Garutexpo.com – Persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk kebutuhan melaut memicu keresahan sejumlah nelayan di kawasan Rancabuaya, Kabupaten Garut. Merasa kesulitan mendapatkan BBM untuk menunjang aktivitas mencari ikan, para nelayan menggelar aksi damai di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wilayah Pameungpeuk, Jumat (6/11/2026) siang.
Aksi tersebut menjadi bentuk penyampaian aspirasi sekaligus upaya para nelayan untuk memperjuangkan hak mereka dalam memperoleh BBM bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku.
Persoalan yang disoroti bukan hanya menyangkut ketersediaan BBM, tetapi juga mekanisme pelayanan pengisian yang dinilai masih menyisakan kendala. Bahkan, sebagian nelayan mengaku memiliki barcode untuk pengisian BBM, namun status barcode tersebut dinyatakan tidak aktif sehingga mereka kesulitan memperoleh bahan bakar.
Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan nelayan. Pasalnya, BBM merupakan kebutuhan utama untuk menggerakkan perahu dan menunjang aktivitas melaut. Ketika pasokan maupun akses pengisian mengalami hambatan, penghasilan nelayan pun berpotensi ikut terdampak.
Dalam aksi tersebut, salah seorang perwakilan nelayan menyampaikan keberatan atas kondisi yang mereka alami. Ia menegaskan bahwa kedatangan para nelayan bukan untuk meminta sesuatu di luar ketentuan, melainkan memperjuangkan hak agar bisa mendapatkan BBM sesuai aturan.
“Harganya semakin memberatkan. Kami meminta keadilan, kami hanya meminta hak sebagai nelayan. Kami datang untuk menyampaikan tuntutan kami,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia juga berharap lima poin tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut benar-benar didengar dan ditindaklanjuti oleh pihak SPBU maupun instansi terkait.
“Kami nelayan hanya meminta hak kami. Ada lima poin tuntutan yang kami sampaikan. Kami berharap semuanya bisa didengar dan ada penyelesaian yang jelas,” katanya.
Lima Tuntutan Nelayan Rancabuaya
Dalam aksi damai tersebut, para nelayan menyampaikan lima tuntutan utama sebagai berikut:
1\. Kepastian ketersediaan BBM bersubsidi. Meminta adanya jaminan ketersediaan BBM bersubsidi bagi nelayan sesuai ketentuan yang berlaku.
2\. Pelayanan yang transparan dan tepat sasaran. Meminta pengisian BBM bersubsidi bagi nelayan dilaksanakan secara tertib, transparan, dan tidak mempersulit masyarakat yang berhak menerima.
3\. Kejelasan mekanisme penyaluran. Meminta penjelasan terbuka mengenai mekanisme, prosedur, serta persyaratan untuk memperoleh BBM bersubsidi bagi nelayan.
4\. Penyelesaian kendala distribusi dan pelayanan. Mendesak adanya solusi atas berbagai hambatan yang dialami nelayan Rancabuaya, termasuk persoalan barcode yang dinyatakan tidak aktif.
5\. Dialog bersama pihak terkait. Meminta pihak SPBU dan instansi terkait membuka ruang komunikasi dengan perwakilan nelayan guna mencari solusi konkret dan memberikan kepastian pelayanan.
Nelayan Berharap Ada Solusi, Bukan Sekadar Penjelasan
Bagi para nelayan, persoalan BBM bukan perkara sepele. Ketersediaan bahan bakar berkaitan langsung dengan keberlangsungan pekerjaan dan sumber penghidupan keluarga mereka.
Karena itu, mereka berharap aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebatas diterima, tetapi diikuti langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.
Kejelasan status barcode, kepastian kuota, ketersediaan pasokan, hingga mekanisme pelayanan menjadi sejumlah persoalan yang diharapkan segera mendapatkan penanganan.
Aksi damai tersebut berlangsung tertib dan lancar dengan pendampingan serta pengamanan dari jajaran TNI dan Polri.
Para nelayan berharap melalui penyampaian aspirasi ini, pihak SPBU bersama instansi berwenang dapat segera duduk bersama untuk mencari jalan keluar.
Sebab bagi nelayan, BBM bukan sekadar kebutuhan operasional, melainkan urat nadi untuk melaut, mencari ikan, dan menghidupi keluarga. Hak masyarakat nelayan untuk memperoleh pelayanan sesuai ketentuan diharapkan mendapat kepastian.(Acep)


