in

Kepala SMAN 1 Garut Bantah Keras Isu Masuk Sekolah Bayar Rp40 Juta

Garutexpo.com – Munculnya isu dugaan praktik titip masuk peserta didik baru ke SMAN 1 Garut dengan biaya mencapai Rp40 juta mendapat tanggapan tegas dari Kepala SMAN 1 Garut, Dra. Sri Mulyani, M.Pd. Ia membantah keras kabar tersebut dan menyebut tudingan tanpa bukti sebagai fitnah yang dapat merugikan nama baik sekolah maupun pihak-pihak terkait.

Saat dimintai tanggapan mengenai isu yang beredar di masyarakat terkait dugaan adanya jalur belakang atau titipan dengan sejumlah uang untuk masuk ke SMAN 1 Garut, Sri Mulyani menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan kebenaran informasi tersebut.

“Ih amit-amit. Itu kan isu. Kalau memang ada, buktikan. Kalau tidak ada bukti, itu fitnah. Mau ngomong apa pun kalau tidak ada bukti kan susah,” ujar Sri Mulyani saat di konfirmasi Garutexpo.com, di ruang kerjanya, Rabu, 10 Juni 2026.

Menurutnya, tuduhan semacam itu tidak bisa dijadikan dasar tanpa disertai fakta dan bukti yang jelas. Ia menilai penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan justru dapat menimbulkan kegaduhan di tengah proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa dirinya baru menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Garut sejak Oktober 2025. Sebelumnya, ia bertugas di wilayah Tasikmalaya dan mengaku memiliki rekam jejak yang baik selama menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.

“Saya baru di sini sejak Oktober 2025. Tahun-tahun sebelumnya bukan saya yang memimpin. Saya berasal dari Tasik. Silakan cek track record saya. Apakah pernah ada catatan seperti yang diinformasikan itu? Dari dulu saya anti terhadap praktik-praktik seperti itu,” katanya.

Ia menegaskan tidak akan pernah mengorbankan integritas, harga diri, maupun jabatan yang diembannya hanya demi mendapatkan keuntungan pribadi.

“Saya tidak akan mengorbankan harga diri dan jabatan demi uang. Demi Allah. Apalagi sekarang pengawasan terhadap sekolah sangat ketat,” tegasnya.

Sri Mulyani juga menyinggung kebijakan dan pengawasan yang dilakukan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terhadap pelaksanaan SPMB. Menurutnya, kepala sekolah maupun panitia yang terbukti melakukan praktik titipan atau pelanggaran berisiko mendapatkan sanksi berat.

“Sekarang tekanan dan pengawasan sangat ketat. Kalau ada kepala sekolah yang macam-macam, titip-titipan misalnya, bisa dipecat. Panitianya juga bisa diberi sanksi. Jadi saya sangat menjaga agar semuanya berjalan sesuai aturan,” ujarnya.

Terkait kemungkinan adanya pihak luar yang mengatasnamakan sekolah untuk menawarkan jalur masuk tertentu kepada calon siswa atau orang tua, Sri Mulyani mengaku tidak dapat mengontrol tindakan oknum di luar lingkungan sekolah. Namun ia memastikan tidak ada praktik semacam itu yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun panitia resmi SPMB.

“Kalau ada orang yang bermain di luar dan mengatasnamakan sekolah, itu di luar pengetahuan saya. Tapi kalau di panitia, saya yakin tidak ada yang berani. Di sekolah tidak ada. Yang jelas sekolah bersih,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa seluruh proses penerimaan siswa baru di SMAN 1 Garut dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku dan dapat dipertanggungjawabkan.

“SMAN 1 Garut bersih. Saya bersih. Tahun kemarin juga sekolah ini dikenal bersih. Kalau ada yang mengaku bisa meloloskan ke SMA 1 dengan bayaran tertentu, masyarakat harus hati-hati dan jangan mudah percaya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi resmi dari pihak sekolah menyusul beredarnya isu dugaan jual beli kursi dalam proses SPMB yang belakangan ramai diperbincangkan di sejumlah kalangan masyarakat Garut.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Kepala SMAN 1 Garut Buka Suara Soal 18 Peserta Gagal Lolos Sekolah Maung, Meski Sempat Masuk Kuota