in

Menguak Asal-Usul Nama Gunung Cikuray, dari Larangan Srimanganti hingga Jejak Kearifan Lokal Sunda

Garutexpo.com – Gunung Cikuray bukan sekadar bentang alam yang menjulang megah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di balik namanya yang begitu dikenal masyarakat, tersimpan pertanyaan menarik tentang sejarah, bahasa, dan kearifan lokal Sunda yang patut ditelusuri.

Salah satu pandangan menarik mengenai asal-usul nama Gunung Cikuray disampaikan oleh Kang Oos Supyadin, S.E., M.M., pemerhati kesejarahan dan budaya sekaligus Ketua Dewan Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut–MASDA JABAR. Melalui pendekatan bahasa dan rasa dalam tradisi Sunda, ia mengajak masyarakat menengok kembali kemungkinan makna yang tersembunyi di balik nama gunung tersebut.

Menurut Kang Oos, masyarakat Sunda sejak dahulu memiliki tradisi menamai suatu tempat berdasarkan berbagai hal yang melekat dengan lingkungan sekitarnya. Nama tempat dapat bersumber dari tumbuhan, satwa, kondisi alam, pengalaman masyarakat, hingga cerita sejarah dan legenda yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi penamaan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memperlihatkan eratnya hubungan antara manusia, alam, dan pengalaman kolektif masyarakat Sunda.

Cikuray dan Jejak Nama Larangan Srimanganti

Dalam penuturannya, Kang Oos menyebut bahwa Gunung Cikuray pada masa lampau dikenal dengan nama Larangan Srimanganti. Nama tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh dalam kajian sejarah lokal, terutama untuk memahami bagaimana penamaan suatu kawasan mengalami perkembangan dari masa ke masa.

Ia kemudian mengajukan pendekatan kebahasaan untuk menjelaskan kemungkinan asal-usul nama Cikuray, yakni melalui perpaduan kata cai dan kuray.

Kata cai dalam bahasa Sunda berarti air. Sementara itu, kata kuray, menurut penafsiran Kang Oos, bukan dimaknai sebagai urai, melainkan berkaitan dengan rasa keueung atau perasaan ngeri yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam ungkapan masyarakat Sunda sehari-hari, perasaan tersebut dikenal dengan istilah kukurayeun.

Dari pendekatan tersebut, nama Cikuray dipandang memiliki kemungkinan hubungan dengan gambaran aliran air yang menghadirkan kesan misterius, berliku, atau menimbulkan rasa gentar yang bersumber dari kawasan gunung.

Penafsiran ini memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional dapat menghubungkan unsur alam dengan pengalaman batin dan rasa yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Salakuray, Nama Tempat yang Menyimpan Makna

Menariknya, Kang Oos juga mengaitkan penafsirannya dengan nama Salakuray, sebuah nama tempat yang menurut penjelasannya memiliki hubungan kebahasaan dengan istilah tersebut.

Dalam pemahaman bahasa Sunda buhun yang ia sampaikan, kata sala dimaknai sebagai wilayah atau kawasan, sedangkan kuray berkaitan dengan rasa keueung atau suasana yang menimbulkan perasaan gentar.

Dengan demikian, Salakuray ditafsirkan sebagai kawasan yang memiliki kesan menyeramkan atau menghadirkan rasa takut bagi orang yang berada di dalamnya.

Keterkaitan antara nama Cikuray dan Salakuray, dalam pandangan Kang Oos, menjadi petunjuk menarik untuk menggali lebih dalam hubungan antara bahasa, lingkungan geografis, dan ingatan kolektif masyarakat Sunda.

Meski demikian, penafsiran tersebut perlu ditempatkan sebagai pandangan kebahasaan dan budaya yang masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui sumber sejarah, naskah kuno, serta tradisi lisan masyarakat setempat.

Menjaga Sejarah Nama Tempat sebagai Warisan Budaya

Bagi Kang Oos, penelusuran asal-usul nama tempat bukan sekadar membahas istilah atau susunan kata. Lebih dari itu, kajian semacam ini merupakan upaya menjaga kekayaan pengetahuan lokal agar tidak terputus dari generasi ke generasi.

Nama sebuah gunung, kampung, sungai, atau kawasan bisa menyimpan jejak cara pandang masyarakat terdahulu dalam memahami alam dan kehidupan. Di dalamnya mungkin terdapat cerita, pengalaman, kepercayaan, serta nilai-nilai budaya yang layak dipelajari secara kritis dan bertanggung jawab.

Gunung Cikuray, yang telah menjadi salah satu ikon alam Kabupaten Garut, dengan demikian tidak hanya menarik dari sisi keindahan lanskapnya. Nama yang melekat padanya juga membuka ruang kajian mengenai sejarah, bahasa, dan identitas budaya masyarakat Sunda.

Pandangan yang disampaikan Kang Oos Supyadin diharapkan dapat memperkaya khazanah penelitian sejarah lokal sekaligus mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap asal-usul nama tempat di lingkungannya.

Sebab, di balik sebuah nama, bisa tersimpan jejak panjang perjalanan masyarakat dan kebudayaan yang membentuk identitas suatu daerah.

Rahayu.

Penulis narasumber: Kang Oos Supyadin, S.E., M.M., Pemerhati Kesejarahan dan Budaya
Ketua Dewan Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut–MASDA JABAR.

Ditulis oleh Kang Zey

783 Kontingen Garut Siap Tempur di Porprov Jabar XV 2026! Anggaran Terbatas, Target Prestasi Tak Boleh Kandas

Parkir di Samping Rumah Tak Menjamin Aman! Polisi Amankan Terduga Pelaku Curanmor di Cisompet