Garutexpo.com – Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Garut berlangsung penuh kekeluargaan dan menghasilkan keputusan penting. Rd H. Aas Kosasih, S.Ag., M.Si. resmi terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah (PD) DMI Kabupaten Garut masa bakti 2026–2031 secara aklamasi, setelah memperoleh dukungan bulat dari 42 Pengurus Cabang DMI tingkat kecamatan se-Kabupaten Garut, dalam forum yang digelar pada Ahad, 28 Juni 2026.
Terpilihnya Rd H. Aas Kosasih secara aklamasi menjadi bukti besarnya kepercayaan para pengurus cabang terhadap sosok yang dinilai memiliki pengalaman organisasi, kapasitas kepemimpinan, serta komitmen kuat dalam memajukan peran masjid di tengah masyarakat.
Usai ditetapkan sebagai ketua, Rd H. Aas Kosasih menyampaikan rasa syukur sekaligus mengaku amanah tersebut merupakan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada organisasi, tetapi juga kepada Allah SWT.
“Pertama saya menghaturkan terima kasih. Meskipun seperti ketika Sayyidina Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pertama, beliau mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un*. Karena pada dasarnya semua kembali kepada Allah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebelum proses pemilihan sebenarnya sempat berniat mengundurkan diri dari kepengurusan DMI karena masih memiliki sejumlah tanggung jawab lain yang harus diselesaikan.
Namun keadaan berubah ketika salah satu tokoh yang sebelumnya dipersiapkan, yakni Ustaz Dana, mengalami gangguan kesehatan sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencalonan. Kondisi tersebut membuat dirinya akhirnya mendaftarkan diri sebagai calon ketua.
Selain itu, ia juga mengaku memperoleh dorongan moral dan spiritual dari sejumlah tokoh ulama di Kabupaten Garut, termasuk Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut agar bersedia mengemban amanah tersebut.
Masjid Harus Menjadi Pusat Peradaban Umat
Dalam pemaparannya, Rd H. Aas Kosasih menegaskan bahwa dirinya ingin mengubah paradigma masyarakat mengenai fungsi masjid.
Menurutnya, masjid tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat ibadah mahdhah semata, melainkan harus menjadi pusat pembinaan umat, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan sosial sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
“Masjid jangan hanya diidentikkan sebagai tempat ibadah vertikal kepada Allah. Masjid harus menjadi tempat yang menghadirkan hubungan kepada Allah sekaligus hubungan kepada sesama manusia (hablum minallah dan hablum minannas),” katanya.
Dengan mengucapkan La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim, ia menyatakan siap mengemban amanah tersebut dengan membawa visi besar menjadikan DMI Kabupaten Garut sebagai organisasi yang semakin kuat, profesional, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Soliditas Pengurus Jadi Prioritas Utama
Salah satu fokus utama kepemimpinannya adalah membangun kekompakan seluruh jajaran pengurus.
Menurutnya, sehebat apa pun sebuah organisasi tidak akan mampu berkembang apabila tidak dibangun di atas fondasi kebersamaan.
“Sebagus apa pun organisasi, tanpa soliditas kepengurusan itu bohong. Semua harus bergerak bersama, bekerja bersama-sama dan sama-sama bekerja. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.”
Ia ingin seluruh pengurus memiliki semangat kolektif dalam menjalankan program-program organisasi tanpa mengedepankan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ingin Hadirkan Masjid Percontohan Seperti Jogokariyan
Rd H. Aas Kosasih juga mengaku terinspirasi oleh keberhasilan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu masjid dengan pengelolaan modern dan sangat dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, konsep tersebut layak dijadikan inspirasi bagi pengembangan masjid-masjid di Kabupaten Garut.
“Saya ingin ada contoh nyata bahwa masjid benar-benar bermanfaat untuk umat. Saya sangat terinspirasi dengan Masjid Jogokariyan. Pengurusnya begitu ikhlas mengelola dana umat demi kemaslahatan masyarakat.”
Ia berharap ke depan akan lahir masjid-masjid percontohan di Garut yang bukan hanya ramai untuk ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga pelayanan umat.
Perjuangkan Kesejahteraan Imam dan Pengurus Masjid
Selain penguatan organisasi, Ketua DMI yang baru juga menaruh perhatian terhadap kesejahteraan imam, marbot, dan para pengurus masjid.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab DMI yang perlu diperjuangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Ia berencana membangun komunikasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Garut, DPRD, MUI, serta seluruh pemangku kepentingan agar program-program pemberdayaan masjid mendapat dukungan yang lebih besar.
“Saya ingin membawa DMI menjadi organisasi yang menghadirkan maslahat bagi umat. Karena itu harus ada kolaborasi dengan pemerintah daerah, DPRD, MUI dan seluruh pihak yang berkepentingan.”
Usung Filosofi Sunda dan Konsep “KONEKSI”
Dalam membangun kepemimpinan lima tahun ke depan, Rd H. Aas Kosasih memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai KONEKSI.
Konsep tersebut terdiri dari:
* Komitmen, membawa DMI semakin maju dan memakmurkan masjid.
* Semangat, bekerja dengan penuh dedikasi.
