in

Seperempat Juta Warga Garut Masih Miskin, BPS Ungkap Fakta Mengejutkan

Ilustrasi

Garutexpo.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut merilis data terbaru mengenai tingkat kemiskinan di Kabupaten Garut per Maret 2025. Hasilnya menunjukkan angka kemiskinan memang mengalami penurunan, namun jumlah warga miskin masih tergolong tinggi dan menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik Nomor 01/07/3205/Th. VI yang dirilis pada 25 Juli 2025, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut pada tahun 2025 tercatat mencapai 252,56 ribu jiwa atau sebesar 9,39 persen dari total penduduk.

Angka tersebut menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 259,32 ribu jiwa atau 9,68 persen. Meski demikian, lebih dari 250 ribu warga Garut masih berada di bawah garis kemiskinan.

Data BPS memperlihatkan perjalanan angka kemiskinan di Garut selama 2016 hingga 2025 mengalami naik turun. Pada 2016, jumlah penduduk miskin tercatat mencapai 298,52 ribu jiwa atau 11,64 persen. Angka itu sempat turun hingga 235,19 ribu jiwa pada 2019.

Namun saat pandemi Covid-19 melanda, tingkat kemiskinan kembali meningkat tajam. Tahun 2021 menjadi salah satu titik tertinggi dengan jumlah penduduk miskin mencapai 281,4 ribu jiwa atau 10,65 persen.

Setelah pandemi mereda, angka kemiskinan perlahan kembali turun hingga berada di angka 252,56 ribu jiwa pada 2025.

Selain itu, BPS juga mencatat perubahan pada indikator kemiskinan lainnya. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) tahun 2025 berada di angka 1,38 atau turun 0,03 poin. Hal itu menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan.

Namun di sisi lain, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) justru naik menjadi 0,34 atau meningkat sebesar 0,05 poin. Kondisi ini menandakan ketimpangan di antara kelompok masyarakat miskin masih terjadi.

Sementara itu, garis kemiskinan di Kabupaten Garut terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada 2016 garis kemiskinan berada di angka Rp256.770 per kapita per bulan, sedangkan pada 2025 naik menjadi Rp407.191.

Kenaikan tersebut menggambarkan biaya kebutuhan hidup masyarakat yang terus meningkat. Situasi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan angka kemiskinan secara nyata.

Publik pun berharap penurunan angka kemiskinan di Garut tidak hanya sekadar terlihat dalam data statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok daerah.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Penyembelihan 2 Ekor Sapi dan 1 Ekor Domba Qurban di Perum Grya Citra Berlangsung Lancar dan Penuh Kebersamaan

Ini Daftar SMAN dan SMKN Favorit di Garut yang Jadi Rebutan Saat SPMB