in

Suara yang Tak Bisa Lagi Dibungkam! GMNI Garut Angkat Realita Pahit Buruh Perempuan di Momentum May Day

Garutexpo.com – Dalam momentum peringatan International May Day, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Garut menggelar kegiatan bertajuk “Perempuan Berbicara: Suara Buruh Perempuan dalam Arus Perjuangan dan Keadilan Sosial.”Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi kader perempuan untuk menyuarakan berbagai ketimpangan yang masih membelit buruh perempuan di dunia kerja.

Forum ini menghadirkan sejumlah kader perempuan GMNI yang aktif dalam isu kesarinahan, di antaranya Antie Nurul Fauziah (Wakil Ketua Bidang Kesarinahan DPC GMNI Garut), RD. Reska Nur Anisa (Sarinnah DPK GMNI STIE Yasa Anggana Garut/Duta Inisiatif Jawa Barat 2026), Raisya A. Janatunnisa (Sarinnah DPK GMNI Institut Teknologi Garut/Best Innovation Puteri Duta Genre Kabupaten Garut 2026), serta Aurely R. Syabanin (Sarinnah DPK GMNI Fkominfo Uniga/Wakil Ketua BEM Fkominfo Uniga).

Dalam penyampaiannya, Antie Nurul Fauziah menegaskan bahwa hingga saat ini buruh perempuan masih berada pada posisi rentan dan kerap terpinggirkan. Ia menyoroti persoalan klasik yang belum juga terselesaikan, mulai dari ketimpangan upah, beban kerja ganda, hingga lemahnya perlindungan terhadap hak-hak dasar perempuan di lingkungan kerja.

“Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam sistem kerja, tetapi bagian penting dari roda produksi yang justru sering tidak mendapatkan perlindungan yang layak. Ini adalah bentuk ketimpangan yang harus dilawan secara kolektif,” tegas Antie kepada Garutexpo.com, Ahad, 3 Mei 2026.

Diskusi yang berlangsung dinamis tersebut juga menegaskan bahwa perjuangan buruh perempuan tidak semata soal ekonomi, melainkan menyangkut martabat, kesetaraan, dan keadilan sosial. Para kader GMNI yang terlibat menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif, khususnya di kalangan generasi muda, untuk terus mengawal isu kesarinahan secara konsisten dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, GMNI Garut menegaskan bahwa suara perempuan harus menjadi bagian utama dalam arus perjuangan. Tidak hanya berhenti pada forum diskusi, tetapi juga harus diwujudkan dalam gerakan nyata yang terorganisir.

DPC GMNI Garut pun menyatakan komitmennya untuk terus mengawal isu kesarinahan serta memperkuat solidaritas dalam memperjuangkan hak-hak buruh perempuan, demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.***

Ditulis oleh Kang Zey

Di Balik Senyum May Day Garut: Buruh ‘Curhat’ ke Bupati, Janji Soal Upah Bikin Publik Bertanya-tanya