sudah bisa memproduksi batik yang murah tapi berkualitas. Harapannya, dari ASN sampai masyarakat umum membiasakan pakai batik Garut,” ujarnya.

RPG juga aktif berkolaborasi dengan pengrajin batik lokal dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku hingga proses produksi. Langkah ini bertujuan untuk menjadikan motif khas Garut sebagai kebanggaan kolektif.
Motif batik Garut sendiri dikenal dengan tiga warna dominan: biron (biru), sogan Garut (merah bata), dan gading (putih tulang kekuningan), serta beberapa aksen warna lain seperti pink, kuning, dan oranye. Setiap motif mengandung filosofi mendalam yang merepresentasikan kekayaan budaya lokal, seperti motif gunung yang menggambarkan Papandayan, teratai untuk legenda Situ Bagendit, dan danau untuk Telaga Bodas.

Dekatkan Batik ke Masyarakat, Berdayakan Ekonomi Lokal
Di masa awal, 80 persen penjualan batik RPG dilakukan di luar daerah seperti Jakarta. Namun kini, Rajib ingin membalik keadaan dengan menargetkan 80 persen penjualan justru berasal dari Garut.
“Semua ASN, guru, dan kantor di Garut bisa diseragamkan memakai batik dengan motif khas Garut. Harganya sangat terjangkau dan bisa disesuaikan. Ini mungkin terdengar seperti mimpi, tapi kami sedang mewujudkannya,” katanya.

Untuk mencapai tujuan ini, Rajib telah menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya mendirikan konter atau workshop batik di setiap kecamatan dan menggelar pelatihan pembuatan batik lokal.
“Misalnya di Kecamatan Cisurupan punya batik Papandayan, dan Banyuresmi punya batik Bagendit. Di sana nanti dikembangkan lagi jenis batik semi-tulis maupun cap yang terjangkau bagi masyarakat,” ungkapnya.

Selain pelatihan produksi, RPG juga merancang pelatihan pemasaran bagi warga yang ingin menjadi reseller batik Garut. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
“Saya berharap semua pemegang kebijakan bisa bekerjasama mewujudkan mimpi ini,” pungkasnya.

Bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat Batik Garut RPG, informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram resmi di @batikgarut_rpg.(*)


