Garutexpo.com – Hari pertama masuk sekolah yang seharusnya menjadi momentum penuh harapan justru berubah menjadi hari penuh kecemasan bagi ratusan siswa SMA Yayasan Baitul Hikmah Al-Ma’muni (YBHM), Kabupaten Garut. Pada Senin, 12 Januari 2025, para siswa gagal mengikuti kegiatan belajar mengajar setelah gerbang sekolah mereka digembok akibat sengketa tanah wakaf yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Sejak pagi, ratusan siswa datang dengan seragam lengkap dan perlengkapan belajar. Namun alih-alih masuk ke ruang kelas, mereka terpaksa menunggu di luar pagar besi yang terkunci. Sejumlah siswa terlihat menangis, sementara para guru tampak kebingungan karena tidak dapat menjalankan tugas mengajar.
Kondisi tersebut memicu kemarahan dan keprihatinan berbagai elemen masyarakat. Puluhan organisasi yang tergabung dalam Aksi Bela Wakaf turun ke lokasi sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan terhadap hak pendidikan para siswa yang menjadi korban konflik berkepanjangan.
Seorang guru SMA YBHM, dalam orasinya di depan gerbang sekolah, menyampaikan jeritan hati para pendidik.
“Bagaimana kami bisa mendidik dengan baik jika sekolah kami dikunci? Ini sudah lama terjadi. Anak-anak kami hanya ingin belajar dan punya masa depan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia menegaskan bahwa para guru dan siswa tidak memiliki kepentingan lain selain memperoleh hak dasar untuk menjalankan proses pendidikan secara normal, aman, dan bermartabat.
Massa aksi menilai Pemerintah Kabupaten Garut dan Dinas Pendidikan telah lalai karena membiarkan sengketa tanah wakaf tersebut berlarut-larut hingga berdampak langsung pada dunia pendidikan.
Ketua DTK Persada 212 Kabupaten Garut menyebut situasi ini sebagai kegagalan negara dalam melindungi hak anak-anak.
“Undang-Undang Dasar jelas menyebutkan negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi hari ini ratusan siswa justru kehilangan hak belajar hanya karena konflik yang dibiarkan,” tegasnya.
Massa mendesak Bupati Garut dan jajaran pemerintah daerah segera turun tangan secara serius. Mereka juga meminta campur tangan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi serta Presiden RI Prabowo Subianto untuk menyelamatkan masa depan ratusan siswa SMA YBHM.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA YBHM, Iwan, mengungkapkan bahwa penggembokan sekolah telah berlangsung sejak masa libur panjang.
“Saat kami datang setelah libur, gerbang sudah digembok dan sampai sekarang belum dibuka. Pembangunan pun sempat terhenti dan situasinya tidak menentu,” kata Iwan.
Ia menjelaskan bahwa akar persoalan berasal dari sengketa tanah wakaf yang hingga kini belum memiliki sertifikat resmi.
“Tanah wakaf ini sudah ada sejak 1976 dan pernah dilegalisasi di kecamatan serta KUA. Tapi karena belum disertifikatkan, posisinya dianggap lemah. Sementara pihak lain mengklaim memiliki sertifikat,” jelasnya.
Menurut Iwan, terdapat 138 siswa SMA YBHM yang terdampak langsung oleh penggembokan tersebut. Sengketa ini hanya menimpa SMA, sementara SMP yang berada di kompleks yang sama masih dapat beroperasi karena memiliki akses masuk terpisah.
Terkait upaya penyelesaian, pihak sekolah mengaku telah menempuh berbagai jalur, mulai dari Pemerintah Kabupaten Garut, kepolisian, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.
“Kami sudah mengadu ke Bupati, ke kepolisian, ke Gubernur, bahkan ke Presiden. Sekarang kami hanya bisa menunggu keputusan dan bantuan dari pemerintah,” ujarnya.
Untuk keberlanjutan kegiatan belajar mengajar, pihak sekolah masih berkoordinasi dengan berbagai pihak.
“Kami sedang mencari solusi, apakah nanti belajar di sekolah lain, di lokasi sementara, atau tetap di sini. Semua masih dalam proses koordinasi,” tambahnya.
Hingga siang hari, gerbang SMA YBHM masih dalam kondisi terkunci dan kegiatan belajar mengajar belum dapat dilaksanakan. Ratusan siswa terpaksa pulang atau bertahan di luar sekolah dengan penuh ketidakpastian. Sementara itu, massa aksi langsung bergerak menuju Kantor ATR/BPN Kabupaten Garut untuk mendesak penyelesaian sengketa tanah wakaf yang telah mengorbankan masa depan pendidikan anak-anak.***
































