Garutexpo.com — Perjuangan keluarga Salsabila Rizkia untuk mendapatkan kepastian mengenai kondisi dan penanganan medis anaknya memasuki babak baru. Garut Indeks Perubahan Strategis (GIPS) menyatakan turun tangan dan memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada kejelasan.
GIPS mendesak Pemerintah Kabupaten Garut, manajemen RSUD dr. Slamet Garut, serta instansi terkait tidak membiarkan persoalan yang menyangkut Salsabila berlarut-larut tanpa kepastian.
Ketua GIPS, Ade Sudrajat, menegaskan bahwa pengawalan tersebut bukan untuk menghakimi pihak tertentu, melainkan memastikan hak pasien dan keluarga mendapatkan perhatian serta proses pemeriksaan yang transparan.
“Kami akan terus kawal. Ini menyangkut seorang anak yang masih hidup dan membutuhkan perhatian serta kepastian penanganan. Keluarganya sudah cukup lama menunggu kejelasan. Jangan sampai persoalan ini terus berlarut tanpa penyelesaian yang konkret,” tegas Ade, Kamis (8/10/2026).
GIPS Tak Mau Persoalan Berhenti di Meja Audiensi
Menurut Ade, persoalan Salsabila tidak boleh berhenti hanya pada pertemuan, audiensi maupun pembahasan administratif.
Keluarga, kata dia, membutuhkan jawaban konkret mengenai kondisi Salsabila, langkah penanganan medis yang dilakukan, serta tindak lanjut terhadap berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian.
GIPS juga menegaskan tidak akan mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi malapraktik sebelum adanya pemeriksaan dan pembuktian.
Namun, setiap dugaan ketidaksesuaian pelayanan yang disampaikan keluarga, menurut Ade, harus diperiksa secara serius.
“Kita tidak boleh langsung menghakimi siapa yang salah. Tetapi dugaan yang disampaikan keluarga juga tidak boleh diabaikan. Harus diperiksa secara profesional, transparan, dan berbasis bukti,” ujarnya.
Pemeriksaan tersebut dinilai perlu mencakup rekam medis, pelaksanaan SOP, penggunaan peralatan medis, prosedur pelayanan, standar profesi, hingga keterangan tenaga kesehatan yang berwenang.
Pemerintah Diminta Buka Fakta, Bukan Sekadar Janji
GIPS mendorong Pemerintah Kabupaten Garut melalui Inspektorat dan instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek pelayanan dan tata kelola yang berkaitan dengan persoalan Salsabila.
Ade menilai pemeriksaan harus mampu menjawab pertanyaan mendasar yang selama ini menjadi perhatian keluarga.
Mulai dari bagaimana prosedur pelayanan dijalankan, apakah SOP telah diterapkan, bagaimana penggunaan peralatan medis, bagaimana rekam medis dicatat, hingga bagaimana rumah sakit merespons keluhan dan permintaan penjelasan dari keluarga pasien.
“Kalau memang tidak ada pelanggaran, jelaskan berdasarkan fakta medis dan dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Kalau ditemukan adanya pelanggaran, tentu harus ada tindakan sesuai ketentuan. Jangan biarkan keluarga terus berada dalam ketidakpastian,” kata Ade.
“Audiensi Jangan Hanya Jadi Seremonial”
Ade secara tegas meminta agar setiap audiensi menghasilkan langkah yang terukur.
Menurutnya, keluarga tidak membutuhkan sekadar pernyataan atau janji, tetapi membutuhkan kepastian mengenai apa yang akan dilakukan dan siapa yang bertanggung jawab terhadap tindak lanjutnya.
“Audiensi jangan hanya menghasilkan berita acara atau janji. Yang dibutuhkan keluarga adalah tindakan nyata. Bagaimana kondisi Salsabila ditangani, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana tindak lanjut medisnya, dan kapan target penyelesaiannya. Itu harus jelas,” tegasnya.
Meski demikian, GIPS meminta seluruh pihak tetap menghormati asas praduga tak bersalah.
Setiap dugaan pelanggaran, baik administratif, etik, disiplin profesi maupun dugaan tindak pidana, harus dibuktikan melalui mekanisme pemeriksaan sesuai kewenangan masing-masing.
GIPS: Keselamatan Salsabila Harus Jadi Titik Utama
Bagi GIPS, persoalan Salsabila bukan hanya menyangkut hubungan antara seorang pasien dengan rumah sakit. Kasus tersebut juga menyentuh kepentingan publik mengenai bagaimana pelayanan kesehatan pemerintah memberikan perlindungan terhadap masyarakat.
“Yang kami kawal bukan sekadar persoalan antara keluarga dan rumah sakit. Ada kepentingan publik yang lebih besar, yaitu bagaimana pelayanan kesehatan pemerintah benar-benar memberikan perlindungan kepada masyarakat,” ujar Ade.
GIPS memastikan akan terus memantau perkembangan penanganan Salsabila dan meminta Pemerintah Kabupaten Garut serta RSUD dr. Slamet memberikan kepastian kepada keluarga.
Ade menegaskan, kondisi Salsabila yang masih membutuhkan perhatian medis menjadi alasan utama agar proses penanganan tidak kehilangan fokus.
“Salsabila masih hidup. Karena itu, yang paling penting sekarang adalah memastikan haknya mendapatkan penanganan terbaik, kepastian medis, dan perlindungan sebagai pasien. Pada saat yang sama, jika ada persoalan dalam pelayanan, harus ada pemeriksaan dan pertanggungjawaban secara transparan,” pungkas Ade.***


