in

September Hitam Masuk Kampus! BEM STIE Yasa Anggana Ajak Mahasiswa Baru Tak Lupa Sejarah

Garutexpo.com — Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STIE Yasa Anggana Garut 2026 tidak sekadar menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru. Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIE Yasa Anggana membawa refleksi September Hitam sebagai ruang untuk mengajak mahasiswa baru memahami pentingnya sejarah, kepedulian sosial, dan budaya berpikir kritis.

Momentum ini menjadi bagian dari upaya BEM STIE Yasa Anggana memperkenalkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berkutat pada ruang kelas, tugas, ujian, dan pencapaian akademik. Mahasiswa juga memiliki ruang untuk memahami berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

September Hitam selama ini digunakan oleh sejumlah kelompok masyarakat sipil sebagai momentum untuk mengenang berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan mendorong publik agar tidak melupakan peristiwa-peristiwa tersebut.

Bagi BEM STIE Yasa Anggana, membawa isu tersebut ke lingkungan kampus menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran mahasiswa sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi.

“Merawat ingatan bukan sekadar mengingat sebuah peristiwa. Dari sejarah, mahasiswa dapat belajar memahami persoalan, melihat berbagai sudut pandang, dan membangun sikap kritis berdasarkan pengetahuan serta fakta,” menjadi semangat yang diusung dalam refleksi tersebut.

PKKMB Bukan Sekadar Seremonial

BEM STIE Yasa Anggana memandang PKKMB tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial penyambutan mahasiswa baru.

Momentum tersebut dinilai dapat menjadi pintu awal untuk membangun karakter dan kesadaran mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika. Mahasiswa diperkenalkan dengan budaya berdiskusi, keberanian menyampaikan pendapat, serta pentingnya menghargai perbedaan pandangan.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan PKKMB yang antara lain diarahkan untuk membentuk karakter mahasiswa, meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, serta mendorong mahasiswa menjadi insan intelektual yang mandiri dan bertanggung jawab.

Melalui refleksi September Hitam, mahasiswa baru diajak melihat bahwa kampus bukan ruang yang terpisah dari kehidupan masyarakat.

Berbagai persoalan sosial, sejarah, kebijakan publik, hingga isu kemanusiaan dapat menjadi bahan pembelajaran yang memperkaya cara pandang mahasiswa.

Mengapa Mahasiswa Perlu Mengingat?

Bagi BEM STIE Yasa Anggana, ingatan terhadap sejarah menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga diharapkan mampu membaca persoalan sosial secara kritis dan bertanggung jawab.

Karena itu, momentum September Hitam dalam rangkaian PKKMB bukan dimaksudkan sekadar untuk mengenang masa lalu. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi ruang refleksi agar mahasiswa memiliki kesadaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk belajar dari sejarah.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, kemampuan mahasiswa untuk memeriksa fakta, berdiskusi secara sehat, serta memahami konteks sejarah menjadi semakin penting.

PKKMB STIE Yasa Anggana Garut 2026 pun diharapkan menjadi awal perjalanan mahasiswa baru untuk tidak hanya menjadi insan akademik, tetapi juga bagian dari masyarakat yang memiliki kepedulian, keberanian berpikir, dan tanggung jawab sosial.

September Hitam akhirnya bukan sekadar sebuah momentum di kalender. Di ruang kampus, ia menjadi ajakan untuk bertanya, memahami, berdiskusi, dan tidak melupakan sejarah.*

Ditulis oleh Kang Zey

Ribuan Jamaah Thoriqoh At-Tijaniyyah Tumpah Ruah di Sangkan Garut, Ijtima Jadi Momentum Maulid dan Perkuat Silaturahmi