Garutexpo.com — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Garut, terselip kisah perjuangan seorang pelajar yang patut mendapat perhatian. Fahrul Nazar, siswa kelas XI SMK Pasundan, harus menjalani kehidupan dengan dua peran sekaligus: belajar di bangku sekolah dan bekerja sebagai petugas keamanan.
Fahrul diketahui bekerja sebagai satpam di Perumahan Jayawaras Dreamland, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Yang membuat kisahnya semakin menyentuh, Fahrul merupakan anak yatim dan tidak memiliki tempat tinggal tetap di sekitar lokasi tempatnya bekerja.
Sepulang sekolah, Fahrul langsung menjalankan tugas sebagai petugas keamanan. Dalam kesehariannya, ia bahkan kerap tidur di musala yang berada di sekitar pos jaga. Sesekali, ia juga beristirahat di Posko Perjuangan milik anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Garut, Yudha Puja Turmawan.
Yudha mengaku baru mengetahui bahwa Fahrul ternyata masih berstatus sebagai pelajar, Senin (23/8/2026). Saat itu, Fahrul terlihat mengenakan seragam sekolah.
“Saya baru sadar dia ternyata masih sekolah. Selama ini saya kira dia sudah tidak sekolah dan hanya bekerja sebagai satpam saja,” kata Yudha, Senin (23/8/2026).
Fahrul baru sekitar dua hingga tiga pekan bekerja sebagai petugas keamanan di Perumahan Jayawaras Dreamland. Sebelumnya, ia sempat berhenti sekolah selama kurang lebih dua tahun setelah lulus SMP dan bekerja di sebuah pabrik kerupuk.
Kini, Fahrul memutuskan kembali menempuh pendidikan. Namun, demi memenuhi kebutuhan hidup, ia harus bekerja selepas pulang sekolah.
Kondisi kehidupan Fahrul pun terbilang sangat terbatas. Ia berasal dari Kampung Pamegatan, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang. Ayahnya telah meninggal dunia ketika Fahrul masih kecil, sementara sang ibu kini bekerja di Bandung.
Karena tidak memiliki tempat tinggal tetap di sekitar tempat kerja, Fahrul menjalani hari-harinya dengan kondisi seadanya. Ia terkadang tidur di musala yang berada persis di samping posko Yudha, atau beristirahat di pos jaga.
Bahkan, untuk kebutuhan sehari-hari, Fahrul mencuci pakaiannya di musala dan menjemurnya di sekitar posko.
Yudha mengaku tidak mengetahui kondisi tersebut sebelumnya.
“Saya kira dia bukan pelajar,” ujarnya.
Setelah mengetahui Fahrul masih bersekolah sekaligus merupakan anak yatim, Yudha langsung mempersilakannya untuk tinggal sementara di posko agar tidak perlu tidur di musala.
“Kalau tahu dia anak yatim pasti sudah saya bantu dari kemarin-kemarin. Saya baru tahu tadi pagi dari anak-anak,” kata Yudha.
Yudha bahkan meminta Fahrul tidak berangkat sekolah dalam kondisi perut kosong. Ia mempersilakan Fahrul mengambil makanan yang tersedia di dalam kulkas posko.
“Sebelum berangkat sekolah harus makan dulu. Ada telur yang sudah tersedia di dalam kulkas posko,” tuturnya.
Kini, Fahrul menjalani perjuangan yang tidak mudah. Di satu sisi, ia harus mengejar pendidikan sebagai siswa kelas XI. Di sisi lain, ia harus bekerja sebagai petugas keamanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kisah Fahrul menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu mematikan semangat seseorang untuk kembali bersekolah. Setelah sempat berhenti selama dua tahun, ia memilih kembali mengenakan seragam dan melanjutkan pendidikan, sembari bekerja selepas jam sekolah.
Perjuangan Fahrul pun menjadi perhatian setelah orang-orang di sekitarnya mengetahui bahwa di balik seragam satpam yang dikenakannya, ada seorang pelajar yang tengah berjuang mempertahankan masa depannya.(Iwan)


