Garutexpo.com – Dewan Pendidikan Kabupaten Garut tengah melakukan monitoring pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SLTP), hingga Sekolah Menengah Atas (SLTA).
Monitoring tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana satuan pendidikan, khususnya kepala sekolah, mampu melakukan sosialisasi SPMB kepada masyarakat serta mengajak anak-anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan.
Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Dedi Kurniawan, mengatakan bahwa kegiatan monitoring ini menjadi bagian dari upaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Garut yang saat ini masih mencapai puluhan ribu orang.
“Kita ingin melihat pergerakan kepala sekolah sejauh mana melakukan sosialisasi SPMB di berbagai jenjang. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana satuan pendidikan melakukan komunikasi dengan masyarakat dalam mengajak anak untuk bersekolah. Ini menjadi penting untuk mengurangi angka Anak Tidak Sekolah yang jumlahnya mencapai puluhan ribu,” ujar Dedi, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, momentum SPMB tidak hanya sekadar proses penerimaan murid baru, tetapi harus dijadikan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah.
“Momentum SPMB ini kami jadikan momentum bersama untuk mendorong anak masuk sekolah. Kalau semua tidak bergerak, baik satuan pendidikan maupun tokoh masyarakat, maka angka ATS tidak akan berkurang,” tegasnya.
Dedi menjelaskan, Dewan Pendidikan saat ini memantau secara langsung berbagai langkah yang dilakukan sekolah dalam memotivasi masyarakat agar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia menilai persoalan ATS tidak akan terselesaikan apabila hanya menggunakan pola-pola lama tanpa adanya inovasi dan pendekatan yang lebih aktif kepada masyarakat.
“Anak Tidak Sekolah di Garut tidak akan berkurang jika kita hanya menggunakan pendekatan lama. Sekarang kepala sekolah, pengawas, penilik, hingga kepala desa harus aktif berkomunikasi dengan masyarakat untuk memotivasi anak supaya belajar dan mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara di lapangan, Dewan Pendidikan memberikan apresiasi terhadap sejumlah sekolah jenjang SLTP yang dinilai cukup agresif melakukan sosialisasi SPMB kepada siswa SD dan MI.
Menurut Dedi, berbagai metode dilakukan oleh sekolah, mulai dari sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah hingga mengundang kepala sekolah dan operator SD untuk mendapatkan penjelasan terkait mekanisme SPMB.
“Hasil pantauan sementara, untuk jenjang SLTP mereka cukup bagus melakukan sosialisasi ke SD dan MI. Ada yang door to door ke sekolah-sekolah, ada juga yang mengundang kepala sekolah dan operator untuk hadir di SMP tertentu guna mendapatkan sosialisasi SPMB. Kami memberikan apresiasi tinggi kepada sekolah-sekolah yang tidak mengenal lelah mengajak anak untuk sekolah,” ungkapnya.
Meski demikian, Dedi mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan SPMB di jenjang SLTA. Salah satunya terkait respons panitia terhadap berbagai keluhan masyarakat yang dinilai belum optimal.
Namun demikian, ia memahami kondisi tersebut dipengaruhi oleh gangguan sistem yang terjadi secara merata di Jawa Barat selama pelaksanaan SPMB berlangsung.
“Walaupun tidak dipungkiri di jenjang SLTA secara umum panitia masih belum sigap dalam menghadapi keluhan masyarakat. Namun memang sistem mengalami error secara merata di Jawa Barat. Dampak dari persoalan tersebut cukup besar hingga pejabat pengelola data dinonaktifkan oleh Gubernur Jawa Barat,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala teknis, Dewan Pendidikan Kabupaten Garut meminta seluruh panitia SPMB di tingkat satuan pendidikan untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Kami meminta panitia di tingkat satuan pendidikan untuk lebih cekatan merespons aduan dan keluhan masyarakat. Komunikasi yang baik sangat diperlukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan tidak merasa dirugikan selama proses SPMB berlangsung,” tutur Dedi.(*)


