Garutexpo.com – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Garut resmi memasuki babak baru kepengurusan masa bakti 2026–2031. Tak sekadar memperkuat pengelolaan masjid, kepengurusan di bawah pimpinan Rd. H. Aas Kosasih, S.Ag., M.Si. ini menyiapkan tiga program strategis yang menyasar tata kelola masjid, pemberdayaan ekonomi umat, hingga revitalisasi masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda Islam.
Pelantikan Pengurus Pimpinan Daerah DMI Kabupaten Garut berlangsung di Pendopo Kabupaten Garut, Kamis (29/10/2026), dengan mengusung tema “Dari Masjid untuk Peradaban: Menguatkan Ukhuwah, Memberdayakan Ekonomi Umat, dan Membangun Masa Depan Garut Hebat melalui Revitalisasi Masjid sebagai Sokoguru Kegiatan Generasi Muda Islam.”
Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum Pengurus Wilayah DMI Provinsi Jawa Barat, KH. Mansur Said Roji. Kegiatan tersebut dihadiri hampir 85 persen pengurus daerah serta sekitar 80 persen pengurus cabang DMI tingkat kecamatan dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) se-Kabupaten Garut.
Ketua DMI Kabupaten Garut, Rd. H. Aas Kosasih, S.Ag., M.Si., yang akrab di sapa Den Aas, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya pelantikan tersebut. Ia menegaskan, amanah kepengurusan lima tahun ke depan akan diarahkan pada program-program nyata yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh jamaah dan masyarakat.
“Alhamdulillah, Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Garut telah resmi dilantik. Mudah-mudahan amanah ini dapat kami jalankan dengan baik, melalui program yang benar-benar memberikan manfaat bagi umat,” ujar Den Aas dalam sambutannya.
Tiga Program Strategis Jadi Prioritas DMI Garut
Den Aas menjelaskan, terdapat tiga program utama yang akan ditawarkan untuk dibahas bersama Dewan Syariah, Dewan Pakar, dan Dewan Mustasyar. Selanjutnya, DMI Garut akan menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) perdana bersama pengurus cabang DMI kecamatan se-Kabupaten Garut guna mematangkan pelaksanaan program tersebut.
Program pertama adalah penguatan tata kelola dan manajemen masjid melalui konsep Idarah, Imarah, dan Riayah.
Idarah menitikberatkan pada pengelolaan administrasi dan organisasi masjid yang profesional, mulai dari perencanaan, pembentukan kepengurusan DKM, pengorganisasian, hingga pengawasan dan pelaporan.
Menurut Den Aas, pengelolaan masjid harus dilaksanakan secara tertib, terencana, dan transparan. Terlebih, masjid juga mengelola dana umat sehingga penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada jamaah.
“Masjid harus jelas perencanaannya, bagaimana organisasinya, bagaimana administrasinya, serta bagaimana pengawasan dan pelaporannya. Bagaimanapun, dana yang dikelola masjid adalah dana umat dan harus dipertanggungjawabkan kembali kepada umat,” tegasnya.
Sementara itu, Imarah berorientasi pada upaya memakmurkan masjid melalui beragam kegiatan keagamaan, pendidikan formal maupun nonformal, pengajian rutin, kajian Subuh, serta kegiatan pembinaan umat lainnya.
Adapun Riayah menitikberatkan pada pemeliharaan sarana dan prasarana masjid, termasuk pembangunan dan perawatan fasilitas, kebersihan, kesehatan lingkungan, serta kenyamanan jamaah saat beribadah.
Melalui ketiga aspek tersebut, DMI Garut berharap masjid tidak hanya menjadi tempat menunaikan ibadah ritual, tetapi juga berkembang sebagai pusat pendidikan, pembinaan sosial, dan pelayanan masyarakat.

Galeri Warung Barokah hingga Budidaya Unggas dan Ikan
Program kedua yang disiapkan DMI Garut adalah pemberdayaan ekonomi jamaah berbasis masjid. Program ini dirancang agar masjid memiliki peran lebih besar dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Salah satu gagasan yang akan dikembangkan adalah pendirian Galeri Warung Barokah Masjid. Pada tahap awal, DMI Garut menargetkan percontohan sekitar lima hingga sepuluh galeri yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi masing-masing wilayah.
Galeri tersebut direncanakan menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, seperti sembako dengan harga terjangkau, gas elpiji bersubsidi sesuai ketentuan, air minum, pulsa, token listrik, layanan Wi-Fi, dan kebutuhan lainnya.
Melalui konsep ini, masjid diharapkan dapat menjadi simpul kegiatan ekonomi jamaah sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan lebih mudah.
