Garutexpo.com — Kemiskinan tidak boleh menjadi tembok yang menghalangi anak-anak untuk meraih pendidikan dan masa depan. Justru, pendidikan harus menjadi jalan keluar yang mampu memutus mata rantai kemiskinan dan membuka kesempatan yang sama bagi setiap anak.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Yayasan As-Saefulloh Garut, Jajang Saepulloh, S.IP., M.Si., yang menilai persoalan anak putus sekolah harus menjadi perhatian serius pemerintah, sekolah, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat.
Menurut Jajang, transformasi pendidikan tidak cukup hanya berbicara mengenai pembangunan gedung sekolah, penyediaan sarana dan prasarana, perubahan kurikulum, maupun pencapaian angka-angka administratif.
Lebih dari itu, transformasi pendidikan harus benar-benar dirasakan masyarakat dan mampu memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, serta meraih masa depan yang lebih baik.
“Jangan sampai kemiskinan menjadi alasan seorang anak kehilangan masa depannya. Pendidikan harus menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan justru menjadi sesuatu yang tidak mampu dijangkau oleh keluarga yang sedang mengalami kesulitan,” tegas Jajang, Selasa, 1 September 2026.
Putus Sekolah Bukan Sekadar Persoalan Kemauan Anak
Jajang menilai anak yang tidak melanjutkan pendidikan tidak boleh langsung dicap sebagai anak yang tidak memiliki kemauan untuk belajar.
Menurutnya, terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang anak berhenti sekolah. Mulai dari kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan, lingkungan sosial, kurangnya pendampingan keluarga, hingga minimnya informasi mengenai bantuan dan alternatif pendidikan.
Karena itu, penanganan persoalan putus sekolah membutuhkan pendekatan yang persuasif, preventif, sekaligus solutif.
Pemerintah, kata dia, jangan sampai baru bergerak setelah seorang anak benar-benar keluar dari sekolah. Anak yang mulai menunjukkan tanda-tanda berisiko putus sekolah harus dapat terdeteksi sejak dini.
“Jangan menunggu anak putus sekolah baru pemerintah bergerak. Anak yang mulai berisiko meninggalkan sekolah harus terdeteksi sejak awal dan segera mendapatkan pendampingan,” ujarnya.
Pendidikan Harus Jemput Bola
Jajang mendorong pemerintah daerah bersama sekolah, pemerintah desa, organisasi masyarakat, yayasan pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha, serta keluarga membangun sistem jemput bola pendidikan.
Menurutnya, pendataan tidak boleh berhenti di tingkat administrasi sekolah. Data mengenai anak putus sekolah maupun anak yang berisiko putus sekolah harus mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Setiap anak yang berhenti sekolah juga harus dicari tahu penyebabnya.
Apabila persoalannya ekonomi, solusi harus dicarikan melalui program dan bantuan yang tersedia sesuai ketentuan. Jika persoalannya lingkungan sosial, diperlukan pendampingan. Sementara apabila anak mengalami hambatan mengikuti pendidikan formal, jalur pendidikan alternatif harus diperkuat.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diberikan imbauan agar anak tidak putus sekolah, tetapi juga diberikan jalan keluar yang nyata.
Tujuh Agenda Transformasi Pendidikan
Untuk mendorong sistem pendidikan yang lebih efektif dan benar-benar menyentuh masyarakat, Jajang Saepulloh menawarkan tujuh agenda penting.
Pertama, satu data pendidikan berbasis masyarakat. Data anak putus sekolah dan anak yang berisiko putus sekolah harus akurat, diperbarui secara berkala, dan menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan serta intervensi.
Kedua, gerakan jemput bola anak putus sekolah. Pemerintah dan sekolah harus aktif mendatangi keluarga yang membutuhkan pendampingan, bukan sekadar menunggu masyarakat datang meminta bantuan.
Ketiga, pendidikan yang inklusif dan terjangkau. Tidak boleh ada anak kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan ekonomi maupun hambatan sosial tertentu.
Keempat, penguatan pendidikan nonformal. Pendidikan kesetaraan dan berbagai jalur pendidikan alternatif harus diperkuat sebagai solusi bagi anak yang mengalami hambatan untuk kembali ke pendidikan formal.
Kelima, pendampingan keluarga. Keluarga harus menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan pendidikan. Masyarakat membutuhkan informasi, pendampingan, serta akses terhadap berbagai program pendidikan.
Keenam, pendidikan berbasis keterampilan dan teknologi. Sekolah harus mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman melalui penguatan literasi, teknologi, karakter, kreativitas, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi.
Ketujuh, evaluasi berbasis dampak. Keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya dilihat dari jumlah program atau besarnya anggaran, tetapi dari perubahan nyata yang terjadi di masyarakat.
Pertanyaannya, kata Jajang, bukan hanya berapa banyak program yang telah dibuat, tetapi berapa banyak anak yang berhasil kembali bersekolah, berapa banyak yang mampu bertahan, dan berapa banyak keluarga yang benar-benar terbantu.
Jangan Biarkan Anak Berjuang Sendirian
Jajang juga mengajak masyarakat ikut mengambil bagian dalam mencegah terjadinya putus sekolah.
Menurutnya, lingkungan terdekat memiliki peran penting dalam memastikan anak tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan.
Karena itu, ketika menemukan anak yang berhenti sekolah, masyarakat diminta tidak langsung menghakimi ataupun memberikan stigma kepada anak dan keluarganya.
Sebaliknya, persoalan tersebut harus dicari bersama agar solusi dapat ditemukan.
“Kalau kita mengetahui ada anak yang berhenti sekolah, jangan langsung menghakimi. Tanyakan masalahnya, dampingi keluarganya, dan bantu mencari jalan keluarnya. Menyelamatkan satu anak dari putus sekolah berarti ikut menyelamatkan masa depan masyarakat,” kata Jajang.
Bagi Jajang, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang ruang kelas, buku, kurikulum, ataupun gedung sekolah.
Pendidikan adalah tentang masa depan manusia.
Karena itu, ketika kemiskinan menjadi salah satu penghalang seorang anak untuk bersekolah, maka negara dan masyarakat harus hadir mencari jalan keluarnya.
Sebab, membiarkan satu anak kehilangan pendidikan berarti membiarkan satu potensi masa depan ikut hilang. Sebaliknya, menyelamatkan satu anak agar tetap bersekolah dapat menjadi langkah kecil untuk memutus rantai kemiskinan dan membangun masa depan masyarakat yang lebih baik.(*)