* Integritas, menjaga kepercayaan publik melalui kepemimpinan yang bersih.
* Kreativitas dan Inovasi, menghadirkan terobosan agar organisasi tidak berjalan stagnan.
* Konsistensi, tetap teguh menjalankan visi meski menghadapi berbagai tantangan.
Ia juga mengangkat filosofi Sunda sebagai simbol pentingnya kekompakan dalam organisasi.
Menurutnya, ketika seluruh pengurus diajak bergerak, maka semua harus siap berjalan bersama demi kemajuan DMI Kabupaten Garut.
Optimistis DMI Garut Lebih Maju
Menutup sambutannya, Rd H. Aas Kosasih berharap seluruh jajaran pengurus dapat bekerja secara solid sehingga berbagai program yang telah dirancang dapat segera diwujudkan.
Ia optimistis dalam satu hingga dua tahun ke depan masyarakat sudah dapat melihat perubahan nyata dalam kiprah DMI Kabupaten Garut.
“Mudah-mudahan dengan komitmen, semangat, integritas, kreativitas, inovasi dan konsistensi, satu sampai dua tahun ke depan DMI Kabupaten Garut benar-benar menunjukkan perubahan nyata dan semakin dirasakan manfaatnya oleh umat,”tuturnya.
Ketika ditanya soal dukungan pemerintah yang sebelumnya terhadap DMI Kabupaten Garut, Rd H. Aas Kosasih mengakui bahwa pada masa kepemimpinan Bupati Garut sebelumnya, pemerintah telah memberikan perhatian kepada DMI melalui bantuan anggaran.
“Alhamdulillah ada dukungan. Pada masa kepemimpinan Pak Rudy Gunawan jelas memberikan bantuan kepada DMI. Namun menurut saya masih ada persoalan pada nomenklatur dan mekanisme bantuan yang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Ia mengungkapkan adanya perbedaan perlakuan dibanding organisasi kemasyarakatan lainnya. Menurutnya, sejumlah ormas dapat menerima bantuan setiap tahun, sedangkan DMI selama ini hanya memperoleh bantuan setiap dua tahun sekali.
“Ini yang menjadi pertanyaan kami. Saya juga pernah berdiskusi dengan beberapa tokoh yang pernah menjadi anggota DPR. Mereka juga heran, kenapa organisasi lain bisa menerima bantuan setiap tahun, sementara DMI hanya dua tahun sekali. Kalau memang ada kekeliruan, mari kita duduk bersama, salahnya di mana sehingga bisa diperbaiki,” katanya.
Menurut Aas, pada masa program pembangunan daerah sebelumnya, perhatian terhadap penguatan kelembagaan DMI belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan organisasi.
Meski demikian, ia melihat adanya sinyal positif dari Pemerintah Kabupaten Garut saat ini. Pelaksanaan Musda DMI yang difasilitasi di Pendopo Garut menjadi bukti awal adanya perhatian dari pemerintah daerah.
“Alhamdulillah sekarang kami difasilitasi di Pendopo, disediakan tempat, makan dan minum. Ini menjadi pertanda baik bahwa Pemerintah Kabupaten Garut mulai membuka ruang komunikasi dengan DMI. Mudah-mudahan ini menjadi awal harmonisasi yang lebih baik ke depan,” ujarnya.
Ia berharap hubungan antara DMI dan Pemerintah Kabupaten Garut semakin erat sehingga berbagai program pemberdayaan masjid dapat berjalan lebih optimal demi kemaslahatan umat.
Dalam kesempatan tersebut, Aas juga mengungkapkan kondisi keuangan organisasi yang menurutnya masih sangat terbatas.
Ia menjelaskan, bantuan sebesar sekitar Rp100 juta yang pernah diterima DMI pada periode sebelumnya sebagian besar habis digunakan untuk melantik seluruh Pengurus Cabang (PC) DMI tingkat kecamatan serta membiayai operasional organisasi.
Sementara bantuan sekitar Rp50 juta berikutnya digunakan untuk pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (Diklat) Manajemen Kemasjidan.
“Setelah itu ya praktis harus berhemat. Bisa dibilang berpuasa karena anggarannya memang habis untuk kegiatan organisasi,” katanya sambil tersenyum.
Yang paling memprihatinkan, lanjutnya, hingga saat ini seluruh jajaran pengurus DMI Kabupaten Garut bekerja secara sukarela tanpa menerima honorarium.
“Pengurus tidak ada honor sama sekali. Semua bekerja karena panggilan pengabdian untuk memakmurkan masjid,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak akan menyurutkan semangat pengurus DMI dalam menjalankan amanah organisasi.
Ia berharap ke depan Pemerintah Kabupaten Garut di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati dapat terus memperkuat sinergi dengan DMI, termasuk memberikan dukungan yang lebih proporsional terhadap program-program kemasjidan.
“Mudah-mudahan dengan adanya sinyal positif ini, hubungan antara DMI dan pemerintah semakin harmonis. Tujuan kami bukan semata-mata soal anggaran, tetapi bagaimana bersama-sama menghadirkan masjid yang lebih makmur dan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi umat,” tandas Rd H. Aas Kosasih.(*)