Selain itu, DMI Garut akan mendorong pemberdayaan jamaah melalui budidaya unggas dan ikan. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kemampuan, ketersediaan lahan, serta kondisi lingkungan masing-masing jamaah.
Program lainnya adalah pemberdayaan pertanian berbasis rumah tangga. DMI mendorong jamaah memanfaatkan sedikitnya sepuluh pot berisi tanah subur untuk ditanami tanaman produktif yang disebut dalam rencana program sebagai sereh Jawa atau long pepper.
Den Aas menyampaikan, pihaknya tengah merencanakan kerja sama dengan eksportir dan importir untuk membantu menampung hasil panen yang memenuhi standar kualitas, terutama terkait proses pengeringan dan kadar air.
Ia menyebut potensi harga yang ditawarkan dapat berkisar Rp120 ribu hingga Rp200 ribu. Namun, nilai tersebut masih perlu dipastikan berdasarkan jenis komoditas, satuan berat, kualitas hasil panen, dan kesepakatan dengan calon pembeli.
Menurut rencana yang disampaikan, tanaman tersebut dapat mulai dipanen sekitar delapan hingga sepuluh bulan setelah penanaman. Setelah panen pertama, pemanenan berikutnya diharapkan dapat dilakukan secara berkala, dengan tetap memperhatikan teknik budidaya dan pemupukan.
Program ekonomi ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi masjid untuk membangun kemandirian, memperkuat solidaritas jamaah, dan membuka peluang tambahan penghasilan bagi keluarga.
Revitalisasi Masjid, Benteng Moral Generasi Muda
Program ketiga sekaligus menjadi salah satu perhatian utama DMI Garut adalah revitalisasi masjid sebagai sokoguru kegiatan generasi muda Islam.
Den Aas menilai masjid harus kembali menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan anak-anak, remaja, dan generasi muda. Masjid tidak cukup hanya ramai pada waktu-waktu ibadah, tetapi juga perlu menghadirkan kegiatan yang edukatif, kreatif, menarik, serta relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Melalui revitalisasi tersebut, DMI ingin mendorong masjid menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang berakhlak, berpengetahuan, memiliki kepedulian sosial, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.
Sejumlah kegiatan yang direncanakan antara lain pengajian bulanan, penyediaan akses Wi-Fi gratis secara terarah, pertunjukan drama kolosal bertema kepahlawanan, hingga pengembangan seni qasidah dan musik Islami.
Den Aas berharap pendekatan yang lebih kreatif dapat membuat remaja merasa nyaman dan tertarik berkegiatan di masjid. Dengan begitu, masjid dapat menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi sekaligus membentengi diri dari pergaulan berisiko, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai bentuk kemerosotan moral.
“Generasi muda harus merasa dekat dengan masjid. Kita ingin masjid menjadi tempat pencerahan, pembinaan, dan kolaborasi sehingga anak-anak serta remaja memiliki kegiatan positif dan tidak mudah terjerumus dalam hal-hal yang merugikan masa depan mereka,” ungkapnya.
DMI Ajak Pemkab, Baznas, dan Pengusaha Bersinergi
Untuk merealisasikan ketiga program tersebut, Aas menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Garut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), lembaga amil zakat (LAZ), hingga para pengusaha dan masyarakat Muslim.
Menurutnya, keberhasilan program DMI tidak cukup hanya mengandalkan pengurus organisasi. Diperlukan kolaborasi, dukungan pendanaan yang transparan, pendampingan, serta keterlibatan aktif pengurus cabang, DKM, dan jamaah di setiap wilayah.
Ia berharap program wajib berupa penguatan tata kelola masjid, program pilihan berupa pemberdayaan ekonomi umat, serta revitalisasi masjid untuk generasi muda dapat memperoleh sambutan dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.
“Harapannya, program-program ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah, Baznas, LAZ, para pengusaha, serta kaum Muslimin dan Muslimat yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya untuk kemaslahatan umat,” tuturnya.

Pelantikan pengurus DMI Kabupaten Garut masa bakti 2026–2031 ini pun diharapkan menjadi titik awal gerakan memakmurkan masjid secara lebih terarah. Bukan hanya memakmurkan bangunan, tetapi juga menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pembentukan karakter generasi penerus.
Dengan tiga program strategis tersebut, DMI Garut menargetkan masjid semakin hadir di tengah kehidupan masyarakat: menguatkan ukhuwah, membuka peluang ekonomi, dan menyiapkan generasi muda Islam yang berakhlak serta berdaya saing demi masa depan Garut yang lebih hebat.(*)


