Garutexpo.com – Semangat baru mulai terasa di SMPN 1 Tarkid (Tarogong Kidul), Kabupaten Garut. Kepala sekolah yang baru, Lia Wilianti K, membawa visi besar dalam membangun lingkungan pendidikan yang nyaman, kolaboratif, dan berkarakter.
Sebelumnya, Lia menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 5 Malangbong. Dengan pengalaman tersebut, ia menegaskan bahwa arah pendidikan di sekolah tetap berpegang pada visi utama, yakni mencetak peserta didik yang unggul dalam IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) serta IMTAQ (Iman dan Taqwa).
“Dari visi misi itu sudah terlihat bagaimana kemampuan akademik anak dibangun, sekaligus karakternya,” ungkap Lia saat dikonfirmasi garutexpo.com, dikantornya, Jum’at, 9 April, 2026.
Memasuki lingkungan baru, Lia langsung fokus merangkul peserta didik dan tenaga pendidik. Ia menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang nyaman agar proses pembelajaran berjalan optimal.
“Peserta didik harus nyaman belajar, pendidik juga harus nyaman mengajar. Kalau keduanya selaras, maka kolaborasi akan terbangun dengan baik,” jelasnya.
Tak hanya di dalam kelas, Lia juga memberi perhatian besar pada lingkungan sekolah. Ia mendukung program Bupati Garut dengan slogan Garut HEBAT (Hijau, Bersih, Sehat). Berbagai langkah dilakukan, mulai dari menghadirkan tanaman dalam pot untuk penghijauan hingga menjalin kerja sama pengangkutan sampah harian agar lingkungan tetap bersih.
“Sekarang sampah diangkut setiap hari, jadi tidak menumpuk. Ini penting untuk kenyamanan dan kesehatan,” ucapnya.
Dari sisi kesehatan, Lia juga aktif memantau kondisi kantin sekolah. Ia memastikan makanan yang dijual bersih, sehat, dan berkualitas, sejalan dengan program pemerintah terkait penyediaan makanan bergizi bagi siswa.
Lebih jauh, Lia memperkenalkan konsep “STARKID” (Star and Kid) sebagai identitas baru sekolah. Konsep ini bertujuan melahirkan siswa unggulan yang berprestasi dan berkarakter, hasil dari kolaborasi seluruh elemen sekolah.
“Saya ingin anak-anak di sini menjadi ‘bintang’, hasil didikan bersama semua stakeholder,” tegasnya.
Terkait penggunaan dana BOS tahun ini, Lia menyebutkan bahwa prioritas utama difokuskan pada penunjang pembelajaran. Salah satunya adalah pengadaan buku sumber untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya bagi siswa kelas IX.
Selain itu, sekolah juga mengalokasikan anggaran untuk sarana penunjang mata pelajaran, seperti alat musik angklung untuk kegiatan seni budaya, serta kebutuhan lainnya seperti alat tulis kantor (ATK).
Tidak hanya buku pelajaran, pihak sekolah juga menyediakan berbagai buku literasi, termasuk buku cerita yang disesuaikan dengan usia siswa guna meningkatkan minat baca.
“Yang penting anak-anak punya ketertarikan membaca, tidak harus selalu buku pelajaran,” ujarnya.
Untuk perbaikan fasilitas, Lia menyebut hanya dilakukan perbaikan ringan, sementara rehabilitasi besar menjadi kewenangan pemerintah.
Saat disinggung mengenai besaran dana BOS yang diterima, Lia belum dapat memberikan keterangan rinci. Ia mengaku masih dalam tahap penyesuaian di lingkungan barunya.
“Saya masih baru di sini, jadi masih melakukan penataan terkait tugas pokok dan melihat apa saja yang dibutuhkan maupun yang sudah tersedia,” katanya.***












