Garutexpo.com – Baso aci bukan lagi sekadar kuliner favorit masyarakat, tetapi telah menjadi salah satu penggerak ekonomi Kabupaten Garut. Melalui Festival Baso Aci 2026 yang digelar di Halaman Parkir Citimall Garut, Kecamatan Karangpawitan, Kamis (2/7/2026), Pemerintah Kabupaten Garut bersama Vortable Indo Creative Industry kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan UMKM sekaligus memperkuat identitas kuliner khas Garut.
Festival yang telah memasuki penyelenggaraan keenam ini resmi dibuka oleh Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Setda Kabupaten Garut, Bambang Hafidz. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekaligus memperkenalkan baso aci sebagai ikon kuliner Garut kepada masyarakat yang lebih luas.
Dalam sambutannya, Bambang Hafidz memberikan apresiasi kepada Vortable Indo Creative Industry yang secara konsisten menggelar Festival Baso Aci sejak 2019. Menurutnya, keberadaan festival ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa sektor UMKM memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Karena kemajuan suatu bangsa itu dapat terlihat dari jumlah wirausahawan. Termasuk tentu wirausahawan itu di sektor UMKM. Hari ini, atas peran besar Vortable bersama para sponsor dan dukungan Disparbud, kita mampu menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan dari Bupati dan Wakil Bupati Garut agar kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat terus diperbanyak.
“Beliau menitipkan pesan bahwa kegiatan seperti ini harus terus diperbanyak. Setiap kegiatan di Kabupaten Garut diharapkan mampu menghadirkan masyarakat sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah,” tambah Bambang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, mengungkapkan pihaknya tengah mengupayakan agar Baso Aci Garut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat identitas kuliner daerah sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
Menurut Beni, secara historis baso aci telah berkembang di Kabupaten Garut sejak sekitar tahun 1930.
“Kalau melihat dari sejarah, dari tahun 1930 baso aci ini sudah berkembang di Kabupaten Garut. Jadi yakinlah bahwa baso aci itu lahir di Garut,” katanya.
Ia juga mengungkapkan besarnya kontribusi ekonomi dari kuliner tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perputaran uang dari sektor baso aci di Kabupaten Garut pada setiap akhir pekan diperkirakan mencapai antara Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar. Nilai tersebut tidak hanya dirasakan oleh pedagang baso aci, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap berbagai sektor usaha lainnya.
“Dengan kegiatan ini, kami berharap menjadi gerakan bersama untuk mendorong seluruh elemen masyarakat melakukan aktivitas ekonomi sehingga pergerakan ekonomi di Kabupaten Garut semakin meningkat,” ujar Beni.
Di sisi lain, Perwakilan Vortable Indo Creative Industry, Dhani Omar Dhien, mengenang awal penyelenggaraan Festival Baso Aci pada 2019 yang saat itu belum banyak dikenal masyarakat. Namun berkat konsistensi penyelenggaraan selama enam tahun, festival tersebut kini menjadi agenda yang dinantikan sekaligus memperkuat citra Garut sebagai kampung halaman baso aci.
“Kami berani bersaksi bahwa di 42 kecamatan hampir di setiap RT atau RW pasti ada penjual baso aci. Bahkan hampir semua masyarakat Garut bisa membuat baso aci,” ungkapnya.
Pada Festival Baso Aci 2026, panitia juga menghadirkan Lomba Kreasi Baso Aci yang melibatkan berbagai organisasi perempuan sebagai bentuk pelestarian sekaligus inovasi kuliner khas daerah.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa baso aci bukan hanya makanan favorit masyarakat, tetapi juga warisan kuliner yang harus terus dilestarikan,” tandas Dhani.
Festival Baso Aci 2026 akan berlangsung hingga Minggu, 5 Juli 2026. Lebih dari 30 tenant kuliner turut meramaikan kegiatan tersebut, menghadirkan beragam olahan baso aci dan produk UMKM lokal. Kehadiran festival ini diharapkan semakin memperkuat promosi kuliner khas Garut, menarik kunjungan wisatawan, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kabupaten Garut.


