Garutexpo.com – Persoalan pendidikan di Kabupaten Garut kembali menjadi sorotan publik. Tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) yang mencapai ribuan kasus, ditambah stagnasi indeks pendidikan, memunculkan kekhawatiran serius terhadap masa depan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar persoalan teknis semata, melainkan mencerminkan adanya masalah mendasar yang belum terselesaikan secara komprehensif. Berdasarkan hasil analisis berbagai pihak, terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab utama, yakni tekanan ekonomi masyarakat, keterbatasan akses pendidikan, serta kebijakan yang belum tepat sasaran.
Faktor ekonomi masih menjadi penyumbang terbesar. Di sejumlah wilayah di Garut, banyak anak terpaksa berhenti sekolah demi membantu orang tua memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meski program pendidikan gratis telah digulirkan pemerintah, beban biaya tidak langsung seperti transportasi, perlengkapan sekolah, hingga kebutuhan harian tetap menjadi kendala berat bagi keluarga kurang mampu.
Selain itu, kondisi geografis Garut yang luas dan beragam turut memperparah persoalan akses pendidikan. Tidak semua wilayah memiliki kemudahan menjangkau fasilitas pendidikan, terutama pada jenjang menengah. Jarak tempuh yang jauh serta minimnya sarana transportasi kerap menjadi alasan utama anak-anak tidak melanjutkan pendidikan.
Di sisi lain, kebijakan pendidikan yang berjalan saat ini dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan. Sejumlah program dianggap belum efektif dalam menjangkau anak putus sekolah. Permasalahan validitas data serta belum optimalnya verifikasi berbasis nama dan alamat menyebabkan intervensi yang dilakukan sering kali tidak tepat sasaran.
Mandegnya indeks pendidikan di Garut semakin mempertegas kondisi tersebut. Sejumlah indikator, seperti rata-rata lama sekolah dan angka partisipasi pendidikan, menunjukkan tren stagnasi dalam beberapa tahun terakhir, meskipun anggaran pendidikan terus mengalami peningkatan.
Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Nurjaman, S.Pd., MM menegaskan bahwa persoalan ini membutuhkan penanganan yang serius dan terintegrasi.
“Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pendekatan. Harus ada perbaikan ekonomi masyarakat, pemerataan akses pendidikan, serta kebijakan yang benar-benar tepat sasaran,” ujar Asep kepada Garutexpo.com, Kamis, 30 April 2026.
Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk segera melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari perbaikan sistem pendataan, peningkatan akses pendidikan di wilayah terpencil, hingga evaluasi kebijakan yang selama ini diterapkan.
Menurutnya, tanpa langkah konkret yang menyentuh tiga akar persoalan tersebut secara bersamaan, tingginya angka anak tidak sekolah dan mandegnya indeks pendidikan akan terus berulang setiap tahun.
Kesimpulan:
Tingginya angka anak tidak sekolah di Garut dan stagnasi indeks pendidikan dipicu oleh tiga faktor utama, yakni tekanan ekonomi, keterbatasan akses, serta kebijakan yang belum tepat sasaran. Selama ketiga aspek ini tidak dibenahi secara simultan, persoalan ini dipastikan akan terus menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, sekaligus menghambat kemajuan daerah di masa mendatang.***

