in

Dari Kontrakan Sederhana di Jakarta, Lahir Gerakan Besar untuk Garut: Kisah ASGAR JAYA yang Menginspirasi

Foto: H. Atjeng Muhyidien.

Garutexpo.com — Tidak ada sesuatu yang lahir tanpa sejarah. Begitu pula kisah lahirnya solidaritas warga Garut di tanah rantau yang kini dikenal dengan nama ASGAR JAYA—sebuah gerakan kebersamaan yang tumbuh dari kesederhanaan, namun memberi dampak besar bagi kampung halaman.

Semua bermula dari sebuah kontrakan sederhana di kawasan Tanah Rendah, Jatinegara, Jakarta Timur. Di tempat itulah, warga Garut perantauan dari berbagai latar belakang profesi—mulai dari tukang sol sepatu, tukang cukur, hingga pedagang kitab—berkumpul dalam satu tujuan: menjaga silaturahmi.

Kegiatan rutin pun digelar setiap Kamis malam Jumat, berupa Yasinan dan doa bersama. Dari sinilah benih kebersamaan mulai tumbuh, menguatkan rasa persaudaraan di antara sesama urang Garut di tanah Betawi.

Seiring berjalannya waktu, muncul gagasan besar dari seorang pemuda asal Limbangan, Atjeng Muhyidien. Ia menginisiasi upaya untuk menyatukan seluruh warga Garut di perantauan. Gagasan ini mendapat sambutan luas dan mempertemukan berbagai tokoh, di antaranya Dicky Zulkarnaen, Kolonel Asep yang bertugas di Kodim Jatinegara, serta sejumlah tokoh Garut lainnya.

Langkah besar kemudian terjadi saat mereka bertemu dengan Jenderal Adang Ruchiyatna, kemenakan Jenderal Wirahadikusuma asal Limbangan. Dalam pertemuan tersebut, lahirlah sebuah ide yang kemudian menjadi identitas gerakan ini.

“Jangan hanya ASGAR saja, tambahkan JAYA, karena kita berkumpul di Jakarta,” ujar Jenderal Adang kepada Dicky Zulkarnaen.

Dari sanalah nama ASGAR JAYA resmi digunakan—sebuah simbol kebersamaan warga Garut di tanah ibu kota.

Gerakan ini terus berkembang. Jaringan silaturahmi meluas hingga mempertemukan berbagai tokoh lain seperti Dani Salis Wijaya asal Sukawening, Kang Idris yang dikenal sebagai orang kepercayaan Mba Tutut, hingga Kang Indra Rukmana.

Foto: H. Atjeng Muhyidien bersama istrinya.

Dari rangkaian pertemuan tersebut, lahirlah aksi nyata bertajuk “Qurban Bersama untuk Urang Garut”. Program ini berhasil mengumpulkan 124 ekor hewan qurban, terdiri dari domba dan sapi. Pelaksanaan kegiatan di Garut dipusatkan di Radio REKS bersama Kang Sofi, serta mendapat tambahan bantuan berupa 6 ton beras dari pihak donatur.

Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan solidaritas tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan yang tulus dan konsisten.

Salah satu pesan kuat yang terus digaungkan dalam perjalanan ASGAR JAYA adalah pentingnya menjaga sejarah dan meneruskan perjuangan:

“Inilah bukti: berkah itu lahir dari sejarah. Dari ngaji bareng di kontrakan sempit, jadi gerakan yang menyejahterakan kampung halaman. Ingat dulur, ASGAR JAYA bukan dibesarkan oleh nama besar, tapi oleh keringat tukang sol, tukang cukur, dan doa-doa Kamis malam yang tak pernah putus.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda Garut agar tidak melupakan akar perjuangan. Kekompakan hari ini adalah hasil dari pengorbanan masa lalu, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk terus merawatnya.

“Tong hilap kana sejarah. Kekompakan hari ini adalah utang kita pada perjuangan kemarin. Tugas kalian bukan hanya menikmati berkah, tapi melanjutkan silaturahmi, merawat solidaritas, dan menciptakan sejarah baru yang lebih hebat.”

Foto: H. Atjeng Muhyidien bersama H. Asep Sulaiman ketua Asgar jaya.

Dengan semangat sauyunan, ASGAR JAYA menjadi simbol bahwa persatuan warga Garut di mana pun berada adalah kekuatan besar yang tak akan lekang oleh zaman.

#Sauyunan urang panceg, ASGAR JAYA salawasna.#

Ditulis oleh: H. Atjeng Muhyidien.

Ditulis oleh Kang Zey

Siswa SD se-Garut Adu Cepat dan Cerdas di LCC, Cetak Generasi Unggul Masa Depan

Anggota Dewan Pendidikan Apresiasi Sekolah Sungai Cimanuk sebagai Wujud Edukasi Kepedulian Lingkungan